
" A a aku ... aku ..." Sintia masih terbata-bata, gurat matanya masih menunjukkan dia sedang menimang-nimang kata-kata yang tepat untuk memberikan jawaban untuk setiap pertanyaanku.
"iya, aku kenapa??? " Akhirnya akupun mulai gemas di buatnya.
"Iya kenalin, ini pacar baru aku, namanya Jacky" Sintia mencoba mengalihkan perhatianku, dengan memperkenalkan laki-laki yang ada di sampingnya, yang dari tadi hanya memperhatikan perdebatan kita.
"Hay ... aku Jacky" Sapa laki-laki kurus itu, yang ku prediksi umur nya pasti di bawah Sintia.
"Iya aku Anjani," Terpaksa aku menerima anggukan dan sapaannya,
"Jadi kenapa??" Tak ingin terkecoh, aku kembali pada topik utama pertanyaanku, aku kembali menghadapkan wajahku pada Sintia, yang terlihat agak sedikit gemetar.
"Anjani, aku terpaksa melakukan semua ini" Akhirnya Sintia membuka suara, dia menghentikan ucapannya mencoba menahan tangisnya, aku hanya diam dan menyimak.
"Aku terpaksa menggelapkan uang perusahaan, beberapa bulan yang lalu, Ayahku mengikuti pemilihan kepala desa, Ayah harus kampanye sana sini, yang menghabiskan banyak dana, tapi Ayah tidak terpilih menjadi kepala desa, sementara hutang Ayah harus tetap di bayar, sekarang Ayah jatuh sakit Anjani, dan sebagai seorang anakĀ aku terpaksa harus menanggung beban Ayah," Jelas Sintia panjang lebar, dia mulai terisak dan air matanya berjatuhan.
Aku menghela napas, betapa aku berterimakasih pada Allah yang masih membimbingku untuk tetap berada di tempat yang aman, seberapa besar ujian yang Allah berikan padaku, sampai saat ini aku masih tetap ada pada koridor yang baik. Puluhan kali ku ucapkan kata syukur, atas apa yang telah Allah berikan padaku.
"Sintia, masih ada banyak cara untuk bisa membantu Ayah mu, kamu bisa mengajukan pinjaman ke kantor," Suaraku mulai melemah, aku merasa simpaty untuk ke adaan yang di alami Sintia, aku tahu rasanya harus menanggung beban orangtua.
"Aku khilaf Anjani, aku ingin menyelesikan semua kemelut hidupku dengan cepat, aku muak ketika harus menghadapi semua masalah ini, betapa tuhan tidak pernah adil untuk hidupku Anjani" Sintia terus berkata-kata setengah berteriak, seolah ingin meluapkan apa yang menjadi beban di hatinya selama ini.
"Allah maha adil Sintia, Jika kita mau menyadarinya, betapa Allah telah memberikan semua yang kamu butuhkan, jika kamu bisa sedikit bersabar lagi, mungkin Allah akan memberikan solusi lain yang jauh lebih terhormat untukmu," aku mencoba berbicara dengan sangat lembut, aku sadar kini Sintia lah yang sedang di kuasai emosi.
"Ketika kamu tidak bisa melihat Allah memberimu mata, ketika kamu tak bisa meraba Allah memberimu tangan, ketika kamu tak bisa mendengar, Allah memberimu telinga, Ketika kamu tak bisa berjalan Allah memberimu kaki, ketika kamu tak bisa berfikir Allah memberimu otak, Allah memberimu akal dan fisik yang sempurnaa jadi kenapa harus dengan cara yang kotor Sintia??" Aku meneruskan kata kataku, aku mengungkapkan penyesalanku atas keputusan buruk Sintia. Jujur akupun merasa kesal atas keputusan Sintia yang membuat bebanku juga bertambah.
"Tidak, Tuhan tidak pernah adil, semua ujian ini hanya di berikan padaku," Sintia masih terus meracau, untungnya di warung tenda ini, sepi pengunjung, jadi tidak terlalu banyak orang yang memperhatikan kami, hanya saja ada Jacky yang dari tadi menundukkan kepalanya, seolah sedang mencerna apa yang menjadi problema kekasihnya.
"Istighfar Sintia, jika fikiranmu tentang Allah seperti itu, maka Allah akan bersikap seperti itu padamu, Sikap Allah itu tergantung pada prasangka hambanya, jika kamu berfikiran buruk maka sesuatu yang buruk juga akan terjadi padamu, berpositif thingkinglah Sintia, Kamu itu sarjana, kamu pasti faham apa yang harus kamu lakukan untuk hidupmu, jangan sampai emosi menguasai dirimu, ini minumlah dulu" Kataku, sambil menyodorkan minuman kepada Sintia.
