KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Bimbang


__ADS_3

"Ibu mau bicara tentang apa?? ibu bicarakan sekarang saja lewat telpon jika mendesak".


"Tidak, kamu pulang saja ini penting" Terdengar suara Ibu agak meninggi.


"Iya Ibu, weekand depan Jani akan pulang" Aku menghela napas, sambil melirik ke arah Faisal yang terus menatapku dengan di penuhi kebingungan,


"Ya sudah, Ibu tunggu ya Jani, Assalamua'laikum" Ibu mengahiri telponnya,


"Iya ibu, Waalaikumsalam"


Klik ....


Aku menutup telpon dari ibu, Faisal menatapku lekat,


"Kenapa?? Ibu bilang apa?" Tanya Faisal,


"Tidak tau, cuman di suruh pulang aja,"  Jawabku,


"Ya udah minggu depan aku anter kamu pulang aja, gimana??" Tawar Faisal,


"Gak perlu, aku bisa pulang sendiri" Jawabku dengan ketus.


Jujur aku masih kesal pada Faisal, dan berharap dia akan menjelaskan semua kebohongannya padaku tanpa harus aku minta. Tapi Faisal masih saja bersikap seperti biasa, seolah dia tidak pernah melakukan dosa apapun terhadapku, aku semakin membenci Faisal kali ini.

__ADS_1


Faisal kali ini menjadikan aku manusia yang tidak bijak dan tidak adil akan hidupnya, Tanpa ingin bertanya aku hanya ingin diam. Yang aku percaya hanya apa yang aku lihat dan yang ku dengar. Entah mengapa tapi Aku merasa tidak siap menerima jawaban apapun dari Faisal meski jika dia menjelaskan sesuatu padaku. Faisal pun hanya diam dan terus memainkan ponselnya, entah aktifitas apa yang dia lakukan terhadap ponselnya, membuatku jadi bersuudzan saja. Pasti dia sedang chatingan dengan perempuan lain, begitu fikirku.


"Hmh ... ya udah, kalau gitu aku pulang dulu ya" Pamit Faisal setelah aku melihat dia membalas pesan seseorang,


"Iya ..." Jawabku singkat,


Faisal menghela napas, aku tau dia kecewa atas sikapku, tapi hatiku jauh lebih kecewa telah di bohongi habis-habisan oleh Faisal.


"Assalamu'alaikum Jani" Pamitnya kemudian


"Wa'alaikumsalam," Jawabku dan langsung masuk ke dalam kosan, tanpa ingin melihatnya pergi,


Aku tau ada banyak kekecewaan yang tergambar dari wajah Faisal, tapi kini kebencianku karena kebohongannya jauh sedang menguasai hatiku. Aku melihat kepergian Faisal dari balik jendela kamar kosanku, aku terus mengintipnya hingga dia pergi mengendarai sepeda motor gedenya, aku menarik napas kasar, aku kembali keluar dari kosanku, sepertinya aku butuh banyak oksigen untuk membuang segala kemelut di hatiku.


"Karena Allah sangat mencintai Kakak, karena Allah sangat menyayangi Kakak" Jawab seseorang dari belakangku,


"Eva, ya Allah ... kamu bikin kaget Kakak aja, kamu ngapain malem-malem keluyuran??" Tanyaku, setelah aku tau yang menegurku adalah Eva,


"Kakak, lagi galau yah?? Kakak ngapain ngomong sendiri malem malem??, Aku lagi nyari udara segar Kak, kan besok aku ada ujian di kampus" Jawab Eva, sambil merentangkan ke dua tangannya dan menghirup udara dalam dalam lalu mengeluarkannya.


"Enggak Eva, oh ... gimana kuliah kamu??" Tanyaku,


"Baik Kakak, Kakak lagi sedih??" Tanya Eva memalingkan wajahnya ke hadapanku,

__ADS_1


"Enggak Eva, Kakak gak apa-apa" Jawabku, aku tidak suka curhat tentang masalah apapun kepada siapapun, Entahlah rasanya aku tidak pernah mempercayai siapapun di dunia ini.


"Tapi aku tau, Kakak pasti lagi sedih, kalau Kakak lagi sedih, Kakak lihat aja bintang-bintang itu" kata Eva sambil menunjuk bintang bintang di angkasa, sama seperti ketika aku menunjukkan bintang-bintang pada Eva.


Aku tersenyum pada Eva "Kenapa ???"


"Gak apa-apa, kalau Kakak sedih, terus menghitung bintang-bintang yang tak berhingga itu, Kakak pasti langsung lupa sama kesedihan Kakak" Jawab Eva dengan polosnya, membuat aku jadi geleng-geleng kepala.


"Kenapa bisa begitu Eva?" Tanyaku lagi sambil menahan tawaku,


"Yah Kakak, ya begitulah pokoknya" Jawab Eva sambil mengerucutkan bibirnya,


Aku tersenyum melihat tingkah anak ini, suasana hati remaja memang sulit di prediksi, kadang mereka sering bersikap labil, Mungkin aku juga dulu seperti itu. Mungkin.


Aku masuk ke dalam kamar, setelah berpamitan pada Eva, aku merebahkan diriku di atas kasur, aku menatap langit-langit kamar kosanku, hatiku kini di penuhi kebimbangan yang mendalam.


Aku sungguh bingung kira-kira sikap apa yang harus ku perbuat pada Faisal selanjutnya??


Tiba-tiba saja Ibu menyuruhku pulang, kira-kira ada apa ya?? Tidak seperti biasanya.


Bersambung.......


Jangan lupa vote, like, koment positif, dan bintang lima nya ya readers......makasih

__ADS_1


__ADS_2