KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
My Wedding


__ADS_3

Hari yang di nanti ibu akhirnya tiba, hari ini aku melangsungkan pernikahanku dengan Bagas, pria dingin yang belum aku cintai, yang ku yakini dia pun kini mungkin belum bisa mencintaiku.


Aku menikah dengan Wali Ayahku, setelah berjabatan tangan dengan Ayah, Bagas mengucapkan ijabnya, dan hanya dalam satu tarikan napas ijab langsung di sahkan oleh para saksi, semua orang bersorak bahagia, dan memberi kami selamat atas pernikahan kami, semua orang memuji suamiku, yang katanya sangat tampan, dan berwibawa, aku hanya tersenyum, apa tampan, berwibawa, punya pekerjaan adalah standard kebahagiaan bagi seorang istri?.


Jujurnya aku sedikit membenci pernikahan ini, jika sebagian pengantin akan dengan bangga duduk di pelaminan sambil menebar senyum bahagia, maka aku berdiri di pelaminan dengan seribu senyuman palsu, aku menyalami para tamu undangan dengan tatapan kosong, tak jauh beda denganku, Mas Bagas pun melakukan hal yang sama.


Kami tidak bahagia, kami tidak saling mencintai, aku tidak menyangka fase kehidupanku akan tiba di tempat ini.


Ya allah aku cukup lelah dengan setiap ujianmu, tapi aku tau aku bisa melewati semua ini, bukankah Allah tidak akan melimpahkan ujian yang tidak sesuai dengan kemampuan hambanya bukan? Aku ingin ber husnudzan saja pada setiap takdir Allah, Akan selalu ada hikmah di setiap musibah, meski aku belum tahu, hikmah apa yang akan ku raih setelah melewati perjalanan sulit ini.


Waktu berlalu sangat pelan, hingga aku terus merutukinya, kakiku sudah sangat kaku, bahkan kram, karena seharian berdiri menggunakan heels yang cukup tinggi, belum lagi bajuku yang cukup mengganggu gerakku, aku tidak menikmati setiap prosesi pernikahanku, mungkin karena pasanganku sangat kaku, dan memasang wajah tidak ikhlas.


Aku berjalan ke arah kamarku setelah acara selesai dan waktu hampir malam, aku segera melesat ke kamar mandi, dan segera membersihkan diriku sebelum Bagas memasuki kamarku juga. Ketika acara mandi berlangsung fikiranku melayang ke mana-mana, Aku takut, malu, dan tidak tau harus memulainya dari mana.


Ketika keluar dari kamar mandi, aku celingukan mengintip dari balik pintu, takutnya Bagas sudah ada di kamar, dan benar dia sudah duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia menoleh ke arahku, lalu memalingkan wajahnya.


Ah, aku kini sudah menjadi seorang istri, tapi kenapa dia masih saja memberikan tatapan itu padaku. Dia tidak mengatakan sepatah kata apapun, dia hanya langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan melakukan ritualnya.


Aku memutuskan untuk menunggunya di tepi ranjangku, sambil mengira-ngira, kira-kira apa yang akan terjadi setelah Mas Bagas keluar dari kamar mandi.


Setelah Mas Bagas keluar dari kamar mandi, aku semakin deg-degan, dadaku semakin berdegup kencang. Mas Bagas menoleh ke arahku yang tengah memperhatikannya, tidak salah apa yang di katakan orang, suamiku memang tampan, bahkan ketampanannya mengalahkan pria-pria yang sebelumnya pernah aku kenal.


“Anjani, ada yang harus aku katakan padamu“ Mas Bagas mulai membuka suaranya.

__ADS_1


“Iya apa Mas??” tanyaku sambil menengadahkan kepalaku.


“Anjani, sejujurnya sebelum menikah denganmu aku sudah memiliki kekasih, awalnya aku berniat untuk menikah dengannya, karena kami sudah berhubungan selama lima tahun lebih“ jelasnya yang membuat hatiku kian sakit.


“O ya??” Aku membulatkan bibirku, jujurnya aku ingin menangis mendengar pernyataan suamiku kini, tapi air mataku tak keluar, seolah tahu jika aku tidak boleh menunjukkan sisi lemahku pada pria yang sudah menjadi suamiku kini.


Bagas menoleh ke arahku, “Iya, aku harap kamu mengerti, aku tidak bisa mencintaimu“ lanjutnya.


“Iya, aku mengerti“ jawabku sambil memalingkan wajah.


“Aku menikah denganmu, hanya karena bapak terus memaksaku untuk menikahimu” lanjutnya yang membuat Aku tidak ingin lagi mendengar apapun dari mulut berbisanya.


