KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Kekesalan Ibu


__ADS_3

Hari sabtu aku pulang kerumah, sesuai permintaan ibu tempo hari,


"Assalamualaikum Ibu, Jani pulang" Aku langsung masuk ke dalam rumah, celingukan karena di rumah tidak ada siapapun. Ah ... iya mungkin Ibu dan Indah sedang ada di toko kue kami, yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah kami, aku memutuskan untuk mengeceknya sendiri, aku sudah sangat rindu ibu dan Indah.


"Assalamualaikum, Ibu, Jani pulang kok di rumah gak ada siapa-siapa" Tegurku pada ibu yang sedang memanggang kue di dapur toko kami, aku mencium tangan ibu dan memeluknya penuh kerinduan. Karena akhir-akhir ini hubunganku dengan ibu jadi kurang baik akibat pembangkangan yang ku lakukan, alhasil aku sangat merindukan ibu, sangat, dan sangat.


"Wa'alaikumsalam Jani, iya, ibu kira kamu pulangnya nanti sore, kamu sudah makan??" tanya ibu sambil mengelus kepalaku.


"Belum ibu, Jani rindu pasakan ibu," Jawabku agak manja,


"Ya udah, kita pulang ke rumah, kita masak dan makan bersama" ajak ibu,


"Iya ibu, ini tokonya gimana??? mau di tutup aja??" Tanyaku,


"Iya, di tutup aja nanti biar Indah yang beresin. Yuk kita pulang, kamu udah laparkan??" Ibu menuntun tanganku dan berjalan keluar,


Di perjalanan menuju rumah aku bertemu dengan para tetangga, yang dulu sering menghina kami, tapi sekarang sudah lebih sering menundukkan kepalanya ketika berpapasan dengan kami, karena beberapa tahun terahir, aku sering membantu biaya pendidikan anak-anak mereka.


"Eh Anjani, lagi pulang ya??" Sapa bu Diyah,


"Iya bu, gimana sehat ??" sapaku sambil menjabat tangannya,


"Alhamdulillah baik Jani, oh iya Jani sekarang udah makin dewasa aja ya bu Maya" Kata bu Diyah sambil memicingkan matanya pada Ibuku, Dia memberikan penekanan pada kata DEWASA nya.

__ADS_1


"Iya" Sahut ibu pendek,


"Anjani, kapan nikah? temen-temen seangkatan kamu udah banyak yang punya anak lho, di kampung ini, yang belum nikah seangkatan Jani, ya cuman Jani aja" Jelas bu Diyah yang mebuatku semakin malas mendengarkan ceritanya, jujur aku sangat tersinggung dengan ucapannya. Bu Diyah terus mengabsen nama-nama temanku yang sudah menikah. Kadang aku heran, kenapa mereka jauh lebih tau teman-temanku dari pada aku sendiri.


"Anjani itu masih ingin berkarir bu Diyah, belum kefikiran buat nikah, lagian di kota usia Anjani sekarang masih banyak kok yang belum pada nikah, pada santai aja malahan." Jawabku dengan segala kekesalan membuncah di ujung kepalaku kepada si tetangga yang kurang piknik ini.


"Yah, berkarier sih boleh, tapi inget jangan sampai lupa umur, emangnya Jani mau jadi perawan tua??" Cibir bu Diyah sambil mendelikkan matanya ke arahku.


Sungguh, aku tidak menyukai tetanggaku ini, seringkali aku tidak habis fikir dengan tingkah dan ucapannya, apa tidak ada pekerjaan lain selain menggunjing dan menggosipkan orang???.


"Ya udah bu Diyah kami pamit duluan ya" Tidak ingin melupakan tatakramaku, aku berpamitan pada bu Diyah meski aku kesal setengah mati padanya. Berbeda dengan ibu yang langsung ngeloyor pergi begitu saja.


"Kalau posisinya tidak di pinggir jalan, sudah ibu remes mulutnya Bu Diyah" Kata ibu sambil mendudukan pantatnya di kursi setibanya kami di rumah, aku tau ibu sangat kesal pada bu Diyah tak beda denganku.


"Kamu, bisa ngomong kaya gitu Jani, Ibu, yang mengandung, melahirkan dan membesarkan kamu dengan ke dua tangan ini sendirian, ibu tidak ridho ketika kamu di bicarakan banyak orang, ibu tidak ikhlas ketika putri ibu di gunjing banyak orang, salah kita apa pada mereka?" Mata ibu mulai memerah, ibu melihat kedua telapak tangannya yang dengan kokohnya telah membesarkan kami . Aku dan Indah.


"Ibu, Jani tau ibu kesal pada mereka, tapi Jani mohon ibu, jangan sampai kekesalan ibu bisa mempengaruhi kesehatan ibu, apalagi sampai mengganggu fikiran ibu" Aku terus memeluk ibu sambil menahan air mataku yang akan segera tumpah.


"Dasar manusia tidak tau diri, sudah banyak di bantu pun mereka masih saja tidak tau malu membicarakanmu di belakang kita" Ibu terus saja meracau ke mana-mana.


"Ibu, udah dong, Jani pulang kan rindu Ibu, pengen makan masakan Ibu, bukan mau dengerin gosip murahan para tetangga Ibu," Aku terus mencoba menenangkan Ibu.


Ibu menatapku lekat, aku terus tersenyum pada Ibu, aku ingin senyumku bisa menguatkan hati Ibu kini.

__ADS_1


"Ya sudah, Ibu mau masak dulu, kamu tunggu di sini".


Aku tersenyum dan mengangguk, tanda setuju, aku duduk di ruang tengah dan menyalakan tv. Ah ... aku sungguh rindu suasana rumah, aku ingin tinggal di rumah lebih lama, memang benar, bagaimanapun ke adaan rumah kita akan selalu terasa nyaman. Ketika di rumah aku bisa melupakan masalah pekerjaan, meski tidak jarang, ketika masalah pekerjaan terlupakan malah masalah lain berdatangan, ya seperti masalah tetangga ini.


Ibu sudah selesai memasak, meskipun menunya sangat sederhana, tapi masakan ibu adalah masakan terenak di dunia, menurutku, aku selalu makan lahap jika itu masakan ibu. Apalagi kami makan bertiga, rasanya lengkap sudah bahagiaku.


Setelah makan-makan kami selesai, ibu mengajakku kembali ke ruang tengah, kami bertiga berkumpul bersama. Aku ingat, memang ada yang ingin ibu bicarakan denganku.


"Jani, ada yang ingin ibu sampaikan padamu" Ibu mulai pembicaraannya, hatiku bertanya-tanya, kira-kira apa yang mau ibu katakan padaku??


"Iya ibu, Ibu mau bilang apa??" Tanyaku lembut,


"Anjani, besok kamu harus menemui anak dari teman ibu" Ibu mulai mengutarakan maksudnya,


"Maksud ibu???" Aku mengerutkan dahiku, aku bingung dengan maksud perkataan ibu.


".................."


Bersambung...............


Di sini adakah para readers yang memiliki tetangga yang seperti itu??? hheee


Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya readers, vote, like, komen positif, dan bintang lima nya yaaa,,,,makasih

__ADS_1


__ADS_2