
Setelah keluar dari kamar Indah, aku berjalan menuju ruang keluarga, akhir akhir ini aku mengalami insomnia akut, aku sering merasa cemas dan sulit tidur, biasanya aku akan membaca al-quran saja hingga aku terlelap, tapi kali ini aku lebih memilih untuk menonton tv saja, kebetulan ibu juga masih belum tidur.
Aku duduk di lantai yang di lapisi karpet kecil, aku menyelonjorkan kaki 'ku, sambil menempelkan bahuku pada kursi, aku menyalakan tv dan mulai memindah mindahkan chanel tv, mencari acara yang menurutku agak seru. Hingga aku menemukan salah satu chanel tv yang menayangkan acara pencarian bakat, aku fokus menatap layar tv dengan seksama, hingga aku tidak menyadari kehadiran Ibu yang tiba - tiba duduk di sampingku.
"Jan, Indah sudah tidur??" tanya Ibu yang membuat ku sedikit kaget.
"Eh, iya sudah ibu," Aku menoleh ke arah Ibu, sambil tersenyum, "Ibu, Jani minta Ibu jangan terlalu keras pada Indah ya, kasian Indah bu, mungkin dia juga butuh kebebasan untuk berfikir" Pintaku pada Ibu yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ibu, aku faham betul, bagaimana rasanya di kekang dan di monopoli untuk urusan hidupku, rasanya sulit, pahit, dan tidak enak sama sekali.
"Jani, semua yang Ibu lakukan adalah untuk kebaikan kalian, Ibu tau mana yang terbaik untuk kalian, Ibu tau apa yang harus Ibu lakukan untuk kalian" jawab Ibu langsung nyerocos, aku hanya bisa menghela napas perlahan tanpa Ibu ketahui.
"Iya, Jani tau ibu, tapi masa remaja adalah masa memberontak, jadi sekali - kali biarkan Indah memilih jalan hidupnya sendiri, selama itu tidak melanggar aturan". Aku masih tetap pada pendirianku untuk membela Indah, aku tidak ingin Indah mengalami apa yang aku alami.
"Jangan mengajari Ibu Jani, Ibu tau apa yang terbaik bagi kalian" Lagi - lagi Ibu mengatakan hal yang sama, namun kali ini dengan penekanan yang sangat kuat,
"Baik ibu, gimana baiknya menurut Ibu saja, Jani ikut Ibu" Akhirnya aku mengalah pada Ibu.
"Oh iya, gimana Jan? kamu sudah punya jawaban untuk permintaan nya Luqman?" tanya Ibu yang membuatku kembali teringat akan janjiku pada Kak Luqman.
"Iya sudah Ibu, Jani akan memberi jawaban pada kak Luqman lusa Ibu," Jawabku sambil tersenyum ke arah Ibu.
"Iya, Ibu percaya pada keputusanmu, Ibu harap keputusanmu adalah keputusan terbaik yang di restui Allah Jan," kata Ibu sambil mengelus kepalaku.
__ADS_1
"Jika ibu ridho, Insya Allah, Allah juga ridho Ibu" Jawabku sambil bergelayut manja di tangan Ibu.
"Iya, pasti Jan, kamu putri Ibu, Ibu akan selalu berdo'a yang terbaik buat kamu dan Indah" jawab Ibu sambil terus mengusap punggungku dengan sayang membuatku nyaman dan ingin segera tertidur. Aku memeluk Ibu erat, seolah minta kekuatan besar pada Ibu.
Hari ini hari minggu, harusnya hari ini aku memberikan jawaban atas permintaan kak Luqman, aku mencoba menghubungi nomor ponselnya kak Luqman, tapi yang di telpon nomornya malah gak aktif. Malah kak Luqman tidak menghubungiku sama sekali, kak Luqman membuatku bingung aku jadi berfikir mungkinkah ini jawaban Allah untuk setiap doa - doaku?? kak Luqman mungkin memang bukan jodohku, selama shalat istikhoroh aku sama sekali tidak bermimpi apapun tentang jodoh yang berkaitan dengan kak Luqman, katanya petunjuk shalat istikhoroh itu tidak harus selalu lewat mimpi, tapi juga bisa lewat kabar berita, keyakinan hati, atau bisikan hati, dan lain sebagainya. Dan aku sama sekali tidak merasakan apapun.
Ah ... aku jadi semakin bingung di buatnya, ku putuskan untuk tidak dulu terus menghubungi kak Luqman, toh kalau dia memang sungguh - sungguh dia akan menghubungiku, dan akan meminta jawabanku kan??.
Di tengah rasa bingungku, aku memutuskan untuk menemui Indah di kamarnya, dari pagi Indah tidak keluar kamar, mentang - mentang hari libur, Perlahan aku membuka pintu kamar Indah, aku mengintipnya dari balik pintu luar, ku lihat Indah sedang terbaring sambil melihat handphonenya sambil senyam - senyum sendiri, melihat Indah tersenyum aku pun jadi latah ikutan tersenyum, seketika jiwa keppoku muncul kira - kira Indah sedang chatan dengan siapa ya?? apa mungkin Indah sebetulnya sudah memiliki kekasih??.
"Hayoooooooo ... kamu lagi chatingan sama siapa dek?" tanyaku yang mengagetkan Indah, mungkin saking kagetnya Indah langsung melemparkan handphonenya ke sembarang arah.
"Ih Kakak!!!! Kakak ngagetin aku tau" seru Indah sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
"Iiiiiihhhhh Kakak, apaan sih?? enggak Kakak, itu aku chatingan sama guru - guru di sekolah" jawab Indah masih dengan nada kesal.
"Ah masa sih?? coba lihat" Aku berusaha mengambil handphone Indah, Jiwa keppoku makin membuncah, aku sangat penasaran dengan Indah.
"Ih Kakak, jangan di lihat, ini privasi aku Kakak," Jawab Indah sambil dengan sigap merebut kembali handphonenya dan langsung di simpan di dalam kaos yang dia gunakan.
"Ih, pelit amat Dek , main rahasia - rahasia segala" Aku mulai BT dengan tingkah Indah.
__ADS_1
"Biarin aja, wwwweeeeeee" Jawab Indah sambil memeletkan lidahnya, yang terlihat lucu di mataku, aku tersenyum.
Kriiiinnnnngggggg ...
Tiba - tiba handphoneku berbunyi, aku menghentikan aktifitasku yang terus berdebat dengan Indah. Aku keluar dari kamar Indah sambil mengangkat telponku.
"Hallo assalamua'alaikum Ran??" Sapaku pada Rani yang menelponku.
"Wa'alaikumsalam Jan, lagi apa?? ketemu yuk, aku mau ngasih kamu berita" ajak Rani di seberang sana.
"Pengangguran mah lagi santai aja Ran, hee ... boleh, mau ketemu di mana Ran??" Jawabku, aku memutuskan untuk bertemu Rani saja, sudah lama juga aku tidak menemuinya.
"Ya udah, nanti siang di *c*affe biasa ya" perintah Rani.
"Iya Ran, sampai ketemu nanti ya ..." Pamitku
"Iya Jan, Asslamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam"
Aku menutup telponku dari Rani, kemudian menuju kamarku untuk bersiap - siap menemui Rani nanti siang, aku sangat penasaran, memangnya Rani punya berita apa sih?? sampai - sampai ngajak ketemuan segala???.
__ADS_1
Bersambung.......................
Jangan lupa like, koment, Bintang lima dan Vote nya ya readers.....author tunggu......