“Lalu??” jawabku asal.


“Lalu bagaimana dengan rumah tangga kita ke depannya??” tanyaku malas.


“Tidak bagaimana-bagaimana Jani, kita hanya perlu menjalankan kewajiban kita sebagai suami istri saja“ jawabnya enteng.


“Baik terserah kamu saja“ jawabku sambil merebahkan diri di kasur, rasa lelah karena menyalami ratusan tamu jadi tidak seberapa karena aku mendengar ucapan si manusia es.


“Mulai besok kita pindah ke rumah orangtuaku, untuk sementara kita akan tinggal di sana” Aku masih mendengar suaranya di balik selimut yang menggulungku.


“Emang harus besok banget ya??” tanyaku.

__ADS_1


“Iya, jika kamu tidak mau, maka aku akan mengahiri pernikahan ini“ jawabnya santai tanpa beban.


“Bahkan belum genap satu hari satu malam, kamu sudah tega mengatakan pisah Mas, tidak bisakah kamu menghargai pernikahan ini??” tanyaku sambil menahan kebencian di hatiku.


Aku tidak mendengar lagi jawaban Bagas, aku hanya merasa Bagas telah membaringkan tubuhnya di sampingku, aku tahu dia belum tertidur, sama denganku. Bagaimana mungkin aku bisa tertidur setelah mendengar kata-kata menyakitkan dari suamiku. Dia bahkan sungguh tidak menyentuhku.


***


Setelah acara ijab qabul aku resmi menjadi seorang istri. Istri dari seorang suami yang jelas tidak bisa mencintai dan menyayangiku. Aku tersenyum di hadapan banyak orang. Di hadapan orangtuaku yang super protektif pada hidupku dari dulu hingga sekarang pun setelah aku menikah. Di hadapan mertuaku yang super perhatian dan baik.


Hari itu menjadi saksi kisah suci kita. Dari hari itu hingga detik ini, aku berusaha dengan baik menjadi seorang istri yang baik, seorang istri yang sesuai dengan ajaran hadist dan al-quran. Meski terkadang aku sangat kecewa terhadap perlakuan suamiku, karena aku hanya manusia biasa. Sebiasa-biasanya manusia, aku punya hati nurani yang teramat rapuh.


Kadang aku sering marah sendiri  dengan segenap sikapnya, yang cuek, dan acuh tak acuh. Satu bulan pertama di pernikahan kita, rasanya aku belum pernah di ajak bicara dengan baik, Hanya sekedar mengobrol, atau bercanda bersama mungkin, atau apapun selayaknya pasangan baru menikah, semuanya terasa datar.


Bisa di fahami dan sangat bisa di mengerti, mengingat dia terpaksa menikahiku, mungkin mantan pacar lima tahunnya lebih segalanya di banding aku, atau mungkin apapun bisa ada di fikirannya.


Betapa sedih hatiku, betapa sakit ragaku, tapi aku tersenyum, menguatkan diriku sendiri, menguatkan orang-orang di sekelilingku, tapi hanya aku, hatiku, dan Tuhan saja yang faham seperti apa hancurnya hati dan fikiranku, aku egois, karena aku menerima lamaran orang yang jelas-jelas tidak mencintaiku, sangat egois mungkin, aku ingin berteriak sebisaku, tapi lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya tersenyum, dan berkata,


“Saya tak apa, saya baik-baik saja"


Suamiku, aku tak pernah menyalahkanmu. Di sini aku pun tak pernah merasa salah dengan pertemuan kita, hanya saja ku fikir ini cara Allah mempertemukan kita aku tak pernah membencimu, meski kamu terlihat bisa sangat nyaman bicara dengan oranglain, tapi tak bisa bicara dengan baik ketika bersamaku, aku tak pernah kecewa padamu, meski tak pernah satu kata romantispun keluar dari mulutmu untukku, atau tak pernah sekali pun kamu mengusap kepalaku, suamiku aku harap suatu hari nanti kamu akan jatuh cinta padaku, menyayangiku, dan melakukan bnyak hal bersamaku, suatu hari nanti kamu akan bisa menghargai setiap usaha dan kerja kerasku dalam melayanimu, suatu hari nanti kamu akan bisa mengusap kepalaku dan bertanya “Anjani kamu baik-baik saja?“ Suamiku percayalah aku menyimpan banyak cinta, kasih sayang, dan luka darimu.


Bersambung.............

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, komen, bintang lima dan Vote sebanyak banyak nya....author tunggu yaaaa.....makasiiiihhhhh


__ADS_2