
Sinar matahari pagi, sudah tak sungkan lagi menyapa, semua orangpun sudah sibuk dengan pekerjaannya masing masing, sebelum matahari terbit dari timur, aku sudah terjaga, melakukan beberapa aktifitas penting, sebagai seorang Ibu rumah tangga.
Pagi ini, setelah menunaikan shalat shubuh, aku beranjak ke dapur, menyiapkan segala kebutuhan perut sang suami tercinta, yang masih terlelap, entahlah, akhir-akhir ini, dia begitu aneh, sikap, tingkah, bahkan mimik wajahnyapun menjadi sangat asing bagiku, tapi, aku tidak berani bertanya terlalu jauh, mungkin kalian tau alasannya, jika aku terus bertanya maka dia akan merasa tidak nyaman, dan mungkin saja penyakitnya akan kambuh, jika dia terus ditekan, jadi kuputuskan untuk membiarkannya, menunggu hingga nanti dia mau menyampaikan kegelisahannya dengan sendirinya.
“Pagi sayang ...” sapanya tiba-tiba, aku menoleh kearahnya, kulihat kini raut wajahnya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Pagi,“ jawabku sambil terus mengaduk nasi goreng yang sedang aku masak.
Dia mendudukkan bokongnya dikursi makan, dan aku segera menyeduhkan koffee hitam kental pavoritenya, lalu menyuguhkannya ke hadapannya, dia tersenyum padaku, sebuah senyuman yang selalu sulit kuartikan.
“Terimakasih“ masih tersenyum, kemudian meniup-niup cangkir koffee dihadapannya.
“An, kamu gak apa apa kan??” ah...rasa penasaran ini selalu mengganggu.
“Aku gak apa-apa,“ jawabnya sambil tetap fokus meniup-niup koffeenya.
“An, nanti siang kamu mau di masakin apa??” tanyaku, kini aku hampir setiap hari mengantar makanan untuk makan siangnya kekantor Anwar, kenapa?? Karena kejadian beberapa hari yang lalu ketika Anwar pingsan, aku tidak ingin dia kembali pingsan tanpa aku ketahui, ah...entahlah mungkin akhir-akhir ini, pekerjaan membuatnya menjadi manusia yang memendam segala masalahnya sendiri.
“Apa aja, semua masakan yang kamu masak, aku pasti makan“ jawabnya.
“Baiklah, nanti siang aku akan mengantarkan makan siang untukmu,“ ku matikan kompor, lalu kutuang nasi goreng kedalam piring kramik, berhiaskan bunga melati.
__ADS_1
“Ayo sarapan dulu,“ ajakku, sambil menyodorkan nasi goreng dan teman-temannya.
“Baik,“ Dia mengangguk, lalu menyuapkan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya, dia mengunyahnya perlahan, tanpa bicara seperti biasanya, suasana hening. Dan akupun memilih untuk diam, tak ingin banyak bicara, takut bicaraku merubah moodnya.
Selesai sarapan, dan siap-siap, dia segera berangkat kekantor, seperti biasa aku mengantarnya hingga depan pintu, setelah melambaikan tangan pada suamiku, aku segera masuk kembali kedalam rumah, ku lihat jam dinding yang menempel diruang tamu, pukul tujuh lewat lima belas menit, masih terlalu pagi, entahlah akhir-akhir ini, aku menjadi agak sedikit malas bahkan untuk membersihkan rumah, kadang aku sering menggunakan jasa ART sementara, tetangga yang lumayan rumahnya jauh dari rumahku, sering aku panggil hanya untuk membersihkan rumah, akhir-akhir ini, aku jadi lebih suka menambah waktu rebahanku, daripada aktifitasku, rasanya begitu malas saja, tapi syukurlah, Anwar tak pernah komplain, bahkan ketika pulang kerja,rumah masih dalam keadaan amburadul, dan aku sedang tergelak menonton drama korea kesayanganku, dia hanya akan tersenyum, kemudian ikut menonton.
Ddrrttt ... dddrrttt ... ddrrttt ...
Aku berlari menghampiri ponselku yang terletak diujung meja makan, aku mengambilnya lalu tersenyum, saat melihat Indah menelponku, aku mengangkatnya.
“Hallo Assalamu’alaikum dek" sapaku.
“Wa’alaikumsalam kak“ teriaknya antusias.
