
“Jan, aku boleh ngomong??” tanya Bagas setelah sesi makan kita selesai.
“Boleh, kamu mau ngomong apa??” tanyaku.
“Jan, aku ingin kita bisa memperbaiki hubungan kita, aku mohon kamu jangan diamkan aku lagi ya?” jujur aku sangat kaget dengan permintaan Bagas, aku fikir rumah tanggaku akan hancur dan secepatnya berakhir.
“Aku mohon Jan, maafin semua kesalahan aku, aku janji, aku akan memperbaiki semuanya“ lanjut Bagas yang membuatku semakin terperangah.
“Aku tidak tau Mas“ Aku memang bahagia Bagas bisa mengatakan hal yang ingin aku dengar, tapi aku belum bisa melakukan akhlak Bagas yang begitu minus.
Jika Bagas berselingkuh dengan seorang perempuan, atau mungkin dia minta poligami sekalipun, aku akan bisa mengerti, karena hal seperti itu sangat manusiawi sekali, ketika suami tidak mendapat kepuasan lahir batin dari istri, maka dia akan mencari kepuasan pada wanita lain, aku akan sangat mengerti itu, tapi suamiku?? Dia berselingkuh dengan sesama pria, aku bahkan tidak bisa menamparnya, atau menjambak rambutnya, seorang pria sungguh tidak pantas menjadi rivalku untuk mendapatkan cinta suamiku.
“Aku mohon Jan, aku janji aku akan berubah, kamu mau kan maafin aku?? kita bisa hidup bahagia, punya anak, punya keluarga kecil , setiap manusia tidak ada yang sempurna 'kan Jan??” pintanya dengan wajah memelas.
“Iya, semua manusia memang tidak akan ada yang bisa sempurna, tapi minimal kita bisa untuk tidak terlalu banyak melakukan kesalahan, apalagi kesalahan yang jelas di benci Allah“ jawabku berapi-api.
“Aku mohon Jan, jangan seperti ini, Kita perbaiki semuanya, kita mulai semua nya dari awal lagi ya??” Bagas masih kukuh memintaku untuk tetap di sisinya.
‘Bagas kesambet apa ya?? Kenapa dia tiba-tiba berubah??' batinku bermonolog
__ADS_1
“Jan, aku mohon sama kamu, jangan biarkan rumah tangga kita hancur“ mata Bagas mulai berkaca-kaca.
“Baiklah Mas Bagas, aku akan memberi kamu kesempatan, tapi berjanjilah Mas, kamu harus berusaha untuk berubah, jangan mengulangi kesalahan yang sama“ putusku akhirnya, aku harus memberi kesempatan pada Bagas sekali lagi. Jika dulu aku bisa memberi kesempatan pada orang lain, maka aku juga akan memberi kesempatan pada suamiku.
Bagiku rumah tangga ini bukan permainan, aku harus bisa memperjuangkannya, meski pahit, meski kecut, meski asem. Tapi aku harus menelannya sendiri.
Bagas menggenggam tanganku erat, lalu tersenyum padaku,
“Makasih ya Jan, aku tau kamu adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal“ kata Bagas penuh dengan semangat.
“O ya?? Bukannya pacar kamu yang ingin kamu nikahi itu, perempuan terbaik kamu Mas?” tanyaku sambil tersenyum kecut, tiba-tiba saja terngiang ucapan Bagas di malam pertama kami dulu.
Aku tersenyum sambil memalingkan wajah, masa lalu itu masih melekat jelas di ingatanku.
Setelah selesai makan, dan membayar tagihannya, kami memutuskan untuk pulang, Bagas terus menggandeng tanganku sambil sesekali memandangiku, entah apa yang sudah merubahnya, aku tidak tahu, tapi yang jelas aku sangat bahagia kini. Allah begitu baik karena telah mengabulkan setiap do'a-do'aku, apa sekarang aku akan mengecap manis, dan menerima ganjaran sabarku??.
Gubraaakkkkk!!!
Aku terjatuh, karena saking bahagianya aku tidak fokus menatap jalan, hingga aku menabrak orang di depanku.
__ADS_1
“Jan, kamu tidak apa-apa??” Bagas langsung membantuku untuk berdiri kembali.
“Awwww ... aku tidak apa-apa” Aku meringis karena bokongku terbentur cukup keras di lantai.
Aku menoleh orang yang aku tabrak juga dan berusaha menghampirinya, ternyata dia seorang pria, aku mencoba membantunya untuk berdiri dan meminta maaf.
“Aduh maaf ya Mas, saya gak sengaja“ pintaku sambil berjongkok.
“Iya gak apa-apa Mbak“ jawabnya sambil berdiri.
“Loh?? Anjani 'kan???” tanya pria itu membuatku kaget, dan langsung menatapnya dengan lekat.
“Siapa dia?? Kamu kenal?” tanya Bagas sambil menggenggam tanganku erat.
“Anwar??? Iya kamu Anwar 'kan???” tanyaku tak percaya.
Bersambung ...........
Jangan lupa dukungannya ya readers, tetep like, komen, star five dan vote sebanyak banyak nya yaaaa....author tunggu lho....makasih....
__ADS_1