
Apa arti bahagia bagimu???.
Bagiku bahagia adalah kebersamaan, hidup bersama orang yang kita cintai, hidup bersama orang yang mencintai kita, hidup tanpa penghianatan, dan bagiku bahagia adalah rasa syukur.
Jika tidak ada lagi cara untuk mencari kebahagiaan yang kamu inginkan? Apa yang akan kamu lakukan??.
Maka aku akan hidup dengan rasa syukur.
Apabila ada satu pilihan untuk berkorban, apa yang akan kamu korbankan??.
Aku sendiri.
Apabila ada kesempatan untuk memutar kembali hidup kamu, apa yang akan kamu lakukan??.
Aku tidak akan menginjakkan kakiku di tempat yang sama, aku tidak akan menerima cinta Faisal, itu adalah masa lalu yang sangat ingin ku ulang, dan aku ingin mengubahnya.
Waktu yang tertulis begitu terukur dan panjang, waktu yang bercerita seakan tak pernah berhenti, ditengah persimpangan yang gersang dan membukit, di sisi pagar berduri atau tanpa gubuk berteduh, namun waktu berkilah, tersenyum penuh kesabaran, disana dia tengah mengkisahkan legenda, dan nama-nama mulai tercipta, dimana angan adalah harapan, dimana jalan yang tertempuh adalah perjuangan, dimana kebohongan adalah sibak yang membuka, dan diri yang tertatih adalah yang terpisah oleh waktu, oleh langit yang merestui.
Aku menatap perempuan yang dari tadi mengajakku bicara, dia tersenyum lembut padaku, aku membalas senyumnya.
“Kau tau Anjani?? Ada satu hal yang selalu di impikan oleh orang-orang yang tengah menyesal“.
“Apa itu??”
“Kesempatan“
“Tapi, aku tidak butuh kesempatan, aku rasa hidupku sudah cukup, aku sudah menyelesaikan semua tugasku, aku sudah lelah“ jawabku.
“Semua orang menginginkan kesempatan Anjani, tapi kenapa kamu tidak ingin diberi kesempatan??” tanyanya menatapku.
“Bukankah semuanya sudah selesai??” tanyaku.
“Belum Jan, semuanya belum selesai, kembalilah".
“Tidak, aku tidak ingin kembali, aku ingin disini" jawabku.
“Tidak, sudah saatnya kamu kembali, ada nyawa lain yang harus kamu perjuangkan“.
Aku menunduk, sungguh hatiku begitu berat, aku tidak menginginkan kesempatan.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum, lalu menepuk bahuku, “Anjani, mulailah hidupmu yang baru”
Perempuan itu mulai berjalan, terus menjauhiku, jauh ... jauh ... jauh ... hingga aku tidak bisa melihatnya.
Aku mengerjapkan mataku, ku edarkan pandangan, mencerna apa yang telah terjadi, kerongkongan terasa kering, aku mencoba bangkit, tapi kakiku terasa ngilu dan sakit, bukan hanya kaki, tapi juga tubuhku terasa remuk, aku menoleh kesamping, terdapat beberapa obat yang aku sendiri tidak tahu, obat apa itu.
Trek ... trek ... trek ...
Aku berusaha mendengar suara yang berasal dari luar ruangan ini, ruangan ini, aku ada dimana?? Kuedarkan pandanganku, rumah ini seperti rumah panggung biasa, karena ubinnya terbuat dari papan, aku menatap dindingnya yang juga terbuat dari papan kayu, ada sebuah kaligrafi berlafadz Allah, bertengger dengan cantik disana.
“Aku ada dimana?” gumamku, kemudian mencoba bangkit, kuraih gagang pintu dan mencoba membukanya,
“Ah susah, apa ini dikunci dari dalam ya?? Apa aku diculik? Tapi kenapa aku merasa tidak ada yang kurang dengan diriku??” Aku kembali duduk ditepi ranjang, aku mencoba mengingat semua yang terjadi sebelum semua ini terjadi.
Kkkkrrriiieettt ...
Suara pintu dibuka, aku menoleh, tampak seorang perempuan paruh baya, tersenyum menghampiriku.
“Kamu sudah sadar nak?” tanya si Ibu sambil duduk di sampingku, aku melihat ada ketulusan dari senyuman yang si Ibu tunjukkan.
“Sudah bu, saya ada dimana??” tanyaku masih linglung.
“Kecelakaan?? Iya saya mengalami kecelakaan, sudah berapa lama saya tidak sadarkan diri??” tanyaku yang mulai mengingat semuanya.
