KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Ujian Rupa


__ADS_3

“Mari pak Anwar“ Laura dengan centilnya masih saja menatap suamiku.


“Iya, silahkan“ setelah pergi Anwar kembali masuk kedalam ruangan dan duduk di sampingku.


“Kenapa??” sapanya sambil menyentuh pipiku.


“PANAS!“ jawabku sambil menyibakkan jilbab yang kugunakan.


“Heeee ...” Anwar terkekeh, yang membuatku langsung mendelik.


“Bentar ya, aku kencengin dulu Acnya,“ Anwar meraih remote AC yang padahal dia faham, bukan itu yang kumaksud.


“Kamu, seneng amat berduaan sama Laura, sekertaris kamu kemana??” tanyaku mulai membuka suara.


“Hhee ... Andi kan lagi istirahat Jan,“ jelasnya


“Aku gak berduaan kok, tadi banyakan meetingnya, cuman karena ada dokumen yang tertinggal, jadi Laura balik lagi kesini, buat ngambil dokumennya“ lagi Anwar menjelaskan.


“O ya??” Aku menatapnya dengan penuh keraguan.


“Iya“ jawabnya “Sekarang masih kepanasan?” tanyanya sambil tersenyum.


“Masih,“ jawabku tetap cemberut.


“Kamu cemburu??” tanyanya tiba-tiba.


“Menurut kamu?”.


“Hee ... maaf karena telah membuatmu cemburu dan ...” suara Anwar terhenti.


“Dan apa??” tanyaku menatapnya dengan tatapan membunuh.


“Dan Kepanasan hhee” Anwar terkekeh setelah menekankan suaranya.


Aku hanya mendelik, dan mulai membuka bekal makan siangnya.


“Kamu mau jalan-jalan??” tawarnya, aku tau, dia hanya tidak ingin melihatku terus kesal.


“Mau“ jawabku singkat, sambil terus mengunyah.


“Kamu mau kemana?” tanyanya lagi.


“Ke Mall" jawabku, ah ... belanja merupakan salah satu cara untukku bisa melupakan masalah akhir-akhir ini, sering aku pergi kepasar, lalu membeli perlengkapan dapur, hanya untuk melepas kesepianku kala Anwar tidak ada dirumah, bisa beradu tawar dengan pemilik ruko, adalah kesenangan tersendiri bagiku.


“Baik, kita ke Mall, kamu beli apa aja yang kamu mau ya“ Anwar tersenyum padaku yang masih cemberut.


“Hmmhhtt, aku cuman mau beli kebutuhan rumah aja, yang stocknya sudah mulai abis“ jawabku datar, masih tidak terima Anwar bisa tersenyum pada perempuan lain, selain aku. Nyesekk aja rasanya. Pengen nampol pake bibir, eh.


“Iya, aku tahu, kamu bukan perempuan yang suka menghamburkan uang, itu sebabnya aku nikahin kamu“ Aku mengedikkan bibirku kala mendengar pengakuannya.


“Ya udah, kita berangkat sekarang aja ya“ ajaknya sambil meraih jasnya kemudian menggunakannya.


“Iya deh,“ jawabku sambil berdiri, dan berjalan mendahului Anwar.


Siang ini cuaca begitu panas, entahlah, panas karena suhu udara, atau panas karena barusan melihat pemandangan yang tidak kusukai, mobil melaju menuju tempat yang dituju, sebuah Mall yang lumayan besar di kota ini, setelah tiba aku segera turun dari mobil, dan berjalan menuju pintu masuk.

__ADS_1


“Jan, jangan marah terus dong, kan aku beneran gak ada hubungan apa-apa dengan Laura“ jelas Anwar, sambil mensejajari langkahku, aku masih diam. Yah begitulah perempuan, mungkin sudah kodratnya, jika cemburu seringnya tidak tau tempat.


“Aku gak marah“ lagi aku berdalih, padahal dalam hati udah gedek banget.


“Ya udah kalau gak marah, yuk kita kesana“ ajak Anwar sambil menunjuk toko pakaian lengkap dengan hijabnya, sementara aku masih tetap terdiam, Anwar bukannya aku terus dirayu biar gak marah lagi, tapi malah nunjukin toko baju, dasar gak peka.


“Iya,“ jawabku datar, sementara Anwar hanya tersenyum, ah suamiku memang selalu mengerti aku dalam keadaan apapun.


“Nah, kamu mau baju yang mana??” tanya Anwar sambil melirik beberapa pakaian dengan harga selangit menurutku.


“Kamu mau yang ini???” tanyanya menunjukkan sebuah baju dengan design yang mewah.


Aku menggelengkan kepala “Enggak,“ jawabku.


“Ya udah, kamu mau yang mana terserah kamu“ Anwar masih tetap sabar menghadapi tingkahku.


Tiba-tiba aku melihat, sebuah baju dengan warna dan model yang menurutku lucu.


“An, lihat deh, ini bagus gak??“ tanyaku sambil menunjukkan baju yang tadi aku lihat.


“Iya bagus,“ jawabnya manggut-manggut.


“Eh tapi ini juga bagus“ lagi, aku menanyakan pendapat Anwar.


“Iya, bagus juga yang ini“ jawab Anwar antusias.


