
“Apes ini, apes!!“ tiba-tiba seorang pria berbadan jangkung itu datang dengan terengah-engah menghampiri istrinya, merekalah Bu Maya dan Pak Pras, pasangan yang baru saja menikah beberapa bulan yang lalu.
“Loh?? Apes apanya??” tanya sang istri dengan mengerutkan keningnya.
“Mobil yang memuat sayuran terguling kedalam jurang“ kata sang suami sambil mengacak rambutnya.
“Loh?? Kok bisa??” tanya sang istri sambil menyodorkan segelas teh yang masih mengepul.
“Iya, mungkin ini sudah menjadi musibah bagi kita“ sang suami meminum teh yang di sodorkan istrinya, tanpa melihatnya terlebih dahulu.
“Addduuuhhh panas!!” teriaknya sambil menyemburkan air yang baru saja diminumnya.
“Ya lagian mau minum gak diliat dulu“ sang istri ikutan panik atas kabar yang di bawa sang suami.
“lalu bagaimana selanjutnya?” tanya bu Maya kemudian.
“Entahlah, sopir yang membawa mobilnya sekarang tengah dirawat dirumah sakit, dan masih koma, aku juga kehilangan mobilku, karena seratus persen hancur, belum lagi barang yang dibawa oleh mobil itu hancur, aku mengalami banyak kerugian bu“ teriaknya sambil mengacak rambutnya.
“Waduh, gimana ini pak?” Bu Maya terlihat begitu cemas.
“Kita harus membayar biaya pengobatan Rahmat yang masih koma, kita juga harus memperbaiki mobil, dan ganti rugi pada petani lain, yang sayurannya hancur“ jelas Pak Pras dengan tangan gemetar.
“Jadi, total kerugiannya mencapai berapa pak??” tanya Bu Maya semakin cemas.
“Mungkin sekitar lima ratus jutaan bu, karena kita juga harus membiayai pengobatan Rahmat yang tidak sedikit, dia harus mengalami beberapa kali operasi untuk menyembuhkan lukanya“ jelas pak Pras lagi.
“Apaaaa????” kenapa banyak sekali??? Uang dari mana kita pak??!” teriak bu Maya histeris.
“Bagaimana jika kita pinjam dulu pada anak-anakmu, pada Anjani mungkin, bukankah suaminya kaya raya dan sangat baik?” usul pak Pras dengan antusias.
__ADS_1
“Tidak bisa, aku tidak ingin membebani anak-anakku,“ jawab bu Maya tegas.
“Lalu?? Kita harus bagaimana bu??” terlihat Pak Pras semakin frustasi.
“Entahlah pak“ jawab Bu Maya sambil menunduk.
“Ah, iya bagaimana jika kupinjam saja uang mahar yang pernah aku berikan padamu bu, aku janji nanti aku akan menggantinya“ lagi, usul pak Pras membuat Bu Maya mendelik.
“Tidak bisa, bukankah kamu memiliki banyak tanah pak?? Jual saja tanahmu itu!!“ hardik Bu Maya.
“Tidak bisa bu, penjualan tanah itu tidak bisa secepatnya, butuh proses dan waktu yang cukup lama“ jawab Pak Pras.
“Lalu bagaimana? Jika aku memberikan semua mahar yang pernah kamu berikan, bukankah itu masih kurang?” tanya bu Maya sambil mulai berhitung harta yang dimilikinya.
“Iya, memang itu hanya senilai empat ratus juta, tapi kamu pasti masih punya tabungankan??” lagi, Pak Pras mengusulkan.
“Iya, aku memiliki tabungan sebanyak itu, tapi itu sudah diketahui anak-anakku, bagaimana jika mereka mengetahuinya?” Bu Maya ragu.
“Ah, ya sudah baiklah, akan kupinjamkan padamu uang senilai lima ratus juta,“ jawab Bu Maya sambil beranjak kedalam rumah mengambil uang yang tadi dipinta suaminya.