“Satu minggu, kamu sengaja kami rawat, karena kebetulan puskesmas untuk menampung orang-orang yang kecelakaan penuh, jadi kamu, kami rawat dirumah kami, karena kebetulan putra kami yang merawat kamu adalah seorang mantri di puskesmas tersebut“ jelas si Ibu membuatku mengerti dan rasa takutku sedikit berkurang.
“Begitu ya bu? Lalu apa yang terjadi?” tanyaku penasaran.
“Yah, kamu koma selama satu minggu itu, dan anak Ibu merawatmu disini,“ jelasnya lagi.
“Lalu bagaimana dengan yang lainnya??” tanyaku penasaran.
“Korban yang lainnya sebagian sudah dipulangkan, sebagian lagi jenazahnya sulit ditemukan, karena tak lama waktu berselang, bus yang kamu tumpangi meledak“ jelas si Ibu, membuatku merasa ngeri, juga takut, sekarang aku jelas faham, bagaimana rasanya berada di ambang maut.
“Kamu harus bersyukur Nak, karena kamu dan bayi yang kamu kandung selamat“ Si Ibu mengelus perutku.
“Iya, apa?? Saya hamil???” tanyaku kaget, aku hamil?? Sejak kapan?? Kenapa lagi-lagi aku tidak menyadarinya.
“Iya, anak saya bilang kamu sedang hamil, tapi entah berapa minggu, itu sebabnya kamu dirawat intensive disini“ jelas si Ibu.
__ADS_1
Hamil, itu artinya aku akan punya anak, dan Anwar akan jadi Ayah?? Sebentar, Anwar apa dia mencariku?? Apa dia mencemaskanku?? Ah ... aku rindu Ibu, Ayah, Indah, tapi Anwar?? Urusanku dengannya belum selesai, ada hal yang belum aku tuntaskan dengannya.
“Iya, kata anak saya, kandunganmu begitu lemah nak, makanya kamu harus banyak istirahat“ Si Ibu tersenyum lembut padaku.
Aku hanya terdiam, aku tak mampu mengekspresikan perasaanku sendiri, entah apa yang harus kukatakan lagi.
“Nak, kalau boleh tahu, siapa namamu??” tanya Si Ibu, yang baru kusadari kami memang tidak saling mengenal satu sama lain, tapi beliau begitu baik, sudah mau merawatku selama ini.
“Anjani, nama saya Anjani bu“ jawabku sambil menjabat tangan si Ibu.
“Baik, kalau begitu nak Anjani bisa memanggil Ibu, bu Retno, dan suami Ibu namanya Pak Giman“ Bu Retno menggenggam tanganku erat.
“Lalu putra Ibu siapa namanya?” tanyaku penasaran, pada seorang mantri puskesmas yang sudah menolongku dengan sangat ikhlas.
“Putra Ibu namanya Randi“ jawab Bu Retno sambil tersenyum bangga.
“Randi???” tanyaku sambil mengingat-ingat, rasanya aku pernah mendengar nama itu.
“Iya“ jawab Bu Retno meyakinkan.
“Putra Ibu baik sekali, sudah menolong saya, sekali lagi terimakasih banyak ya bu“ Aku memeluk bu Retno penuh dengan rasa haru.
“Sama-sama nak Anjani, Randi juga sangat senang bisa menolong nak Anjani“ Bu Retno tersenyum penuh arti.
“Nanti saya bisa bertemu dengan Randi putra ibu kan?” tanyaku menatap perempuan di hadapanku penuh harap.
“Tentu saja, nak Anjani akan bertemu dengan Randi“.
“Ibu, sebenarnya saya ini ada di daerah mana??” tanyaku tiba-tiba, hanya satu hal yang aku inginkan, aku ingin pulang, aku sungguh rindu keluargaku, tapi terbersit rasa bimbang pula dihatiku, bagaimana sikapku selanjutnya pada Anwar??.
Aku sedang mengandung anaknya kini, apa aku harus memaafkannya?? Atau aku harus berpisah dengannya???.
Ya Allah ... tolong bantu aku ...
Bersambung.....
Hay readers, jangan lupa lho yaaaa...dukungannya buat author....
readers, tiba tiba aja, rating buku ini turun drastis, jangan setega itulah, ngasih rating rendah sama uthor, author jadi sediiihhh....tolong bantu naikin lagi ratingnya yaaaa.....
__ADS_1