“Udah pulang kerumah Kak, kemarin malam, sini Kak, main kerumah Indah, Indah ada oleh oleh buat Kakak, sama Ibu!“ serunya, membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.
“Iya, nanti Kakak kesana kalau pulang dari kantornya Kak Anwar ya,“
“Iya, boleh Kak, aku tunggu ya Kak, sekalian aku juga punya kabar baik buat kita semua, hhee” Indah terdengar makin antusias.
“Apaan sih?? Kakak jadi kepo nih,“ Aku tersenyum mendengarnya bahagia.
__ADS_1
“Ada deh,“ jawabnya membuatku semakinpenasaran.
“Iya udah deh, nanti aja Kakak kesana, awas kalo kabarnya gak bikin Kakak terkejut,” Aku terkekeh.
“Iya, pastinya, Kakak kesini aja aku tunggu ya kak, Assalamu’alaikum!“ teriaknya heboh.
“Iya, wa’alaikumsalam,“ jawabku sambil menutup telponku.
Aku menggeser kursi makan, lalu duduk, kuedarkan pandanganku, ah ... ya hidupku terasa sepi, jika Anwar sudah berangkat kerja, mungkin aku harus memiliki kegiatan lain, apa aku wujudkan saja mimpiku yang tertunda?? Menjadi seorang guru, diusiaku sekarang, pasti akan sulit jika aku melamar menjadi seorang guru disekolah biasa, bahkan meski guru honorer sekalipun, apa aku utarakan saja keinginanku pada Anwar?? Bukankah ini hal yang mudah baginya?? Seketika hatiku berkecamuk, larut dalam kegundahan. Bahkan rasa sepipun, kini menjadi ujian tersendiri bagiku.
Segera aku tersadar, kemudian bangkit dari duduk, dan segera memulai kembali, untuk memasakkan makan siang untuk Anwar, aku membuka aplikasi memasak, untuk mencari tau resep yang akan aku masak, akhirnya kuputuskan untuk memasak sayur asem, dan goreng ikan, bahkan rasa malas itu menjalar ketika aku memasak, entah setan apa yang sedang memelukku, tapi rasa malas ini selalu menguasaiku.
Selesai memasak ala-ala aku, aku segera mandi, kemudian memoles wajahku seadanya, aku bercermin, wajahku begitu pucat, dan kumal, ku bubuhkan poundation di wajahku, kemudian kugunakan lipgloss untuk menghias bibirku, agar terasa lembab, hanya itu yang kugunakan untuk menghias wajahku kali ini, sungguh untuk menyisir rambutpun rasanya sangat malas, untung aku memakai hijab, jadi tidak akan ada yang tau, jika aku tidak menyisir rambut sudah dua hari. Yah, kecuali Anwar, tapikan Anwar sudah menerimaku apa adanya. Alasan he.
Setelah dirasa rapi, aku memasukkan makan siang Anwar kedalam rantang, kulihat jam di ponselku, pukul sebelas lewat dua puluh delapan menit. Ah ... diluar udara begitu panas, mungkin sebaiknya aku rebahan dulu sebentar, ku rebahkan tubuhku di ranjang, hingga tanpa sadar aku tertidur dengan sendirinya.
“Astagfirullah,“ Aku kembali terbangun, setelah kulihat jam sudah hampir pukul satu siang, tapi tidak ada telpon, ataupun chat dari Anwar, apa dia marah?? Atau dia sudah makan diluar?? Ini sudah lewat dari waktu jam makan siang. Aku segera berdiri, kemudian beranjak kedalam kamar mandi, segera menunaikan ibadah shalat dzuhur, kemudian segera berangkat menuju kantor Anwar tanpa bercermin lagi, atau memoles wajahku lagi, aku berangkat menuju kantor Anwar dengan tergesa. Segera kupesan taksi online, setelah taksi online itu datang, aku segera menaikinya.
Tiga puluh menit kemudian, aku tiba di kantor Anwar, aku menarik napas, kemudian turun dari Taksi yang membawaku, setelah membayarnya, aku segera beranjak masuk kedalam kantor Anwar.
Bissmillah, semoga Anwar tidak marah, atau kesal padaku, karena aku telat mengantarkan makan siang untuknya. Semoga saja, Anwarkan pemaaf, jadi dia pasti akan memaafkan kesalahanku kali ini.
__ADS_1
Bersambung.....
Hay, readers jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.......