KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Cemburu


__ADS_3

“Aaaawwww ...” Aku meringis, sambil mencengkram perutku.


“Jan, kamu kenapa??” tanya Bagas ikut berjongkok, mencoba mengecek keadaanku.


“A Aku tidak a apa-apa“ jawabku terbata, rasa sakit itu semakin menjalar.


‘Apa kau marah, karena Ibu bertemu dengan masa lalu Ibu??? Ck, kau sungguh pembela Ayahmu‘ Aku mengelus perutku, berharap rasa sakit ini bisa berkurang, tapi nyatanya rasa sakit ini, malah semakin menjadi.


“Jan, kamu istirahat dulu aja di sana ya“ Bagas menunjukkan tempat duduk di pinggir jalan.


“Ti tidak, aku baik-baik saja“ jawabku sambil


meremas perutku.


“Jan, wajah kamu begitu pucat, kamu duduk dulu ya“ Bagas mencoba menuntunku untuk mengikuti langkahnya.


Ah ... kenapa kepalaku rasanya berkunang


kunang?? Tubuhku terasa lemas, rasa sakit ini begitu mencengkram.


“Ahhh ...” Aku kembali terduduk, rasanya untuk berdiripun aku tidak mampu.


“Jan, aku pegangin ya“ Bagas mengulurkan tangannya.


“Ti tidak, aku bisa sendiri“ jawabku terbata sambil berusaha bangkit.


‘Ya Allah, lindungi aku dan anakku, aku mohon‘ Ku lafalkan segala do’a di dalam hatiku, aku sungguh takut kehilangan anakku lagi tiba-tiba.


“Ya udah, kamu jalan duluan Jan“ perintah Bagas.


“Baik“ dengan tertatih-tatih, aku mencoba berjalan, hingga tiba di sebuah kursi, di pinggir jalan, yang di naungi oleh sebuah pohon rindang.


Aku mendudukkan diriku, kurasakan setiap rasa sakit yang menjalar di area perutku, kupejamkan mataku, lalu mulai mengatur napas perlahan, lama-lama rasa sakit itu berkurang, aku kembali membuka mataku, ku


lihat Bagas tengah memperhatikan aku.


“Kamu baik-baik saja Jan??” tanyanya tampak khawatir.


“Hmh, aku baik baik saja“ jawabku sambil menyeka keringat, yang sudah mengalir di dahiku.


“Kamu sekarang sudah bahagia ya Jan, bersama suamimu sekarang, dan di tambah sebentar lagi kamu akan punya anak“ Bagas membuka percakapan.


Aku tersenyum, “Alhamdulillah“ jawabku sambil menunduk.


“Maafkan semua kesalahanku ya Jan“ Bagas menatapku dalam, dan aku segera memalingkan muka.


“Sama-sama, maafkan segala kesalahanku juga“ jawabku.


“Mas Bagas masih kerja di tempat yang dulu?” tanyaku tiba-tiba, aku hanya ingin mengusir rasa canggung di antara kami. Yah,

__ADS_1


mantan istri bertemu mantan suami, setelah sekian lama dengan keadaan yang jelas sudah berbeda.


“Tidak, aku sudah di PHK“ jawabnya, sambil


menunduk, ada gurat kesedihan di matanya.


“Innalillahi, yang sabar ya Mas“ Aku tahu, akan berat bagi Bagas jika dia tidak memiliki pekerjaan sama sekali, mengingat kondisi keluarganya, yang selalu merongrongi hidupnya.


“Makasih Jan“ Dia tersenyum, ah ... andai dulu kamu selalu tersenyum seperti ini padaku Mas.


“Sama-sama, lalu apa kegiatan Mas Bagas sekarang?” tanyaku lagi.


“Tidak ada, aku hanya jadi pengangguran“ jawabnya lesu.


“Tidak mencoba mencari pekerjaan lain??”


“Tidak, aku sudah tidak ada gairah untuk hidup lagi Jan, berpisah denganmu membuat duniaku hancur“


Deg!!


Ungkapan Bagas sungguh di luar dugaan, bukankah dia hanya suami pendiam, dingin, dan kaku?? Sekarang dia sudah berani mengungkapkan rasanya, sungguh kemajuan yang sangat hebat. Begitu fikirku.


“Jangan begitu, mungkin ada baiknya jika Mas Bagas mencari pendamping lagi“ usulku, ada rasa iba yang menyelusup di dalam hatiku, bagaimanapun Bagas pernah menjadi bagian di hidupku, kesalahan yang dia lakukanpun bukan mutlak seratus persen kesalahannya, berbeda dengan Faisal yang


berubah total, dari seorang direktur, menjadi seorang pedagang asongan, dengan bentuk tubuh yang sangat berubah, tapi tidak dengan Bagas, dia masih tetap sama, penampilannya, fostur tubuhnya, hanya saja yang berbeda, dia jadi banyak bicara sekarang.


