
Selesai makan, masih dalam suasana yang sangat canggung, karena obrolan Ayah dan Ibu tadi, aku dan Indah membereskan bekas makan kami, sementara Ayah, Andre, dan Anwar mengobrol kesana kemari, khas laki-laki, entah apa saja yang mereka obrolkan, mereka terlihat sangat akrab apalagi di tengah suasana yang sejuk.
“Kakak,“ panggil Indah kepadaku.
“Iya, kenapa Indah??” jawabku menatapnya lekat.
“Kakak, sudah memaafkan Indah?” tanya Indah yang membuatku terhenyak seketika aku kembali mengingat penghianatan adikku dulu.
“Memaafkan untuk apa Indah?” tanyaku mengerutkan kening, berpura-pura tidak mengerti.
“Indah tahu, sudah terlalu banyak kesalahan Indah pada Kakak, sering Indah mengalami sulit tidur, hanya karena teringat kesalahan Indah pada Kakak“ kata Indah sambil menunduk dalam, matanya mulai memerah. Aku menatapnya dan tersenyum.
“Kakak, sudah memaafkan Indah, jauh sebelum Indah memintanya“ jawabku tulus, selama ini aku memang menyimpan banyak rasa kecewa untuk Indah, tapi, aku akan mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri. Aku mencoba untuk memaafkan semua kesalahn adikku yang dulu dan kini sangat kusayangi.
“Terimakasih banyak Kakak, selama ini Indah selalu di hantui rasa bersalah, Indah salah Kakak, maafkan semua kesalahan Indah“ Mata Indah mulai berkaca-kaca.
“Indah, semua manusia tidak ada yang sempurna bukan? Semua manusia pasti pernah melakukakn kesalahan, tanpa terkecuali Kakak“ jawabku lirih, tanganku mulai menyentuh pipi Indah yang sudah basah oleh air mata.
“Kakak, aku tidak tahu akan jadi apa jika tanpa nama Kakak yang menaungiku, aku tidak tahu harus berbuat apa ketika Kakak mulai menjauh dariku, selama ini aku sangat membenci diriku sendiri Kakak, aku menyesal telah berbuat banyak kesalahan pada Kakak, aku menyesal karena terlalu sering membuat Kakak sulit, sakit, dan menderita, aku memang adik yang tidak tau diri Kakak, maafkan aku.“ Tangis Indah pecah.
“Indah, jangan seperti ini, Kakak hanya perantara, semua rizky itu di berikan oleh Allah, bukan oleh manusia, sudah ya ... Indah jangan sedih lagi, mulai sekarang Indah harus bahagia, Kakak gak pernah benci Indah kok“ Aku memeluk Indah erat, ada kerinduan di hatiku setelah sekian lama tak bisa memeluknya, aku sangat menyayangi adikku, terlepas dari kesalahan fatal yang pernah dia lakukan.
“Makasih Kakak, Kakak sangat baik sekali“ Indah masih sesenggukan.
“Iya, sama-sama Indah, udah jangan nangis lagi ya ...” Aku mengelus pipi Indah, Indah mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
“Waaahhhh ... ada apa ini?? kenapa kalian berpelukan?” tanya Ibu yang tiba-tiba datang.
“Tidak ada apa-apa Ibu, kami hanya sedang melepas rindu“ jawabku tersenyum pada Ibu.
“Ibu bahagia jika bisa melihat kalian akur lagi seperti ini“ Ibu menatap kami bergantian.
“Sini Ibu peluk kami juga“ Aku merangkul Ibu, dan jadilah kami berpelukan bertiga.
Ah, rasanya aku berada di dalam mimpi, Ya Allah ... Jika ini mimpi, maka aku tidak ingin terbangun lagi.
Kini masih disini, aku melihat Indah bergandengan tangan dengan Andre, sambil berjalan-jalan, sementara Ayah dan Ibu masih saja berdebat, entah apalagi yang mereka debatkan. Tapi biarkan sajalah, aku merasa senang dengan kebersamaan kami hari ini.
Aku duduk di pinggiran danau, sambil menikmati angin yang semilir menerpa hijabku. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan setiap keindahan yang diciptakan Allah.
“Jan, ini buat kamu“ tiba-tiba Anwar menyodorkan ice cream vanilla kesukaanku.
“Iya, sama-sama, Udaranya sejuk ya?“ kata Anwar sambil duduk di sampingku.
“Iya, aku suka kalau punya rumah di tempat sesejuk ini" jawabku sambil menerawang.
“Aku punya villa di pedesaan, yang tempatnya jauh lebih Indah dari ini, kamu mau gak aku ajak kesana??“ tanya Anwar, sambil tersenyum menoleh padaku.
“O ya?, kamu pernah ngajak siapa aja ke sana??“ Aku membalas senyumnya, sambil bertanya padanya.
“Hanya orang-orang istimewa yang akan aku ajak kesana” jawab Anwar mantap.
__ADS_1
“Jadi?? Aku istimewa??” tanyaku sambil meliriknya.
“Jika kamu mau di ajak kesana“ Anwar terkekeh.
“Eeeemmmm gitu ya??” Aku memutar kedua bola mataku, khas orang berfikir.
“Kamu mau kan Jan??” tanya Anwar lagi.
“Mau apa??” tanyaku sambil tersenyum.
“Kamu mau menikah denganku Jan??” tanya Anwar seketika wajahnya menjadi serius.
“Maksud kamu?” Aku menautkan kedua alisku. Tapi pertanyaan Anwar aku yakin akan terlontar juga, mengingat permintaan Ibunya tempo hari.
“Menikahlah dengaku Jan, Aku tidak akan menjanjikan kebahagiaan untukmu, tapi aku akan berusaha untuk membuat kamu tidak menangis lagi karena kesedihan“ Anwar memohon padaku. Aku bingung, entah jawaban apa yang harus ku berikan pada Anwar. Sementara hatiku terus bergemuruh hebat.
Dag,
Dig,
Dug,
Tidak karuan.
“Anwar..................”
__ADS_1
Bersambung................
Kakak kakak readers....dukung aku terus yaaaa @Anwar