
Hari ini, aku memanggil petugas kebersihan sebanyak dua orang, via aplikasi, aku tugaskan mereka untuk membereskan dan membersihkan kamar putraku, merasa trauma, karena kemarin putraku, tiba-tiba saja sudah berada di kolong ranjang dengan mulut dan tubuh penuh debu, aku merasa amat shock, kenapa rumah ini hanya bersih di tempat-tempat yang terlihat saja?? Ah ... aku tahu, Bi Lastri sangat kewalahan ketika membersihkan rumah ini sendirian, aku berinisiatif sendiri memanggil petugas kebersihan, agar kejadian kemarin tidak terulang kembali.
Hari ini, rumah cukup sepi, Anwar berangkat kerja, dan Tiwi juga berangkat kerja, di rumah hanya ada aku, Bi Lastri, dan kesayangan aku Fadli. Juga dua orang tukang bersih-bersih tadi.
“Ibu, maafkan segala kelalaian Tiwi“ Bi Lastri memohon maaf padaku, meski sudah berulang kali aku mendengarnya.
“Iya, gak apa-apa Bi“ Aku tersenyum lembut, pada perempuan paruh baya di hadapanku, terlihat jelas rasa lelah di wajahnya.
“Maafkan saya juga, karena telah mengecewakan Ibu, hingga Ibu harus memanggil petugas kebersihan, padahal saya di gaji cukup tinggi disini“ Bi Lastri menundukkan wajahnya.
“Gak apa-apa Bi, saya mengerti kok, lagian saya juga dulu gitu kok, gak bisa seharian membereskan rumah ini sendirian, entahlah, kenapa Anwar membuat rumah sebesar ini, padahal hanya di huni oleh kita berdua“ Aku tersenyum, jika mengingat tingkah suamiku.
“Ibu, senang ya punya suami kayak Bapak, Bapak orang yang sangat baik“ Bi Lastri menerawang, entah apa yang dia bayangkan.
“Alhamdulillah“ jawabku.
“Andai saya dulu punya suami sebaik Bapak, pasti hidup saya tidak akan seperti ini bu“ aku Bi Lastri.
“Maksudnya??” Aku mengerutkan dahi.
“Yah, dulu saya menikah pertama kali bukan dengan Ayahnya Tiwi bu, tapi dengan pria lain“ Bi Lastri mulai membuka ceritanya.
“O ya??” Aku tersentak, sederet masa lalu hidupku, kembali terbayang, akupun ketika menikah dengan Anwar, bukan gadis.
“Iya bu, pernikahan pertama saya gagal bu, karena suami saya yang dulu adalah pemabuk, dan penjudi“ jelas Bi Lastri.
“Astagfirullah“ Aku menutup mulutku, setidaknya mantan suamiku bukan orang yang seperti itu dulu.
“Lalu, saya kembali menikah dengan Ayahnya Tiwi, tapi ternyata juga gagal bu, pilihan saya salah“ air mata Bi Lastri sudah mengembun.
“Bi, yang sabar ya“ Aku mengelus bahu Bi Lastri.
“Ayahnya Tiwi bukan orang yang baik bu, dia sering mempermainkan perempuan, dia pezina, saya sudah terlalu lelah terus di khianati“ Bi Lastri mulai sesenggukan.
Aku menarik napas panjang, aku bersyukur, di antara deretan para mantan, tidak ada yang seperti, ah ... iya, kecuali Faisal. Tapi aku amat bersyukur, bisa terlepas dari manusia seperti Faisal. Meski dulu aku pernah meratapinya, menyalahkan takdir, atas segala derita yang ku terima, tapi Allah itu maha baik, menjauhkan kita dari orang yang salah, untuk mempertemukan kita dengan orang yang jauh lebih baik.
__ADS_1
“Mungkin, itu sebabnya Tiwi tumbuh jadi anak yang seperti itu, keras kepala dan susah di atur bu, saya pun sudah sangat lelah mengurus Tiwi bu“ Bi Lastri terisak.
Sungguh?? bahkan seorang Ibu bisa lelah dalam menghadapi anaknya??? Ternyata kehadiran anakpun bisa jadi ujian bagi orangtua, begitupun dengan aku, aku juga pernah mengalami berjuang ketika menjadi seorang Ibu, yah ... meskipun sekarang putraku, tumbuh menjadi anak yang pintar, lucu, dan menggemaskan.