“Aku berharap seperti itu, tapi sayangnya aku tidak bisa, meski aku sudah berusaha“ jawabnya.


“Kamu tidak banyak berubah ya Jan“ Dia menatapku.


“He, mungkin“ jawabku mengedikkan bahu.


“Dan hatiku padamu pun tidak berubah, aku masih sangat mencintaimu, seperti dulu di saat kita masih bersama“


Deg!


Lagi, jawaban Bagas membuatku terhenyak.


‘Bukankah Mas Bagas penyuka sesama jenis?? Kenapa dia bilang bisa mencintaiku??’ hatiku berkecamuk, di penuhi pertanyaan.


“Jangan memasang wajah heran seperti itu, ada banyak hal yang tidak kamu tau, hingga aku harus melepasmu“ Bagas menatapku kian dalam, segera aku memalingkan wajahku.


“Maaf“ jawabku sambil menunduk.


Berbicara banyak hal dengan Bagas, entah kenapa? Tapi tiba-tiba saja, rasa sakit itu berangsur berkurang, lalu mulai menghilang, apa aku merasa nyaman di dekat Bagas sekarang??.


“Astagfirullah“ berkali-kali aku mengusap wajahku.


“Bu, maaf, Bapak menyuruh kita segera pulang“ tiba-tiba Pak Anto sudah berdiri di sampingku.

__ADS_1


“Ah, iya, maaf pak, sudah menunggu lama“ Aku tersenyum pada pak Anto, ada gurat wajah yang sulit di artikan di sana.


“Mas, maaf aku harus pulang dulu“ pamitku pada Bagas.


“Jan, boleh aku meminta nomor ponselmu?? Aku harap kita bisa menjalin silaturahmi dengan baik“ pinta Bagas, aku tersenyum, lalu ku berikan nomor ponselku, entahlah ... tapi Bagas selain dari pada dia adalah mantan suamiku, dia juga masih kerabatku. Silaturahmi ini terputus, hanya karena ikatan pernikahan kamipun terputus. Aku tidak ingin, di masa sulitku, aku menyimpan banyak dendam dan kebencian.


Setelah berpamitan, aku berjalan menuju mobil, pak Anto membukakan pintu mobil, lalu aku masuk kedalamnya.


Deg!


"Anwar? Se sejak kapan kamu disini??” tanyaku terbata, kala kulihat, ternyata Anwar sudah duduk dengan bersedekap tepat di


sampingku.


“Sejak kapak kamu berhubungan dengan mantan suami kamu?” tanyanya tanpa memandangku, aku terdiam, dia salah faham.


Pak Anto ikut terdiam, kemudian menjalankan mobilnya dengan pelan, seolah memahami, suasana panas yang sedang terjadi pada kami.


“A aku, tidak pernah berhubungan dengan mas Bagas“ elakku, karena memang itu kenyataannya.


“Lalu, tadi itu apa??” tanyanya.


“Kami tidak sengaja bertemu An“ jawabku.


“O ya?? Jadi ini alasanmu, tiba-tiba ingin mendatangi makam anakmu??” suara Anwar masih meninggi dan tegas.


“An, tolong jangan salah faham“ Aku mencoba menjelaskan.


“Aku tidak salah faham, aku hanya percaya dengan apa yang kulihat, apa kamu harus menebar senyum padanya?? Apa kamu perlu berbicara sebanyak itu dengannya?” Anwar terus mengintrogasiku.


“An, tolong jangan seperti ini, kamu salah faham, semuanya tidak seperti yang kamu lihat“ Aku mulai kesal dengan kata-kata


Anwar.


“O ya?? Apa sekarang kamu fikir mataku rusak?? Apa kamu fikir sekarang aku tidak punya mata?!” hardiknya.


Cemburu, nyatanya sikap itu begitu terasa menakutkan jika terjadi pada pria seperti Anwar, aku hanya bisa terdiam, sambil mengelus perutku, menjelaskan sebuah kebenaran pada orang yang tengah di penuhi emosi, hanya akan menyia-nyiakan waktu dan tenaga saja, dia tidak akan mendengarkan aku.


“Jan, apa kamu sekarang jadi tidak bisa bicara??!!” sentaknya lagi.


“Bisakah kita bicara jika sudah tiba di rumah??” tanyaku menatapnya, lebih tepatnya aku mengiba, karena perutku tak bisa di ajak kompromi lagi, sakit.


“Apa kamu kehabisan alasan sekarang??” tanyanya lagi, dengan nada menekan.


Aku tetap diam, percuma menjelaskan apapun pada Anwar sekarang, aku menggigit bibir bawahku, menahan rasa sakit yang sudah menjalar di area perutku.


Air mataku luruh di pipi, bukan hanya karena sakit menahan sakit, tapi juga karena sakit menahan tuduhan Anwar, dia tidak mempercayaiku.


Bersambung.......................

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gengs.....


__ADS_2