
Faisal Aditia POV
Hari ini aku ingin mengantarkan kekasihku yang baru saja pindah bekerja ke kota kelahiranku, aku bahagia karena sebentar lagi aku akan mengikuti jejaknya untuk bisa pindah kerja ke kota tempat keluargaku berada.
Ayah dan Ibuku sudah berpisah dari semenjak aku kecil, aku tumbuh dengan ketidak lengkapan kasih sayang Ayah dan Ibuku, Ayah sibuk dengan perempuannya, dan Ibu sibuk dengan para lelakinya.
Sejak kecil aku lebih sering di titipkan pada tetangga, jadi aku lebih cocok di bilang anak tetangga dari pada di bilang anak Ayah dan Ibuku. Hingga aku sangat membenci kedua orangtuaku yang tidak pernah tau apa fungsi dari orangtua.
Aku ingin membalas semua perlakuan mereka lewat perempuan yang sering aku gauli. Semua perempuan sama seperti Ibuku, dan semua pria sama seperti Ayahku, mereka selalu serakah, dan tidak akan pernah cukup jika hanya dengan satu orang saja.
Setibanya di kantor Sintia kekasihku, aku menungguinya masuk ke dalam ruangan pimpinan barunya, aku menunggunya sambil duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan bos Sintia, aku mengedarkan pandanganku, kantor ini tidak besar, tapi juga tidak kecil, cukup untuk menampung puluhan karyawan yang bernaung di bawahnya.
Tapi, seketika pandanganku menangkap sebuah pemandangan yang sangat menyejukkan mataku, aku melihat ada seorang karyawaty yang tengah sibuk berkutat di depan komputernya, dia tidak menoleh ke kiri atau pun ke kanan, dia hanya fokus ke depan layar, dia terlihat amat cantik dan manis di pandangan mataku, dia menggunakan hijab dan memoles wajahnya hanya dengan makeup yang tipis, tapi tidak mengurangi ke ayuannya. Aku terus menatapnya di kejauhan. Naluri ke playboyanku muncul, aku ingin menjadikan dia milikku. Entah bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Aku melihat Sintia keluar dari ruangan bosnya dan mendekati gadis yang dari tadi ku pandangi tanpa rasa bosan, Sintia mengulurkan tangannya dan Dia pun menerima uluran tangannya sambil tersenyum, ah ... senyumnya sangat manis sekali, hatiku menjadi semakin menggebu bahkan hanya dalam satu kali pandanganku saja.
Tanpa sengaja dia menatapku sekilas, kemudian menundukkan pandangannya, setelah Sintia melambaikan tangannya padaku, mereka terlihat berbicara, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi, oh tuhan, dia tersenyum padaku, dan memanggutkan kepalanya padaku. Seketika aku terkesima. Aku membalas senyumannya, dengan senyuman terbaik yang ku miliki.
Setiap hari minggu aku selalu mengunjungi Sintia di kosannya, aku teramat bahagia setelah tau ternyata Sintia memilih kosan yang sama dengan Anjani, iya gadis itu namanya Anjani, itu yang ku tau dari setiap
cerita-cerita Sintia, nama gadis itu terus terngiang di telingaku, aku ingin mengenalnya lebih dekat lagi, tapi aku tidak tau bagaimana cara memulainya, aneh memang untuk ukuran pria berpengalaman sepertiku harusnya dengan mudah aku bisa menaklukannya, tapi kini ada rasa segan di hatiku.
Aku akui aku telah memanfaatkan Sintia sebagai umpan untukku bisa mendekati Anjani, Aku tau meskipun mereka tidak terlalu dekat, tapi mereka berteman dengan baik, akan sulit bagiku mendekati gadis ini, karena
Hingga di suatu hari minggu, aku memutuskan untuk mengunjungi Sintia, dan membawa banyak makanan, biasanya seorang gadis akan luluh hanya dengan di beri sebatang coklat, atau setangkai bunga.
Aku yakin, Anjani pun gadis seperti demikian, Aku meminta Sintia untuk mengajak Anjani agar mau makan bersama kami, berharap aku bisa menggali informasi lebih mengenai kepribadiannya.
__ADS_1
Tapi misi pertama gagal, meski di sogok oleh seabrek makanan, dia masih tetap kukuh dengan kepribadiannya yang dingin dan masa bodoh terhadap tingkah orang lain, aku merasa amat penasaran, aku sulit tidur,
tidak enak makan, hanya karena memikirkan bagaimana caranya agar hati Anjani bisa luluh dengan cepat. Aku memiliki ide, aku bertukar ponsel dengan Sintia dengan tujuan agar aku bisa tau nomor ponselnya Anjani. Dan berhasil, aku mendapatkannya.
Aku terus menimang-nimang, kira-kira kata-kata apa yang pantas untuk mengawali percakapanku, untuk pertama kalinya aku merasa kaku ketika menghadapi perempuan.
Belum aku menghubungi Anjani, aku menerima kenyataan pahit, aku di hianati oleh Sintia, pagi tadi aku melihat Sintia di bonceng oleh seorang pria, ketika aku mau menemui nya di kosannya. Aku penasaran, kira-kira Sintia mau pergi ke mana??.
Aha!!! aku kini memiliki alasan untuk menghubungi Anjani, aku berpura-pura menanyakan ke adaan Sintia saja, Aku
merasa justru penghianatan Sintia adalah anugrah bagiku, Tuhan seolah sedang berbaik hati padaku, kali ini Tuhan mendukungku. Aku sudah biasa mendapat kemudahan untuk mendapatkan perempuan yang ku inginkan.
Ketika aku mengirimkan pesan kepada Anjani, aku sedikit menelan pil pahit lagi, lagi-lagi sikapnya begitu dingin, aku tidak suka ini, aku tidak suka di tolak dan di perlakukan dengan sikap dingin, setelah Sintia ketahuan korupsi dan pergi dengan kekasihnya, aku menjadi semakin leluasa untuk mendekati gadis pujaanku, jika dulu aku bisa berkencan dengan tiga atau empat wanita sekaligus, kini aku hanya fokus untuk mendekati
__ADS_1
seorang gadis. Aneh memang rasa penasaranku cukup tinggi pada gadis ini, apalagi ketika Sintia bilang Anjani belum pernah berpacaran, Aku sangat kagum padanya yang masih dengan setia kepada Tuhannya, untuk mempertahankan kesuciannya. Fiks aku harus segera mendapatkannya.