“Menurut kamu, aku beli yang ini, atau yang ini??” Aku menunjukkan kedua baju yang ingin aku pilih.


“Kayaknya yang ini deh,“ Anwar menunjukkan baju pertama yang aku pilih.


“Ah, tapi menurutku, aku mau beli yang ini aja deh“ Aku menunjukkan baju yang sebelumnya Anwar pilihkan untukku.


Bruuukkkk ...


”Aduh!!!“ Aku menghentikan aktifitasku memilih pakaian, aku menoleh kesamping, ternyata Anwar di tubruk seorang perempuan cantik.


“Eh, maaf Kak,“ Si gadis membungkuk pada Anwar sambil kicep-kicep, mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menganga.


“Iya, gak apa-apa“ jawab Anwar sambil tersenyum.


“Kakak, boleh kenalan gak?” Si gadis mengulurkan tangannya, sementara Anwar hanya tersenyum, sambil menatapku, dia menelungkupkan tangannya di dada, sambil manggut sopan.


“Maaf dek,“ kata Anwar sambil memegang tanganku, lalu menjauh dari gadis tadi.


“Maaf yah, kamu udah ambil baju yang tadi kamu mau kan??” tanya Anwar kemudian.


“Gak jadi,“ jawabku sambil berlalu.


“Loh?? Kok gak jadi sih??” Anwar mengerutkan keningnya.


“Aku udah gak selera“ jawabku sambil hendak berlalu.


“Eit,“ Anwar menahan tanganku sambil mengedipkan matanya.


“Udah dong, jangan ngambekan lagi, kamu kenapa sih?? Sensi terus?? Kamu gak lagi PMS kan??” tanyanya yang membuatku semakin malas mendengarnya.

__ADS_1


“Kamu, jangan tebar pesona terus dong“ Aku memanyunkan bibirku.


“Aku gak tebar pesona Jan,“ Anwar mengusap kepalaku lembut.


“Hmht,“ jawabku, entah ada apa dengan hatiku hari ini, tapi rasanya sangat jengkel sekali, kala melihat Anwar di goda perempuan lain, hhuuhh ... ternyata akupun hanya wanita biasa, sekuat apapun imanku, tapi ketika melihat suamiku di goda perempuan lain, aku tidak bisa terima.


“Ya udah, sekarang kamu mau kemana lagi?” tanya Anwar masih dengan mode lembut.


“Aku mau pulang aja“ jawabku.


“Ya udah, yuk kita pulang, tapi kamu jangan cemberut lagi ya??” Anwar menggandeng tanganku, kemudian kami berjalan beriringan.


“Eh, mas tunggu ...” tiba-tiba suara seorang perempuan menahan langkah kami.


Aku memutar tubuhku “Apa??? Mau minta kenalan sama suami saya??” tanyaku sewot.


“Oh, bukan Mbak, maaf, saya mau tanya ini ponsel Mas 'nya bukan ya??” tanya seorang perempuan, yang ternyata adalah pelayan toko tadi, yang sempat kami kunjungi.


“Ah, iya ini ponsel saya, makasih banyak ya Mbak, maaf untuk kesalah fahamannya“ Anwar meminta maaf pada perempuan itu, sementara aku hanya menunduk malu.


“Ah, iya tidak apa-apa Mas, wajar kok, Mbaknya salah faham, habis Mas 'nya ganteng sih“ jawab si pelayan sambil senyam senyum, kemudian berlalu.


“Apa???” Aku mengangkat kepalaku.


“Udah Jan, yuk kita pulang“ Anwar segera menggandeng tubuhku.


“Menyebalkan“ Aku menggerutu.


“Istighfar Jan, gak baik kayak gitu terus“ Anwar mengingatkanku.


“Astagfirullah, maafkan aku untuk hari ini An“ Aku merunduk, merasa bersalah, tapi hatiku masih saja terasa panas.


“Iya gak apa-apa sayang, aku seneng kamu cemburu“ Anwar menatapku lembut.


“Kamu segitu cintanya ya sama aku??” lanjut Anwar.


“Enggak,“ jawabku sambil berlalu mendahului Anwar.


“Maha suci Allah, yang menciptakan perempuan ...“


“Apa?? Kamu mau bilang kalau aku labil??” Aku kembali menoleh kebelakang, menatap Anwar yang sedang menutup mulutnya.


“Hhee, enggak sayang“ Anwar terkekeh.


Aku diam di tempat, Anwar mendekatiku kemudian kembali memeluk bahuku.


“An, ternyata aku baru sadar kalau kamu tampan“ Aku ku jujur.


“Hhheee ... kamu mau sadar aku tampan aja lama banget“ Anwar kembali terkekeh.


“Dan aku juga baru sadar kalau tampannya kamu itu, jadi ujian bagiku“ Aku tersenyum menatapnya “Sekali lagi maafin aku ya“.


“Iya sayang, gak apa-apa , yuk kita pulang“ Ajak Anwar sambil melangkahkan kaki.


Kami 'pun berlalu meninggalkan mall, dengan hati dan perasaan masing-masing, sungguh rupa tampan suamiku, membuatku menjadi tidak bisa menjadi diriku sendiri. Ah ... ini sungguh ujian yang nyata bagiku.

__ADS_1


Bersambung........


Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.....


__ADS_2