“Yang sabar ya Bi“ Aku terus mengelus bahu bi Lastri.
“Saya juga tidak ingin hidup seperti ini bu, saya ingin memiliki anak yang shalihah, anak yang baik-baik, bukan anak pembangkang seperti Tiwi“ Bi Lastri masih terisak.
Yah ... begitulah harapan semua orangtua di muka bumi ini, ingin menjadikan anaknya yang terbaik dalam segala hal.
“Ah, maaf bu saya jadi curhat“ Bi Lastri menyeka air matanya.
“Gak apa-apa, aku malah seneng kalau Bibi mau cerita sama aku, minimal dengan curhat beban kita akan berkurang lima puluh persen Bi“
“Bibi kan sudah menjadi keluargaku, jadi jangan sungkan ya“ lanjutku.
“Iya, makasih bu“
“Sama-sama“ jawabku.
“Ah iya, terimakasih, ini uangnya“ Aku memberikan uang dua ratus ribu kepada mereka.
“Dan ini buat ongkos kalian“ Ku tambahkan uang seratus ribu, dengan pecahan lima puluh ribuan.
“Terimakasih banyak bu“ jawab mereka kompak.
“Iya sama-sama“
“Kalau begitu, saya permisi dulu ya bu“ Mereka memundurkan langkah, kemudian pergi menuju pintu keluar.
Aku mengantarkan mereka hingga kedepan teras rumah. Lalu memutar tubuhku untuk masuk kedalam rumah.
“Hay Kakak!!” terdengar suara cempreng khas orang yang kukenal.
Kuputar kembali tubuhku, menoleh pada orang yang memanggilku.
__ADS_1
“Indaaahhh!!!” Aku menyambut Indah dan anaknya, kami berpelukan saling melepas rindu.
“Halo Mamih“ Indah mengacungkan tangan putrinya, yah ... Indah sudah melahirkan bayi perempuan, yang mereka beri nama Clara.
Hidung mancung, bulu mata lentik, alis berderet rapi, kulit putih, dan bibir pink, itulah Clara, anak itu sungguh menuruni fisik Ayah dan Ibunya.
Clara, selalu di biasakan memanggilku dengan sebutan Mamih, entah kenapa?? Tapi aku mengikuti gaya mereka saja.
“Hay sayang, apa kabar?? Kenapa jarang main kesini??” Aku menciumi pipi Clara dengan gemas, dan seperti Fadli, anak itupun suka sekali tersenyum.
“Ayo Clara kita masuk“ Aku menggendong tubuh Clara, mengambilnya dari pangkuan Indah, lalu mengajaknya ke kamar Fadli, yang baru saja di bersihkan.
“Kamarnya bening amat kak“ protes Indah sambil berkeliling di kamar Fadli.
“Iya, baru aja aku bersihin“ jawabku sambil menidurkan Clara, hingga Clara dan fadli kini terbaring bersama, berceloteh bersama, entah apa yang mereka katakan, mungkin mereka sedang mengobrol.
“Kakak yang bersihin??” tanya Indah.
“Bukan, aku manggil jasa orang, via aplikasi“ jawabku, sambil memberikan mainan berbentuk bulat pada Clara.
“Loh?? Bukannya ada Bi Lastri yah??” tanya Indah.
“Iya, tapi bi Lastri udah capek, seharian bantuin aku, ngerjain yang lain“
“Nah, ini nih, resikonya punya rumah kegedean, jadi susah bersihinnya kan??” Indah mendelik.
“Hah, ya jangan salahin Kakak dong, salahin aja Kakak ipar kamu itu“ Aku mendengus.
“Hih, mana berani aku kak, ngomong sama Kak Anwar, bisa-bisa aku di tabok, terus Clara gak di kirimin mainan lagi“ Indah terkekeh, yah begitulah Anwar, dia selain perhatian pada Fadli, juga perhatian pada Clara, jika Fadli di belikan mainan baru, kadang Anwar juga sering membelikan Clara mainan baru.
“Ya udah, makanya diem aja, kamu manut aja dengan segala keputusan Kakak iparmu itu“ Aku ikut terkekeh.
Bersambung....................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gengs.....author tunggu lhoo...
__ADS_1