"Aku benci ke adaan ini Anjani," Suara Sintia mulai melemah setelah dia menenggak satu gelas minuman yang di berikan olehku.
"Lalu, bagaimana dengan yang ini?" Tanyaku kembali sambil menunjuk dengan dagu pada pria yang di akui pacar Sintia. Setelah ke adaan Sintia jauh lebih tenang.
"Itu, ah ... aku juga membenci Faisal, dia menghianatiku" Jelas Sintia, yang jelas saja membuatku bingung.
"Maksudnya??? bukannya dia baik pada mu?? bukankah Faisal pernah mengajakmu menikah??" Tanyaku seraya mengingat ingat, jujur hatiku berdesir, mengingat hubunganku dan Faisal kini bisa di bilang agak dekat, lebih tepatnya Faisal yang terus mendekatiku.
"Tidak Anjani, dia pria yang sangat tidak baik, dia selalu menghalalkan segala cara agar ke inginannya terhadap perempuan bisa terpenuhi, dia seorang playboy Anjani, pacarnya banyak di mana-mana, dan lagi orangtuanya tidak setuju Faisal berhubungan denganku" Jelas Sintia lagi, yang sukses mebuatku menjadi ternganga.
"Masa sih??" di sela-sela keherananku, aku masih bertanya pada Sintia. Aku berfikir aku telah mengambil keputusan yang tepat, dengan menolak Faisal tadi.
"Anjani, sejak kapan kamu jadi kepo terhadap urusan orang, bukannya kamu selalu tidak peduli dengan urusan orang?? apalagi sekarang aku udah lama putus sama Faisal" Pertanyaan Sintia sukses mebuatku sadar dari segala fikiran yang berkecamuk di dalam kepalaku.
__ADS_1
"Ah iya, gak apa-apa, cuman pengen tau aja he ... " Jawabku gelagapan.
"Emh ... oh iya, gimana sekarang kalau kita foto dulu, mungkin kita akan lama tidak berjumpa Anjani" ajak Sintia seraya langsung membenahi diri dan langsung berfose.
"Oh iya," Dan kamipun langsung berselfie ria, setelah puas berselfie ria akhirnya Sintia memutuskan untuk pulang duluan bersama kekasihnya, dan aku memutuskan untuk makan soto ayam, yang sudah hampir dingin karena aku malah sibuk mengintimidasi Sintia.
kriiiinngggg ... kriiiinnggg ... kriiiinnnngggg ...
Terdengar handphoneku terus berbunyi, saat aku sedang menikmati makananku,
ku ambil handphoneku, ternyata Faisal yang menghubungiku, kenapa lagi sih dia??
ku putuskan untuk mengabaikan panggilan nya,
Kriiiinnngggg ... kriiiinnnggg ... kriiinnngggg
Handphoneku terus berbunyi. Dengan setengah kesal aku mengangkat telpon dari Faisal,
"Hallo asslamua'laikum ... ada apa ya???" Jujur aku sangat kesal pada pria di sebrang sana, bayangan ucapan Sintia, tulisan diary Sintia, dan apa yang selama ini aku lihat dari gaya pacaran mereka terus berputar putar di kepalaku, dan sekarang dia mencoba mendekatiku, dia sungguh ingin mempermainkan aku fikirku.
"Anjani, tolong aku ... aku kecelakaan parah," Suara Faisal di seberang sana terdengar parau, seperti sedang menahan sakit.
"Apaaaa????, Di daerah mana??? Kamu gak apa-apa??" aku menjawab telpon Faisal setengah berteriak saking kagetnya, entah kenapa aku merasa khawatir dan merasa bersalah, karena tadi dia pergi dari kosanku dalam keadaan kecewa karena keputusanku.
"Iya, aku ke sana sekarang, mas Faisal tunggu ya" Entah kenapa tapi aku merasa ingin segera melihat keadaan Faisal. Secepat kilat aku memesan ojol, dan langsung berangkat ke tempat yang di chatkan Faisal kepadaku.
Setibanya di lokasi di mana Faisal mengalami kecelakaan, aku ternganga, seketika hatiku perih tapi entah kenapa, aku melihat Faisal tergeletak di pinggir jalan, kaki di bagian lututnya terluka parah, darah mengucur bahkan ku yakini dia akan sulit berjalan, tangan dan sikutnya juga banyak baretan dalam dan mengeluarkan banyak darah yang membuatku ngilu.