Tak lama kemudian, bu Maya keluar rumah, dan membawa uang sebanyak lima ratus juta rupiah, dan diserahkan pada suaminya.
“Ini Pras, tapi kamu janji ya, kamu harus secepatnya mengganti uangku itu“ kata bu Maya.
“Iya bu, aku janji, secepatnya aku akan mengembalikan uang ini, makasih ya bu, kalau begitu aku berangkat dulu, untuk memberikan uang ini, nanti aku kembali lagi“ Pak Pras kemudian pergi dengan tergesa gesa, di antarkan oleh pandangan istrinya.
Bu Maya menarik napas dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan, hatinya tiba-tiba saja berubah menjadi tidak enak, ada yang mengganjal didalam hatinya, setelah memberikan uang sejumlah lima ratus juta kepada suaminya.
Dengan hati berkecamuk, akhirnya bu Maya masuk kedalam rumah, membereskan rumah, kemudian memasak di dapur. Selang dua jam kemudian bu Maya telah selesai memasak, tapi pak Pras masih belum kelihatan batang idungnya, Bu Maya terus mondar-mandir di depan rumah.
__ADS_1
“Kemana sih si Pras?? Kok belum datang juga“ Bu Maya terus ngedumel sendirian.
Lama bu Maya menunggu kedatangan pak Pras, hingga sore telah tiba tapi pak Pras belum muncul juga, bu Maya semakin panik, akhirnya dia mencoba menghubungi nomor ponsel suaminya, tapi tidak diangkat.
“Ah, mungkin dia masih sibuk mengurus semuanya“ Bu Maya mencoba berhusnudzan.
Hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam, tapi pak Pras masih belum datang juga, Bu Maya mulai panik, fikiran pak Pras yang membawa kabur uangnya sempat terbersit di hatinya.
“Haduh, bagaimana ini?? Uang lima ratus juta tidak sedikit, bagaimana jika Pras membawa kabur uang itu, apa yang akan kukatakan pada anak anakku? Aku juga pasti malu sama tetangga yang suka nyinyir itu, karena aku sudah ditipu“ Bu Maya terus mondar-mandir dengan gelisah.
Hingga pukul dua belas malam hampir tiba, bahkan setelah bu Maya mengerjakan shalat isya, pak Pras tidak menunjukkan akan datang, batin bu Maya semakin berkecamuk tak karuan.
“Haduuhhh, bagaimana ini?? Aku akan coba menelponnya lagi“ gumamnya sambil meraih ponselnya kembali.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif“ kini terdengar suara operator yang menyahutinya.
“Haduh, si Pras bener-bener buat aku jadi semakin khawatir“ Bu Maya menyibakkan jilbabnya, kemudian duduk termenung di atas soffa yang menampung tubuhnya.
“Apa yang akan kulakukan sekarang, baiklah akan kutunggu hingga besok, jika besok masih belum ada kabar, maka aku akan mencarinya sendiri“ gerutu bu Maya sambil menidurkan dirinya di atas soffa di ruang tengah.
“Ah ... tiba-tiba saja aku teringan Anjani, apa benar semua yang dikatakan Anjani?? Apa sesungguhnya Pras bukan orang yang baik? Kenapa fikiranku jadi begitu kacau“ Bu Maya terus mengoceh, kini segala fikiran buruk sedang hilir mudik dikepalanya.
“Ya Allah, tolonglah hambamu ini, mudahkanlah setiap urusanku“ lirihnya sambil menelungkupkan kedua tangannya pada wajahnya.
“Mungkin ada baiknya jika aku menunaikan shalat tahajud dulu, agar hatiku lebih tenang“ lagi, dia bicara sendiri.
Kemudian bu Maya bangkit dari duduknya, dan beranjak masuk kedalam kamar mandi, kemudian dia berwudhu, setelahnya dia menggelar sajadah dan memakai mukenanya, dia menunaikan shalat tahajud untuk meminta ketenangan kepada Allah.
Bersambung................
__ADS_1
Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaaa....agar author tambah semangat merangkai katanya, author tunggu yaaaa....makasiiihhhh....