Aku turun dari ojol dan membayarnya, aku berjalan mendekati Faisal dan berjongkok, Aku ingin menyentuh lukanya, tapi aku sadar dia bukan muhrimku, dan di sekeliling Faisal ada banyak pria yang bisa melakukannya,
"Mas Faisal kenapa??" Tanyaku, entah kenapa tapi hatiku sakit melihatnya tak berdaya,
"Aku gak apa apa," Jawabnya sambil tersenyum menahan sakitnya,
"Kita ke rumah sakit sekarang ya, biar lukanya cepet sembuh, aku pesenin taksi online sekarang," Tawarku sambil mengambil handphone dari saku celana yang ku gunakan,
"Anjani, aku cuman mau kamu" Jawaban Faisal membuatku geleng-geleng kepala,
"Aku gak punya waktu buat bercanda mas, sekarang kita ke rumah sakit aja dulu, motor kamu biar di bawa orang aja suruh ke bengkel, nanti aku coba urusin" Kataku menepis tangan Faisal yang mencoba meraih tanganku,
Faisal tersenyum, lalu merunduk "Kamu pedulikan sama aku Jani???"
Aku terhenyak, kenapa dengan diriku?? jelas aku tau manusia seperti apa Faisal ini, tapi kenapa aku sangat mempedulikannya??? Ya Allah jangan berhenti melindungiku.
__ADS_1
"Udah, jangan banyak bicara dulu mas, sebentar lagi taksi nya datang" Jawabku menepis semua pengakuan hatiku.
Faisal tersenyum penuh dengan misteri, hingga aku sulit mengartikannya.
Setibanya di rumah sakit, Faisal langsung di tangani dokter, ada beberapa luka yang harus di jahit, Faisal di tangani dengan cepat oleh dokter, beberapa jam kemudian Faisal sudah terbaring di kamar pasien, Dokter memutuskan agar Faisal di opname untuk dua hari ke depan, mengingat lukanya yang cukup serius.
Aku menungguinya, aku bingung harus menghubungi siapa, karena aku tidak punya kontak keluarga, atau teman-teman Faisal.
Waktu sudah menunjukkan sangat sore, bahkan sebentar lagi akan segera maghrib, aku semakin bingung, sementara Faisal masih belum sadar karena efek obat bius.
Aku memutuskan untuk pergi ke mushala, dan menunaikan shalat maghrib dulu, nanti aku akan kembali ke ruangan Faisal setelah dia sadar.
Hampir jam 7 malam, Faisal baru sadar,
"Anjani ... " Faisal memanggilku dengan suara yang serak,
"iya, kenapa ??" Aku bangkit dari dudukku dan menghampiri Faisal" Mas Faisal mau apa?mau minum??" Tawarku,
"Aku fikir kamu pergi, aku gak mau apa-apa , Aku mau kamu aja Jani" Faisal mengedipkan sebelah matanya padaku,
Sontak aku kaget, kenapa juga manusia ini, dalam ke adaan seperti ini pun masih saja sempet-sempetnya merayuku.
"Mas Faisal sudah menghubungi keluarga??? soalnya aku mau pulang mas, besok aku kerja, dan sekarang sudah malam," Aku tidak ingin berbasa basi lagi pada Faisal,
"Kamu gak mau nemenin aku??" Rengeknya "Aku gak punya keluarga Jani, kamu kan sebentar lagi jadi keluarga aku" Ya Allah ... Faisal ... Hatiku merasa kesal di buatnya.
"Keluarga mas Faisal kemana?" Tanyaku mulai tak sabar,
"Ayah dan ibu aku sudah lama berpisah Jani, jadi aku memutuskan untuk tidak ikut siapapun, aku memutuskan untuk hidup sendiri, tapi kan sebentar lagi aku akan hidup sama kamu hheee" di tengah ceritanya yang berhasil membuatku melongo, Faisal masih sempat tersenyum nakal.
Jadi, sekarang aku mengerti, Faisal dan aku, kami memiliki luka hati yang sama, aku sekarang faham kenapa Faisal memiliki akhlak yang buruk, sebagian remaja broken home melampiaskan kesendirian dan kekesalannya pada hal-hal negatif, misalnya Faisal dia jadi membalas rasa sakitnya lewat perempuan, Faisal senang mempermainkan perempuan. Sekali lagi aku bersyukur atas kehendak Allah terhadap diriku yang memberiku kesempatan untuk tidak terjatuh dalam dunia yang di anggap orang negatif.
Dan entah mengapa, kini aku merasa simpaty pada Faisal, aku tau rasa sakit yang di deritanya selama ini.
Tok ... tok ... tok ...
Di tengah percakapanku dan Faisal, Aku mendengar suara pintu kamar tempat Faisal di rawat ada yang mengetuk,
Aku menoleh pada pintu "Masuk, maaf siapa ya??"
"........................."
Bersambung ............
__ADS_1
Jangan lupa vote yaaaa....