KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Petuah part 2


__ADS_3

Banyak cara untuk bisa mensyukuri hasil ciptaan yang maha kuasa, tak perlu aku menjabarkan panjang lebar, tentang bagaimana caraku mencintainya, kalian faham betul seperti apa aku jatuh bangun menata hatiku untuk bisa bangkit dari segala keterpurukanku selama ini.


Pagi hari, aku masih duduk menyender pada kepala ranjang, semalaman suntuk aku tidak bisa terlelap, aku teringat akan banyak hal, Ibu, Ayah, Indah, dan Anwar suamiku, apa kabar mereka???.


Taukah kalian?? Aku sangat merindukan kalian, apa kalian juga merindukanku???.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu, seketika membuat lamunanku buyar, aku menoleh pada pintu yang sudah terbuka.


“Hay Anjani“ seorang pria berbadan tinggi, menghampiriku.


“Hay, Randi??” sapaku pada pria yang menghampiriku.


“Bagaimana keadaanmu hari ini??” tanyanya sambil tersenyum.


“Baik, seperti yang kamu lihat“ Aku membalas senyumnya.


“Bagaimana kandunganmu??” tanyanya lagi.


“Emmhh, baik“ jawabku, sambil menatap perutku sendiri, rasanya aneh, aku belum terbiasa dengan kehadirannya.


“Ok, Anjani, kapan kamu akan kembali pada keluargamu??” tanyanya, membuatku menunduk.


“Keluarga???” lirihku pelan.


Entahlah, jika aku kembali kepada keluargaku, akankah aku sanggup jika aku bertemu kembali dengan Anwar??? Haruskah aku memaafkan kesalahan Anwar??? Aku sedang mengandung anaknya sekarang. Apa yang harus kulakukan???.


“Iya, keluarga, kamu tidak rindu pada ayah dari anak kamu?” tanyanya menatapku lekat.


“Rindu??” gumamku seolah bertanya pada diriku sendiri.


“Iya, kamu gak kangen sama suami kamu???” tanyanya lagi.


“Kangen?” lagi aku bergumam.


“Iya“ jawabnya tersenyum.


Dan aku hanya bisa terdiam, diamku kali ini adalah caraku merindukannya, jujurnya bisa mencintainya adalah sebuah keindahan, dan bisa dicintainya adalah kebahagiaan, rinduku begitu menggebu, tapi rindu ini terganjal oleh rasa kecewa yang sulit aku maafkan. Sakit, sangat sakit.


“Anjani???” tanya Randi mengagetkanku.


“I iya??” jawabku gugup.


“Jangan terlalu stress nanti berpengaruh pada kandunganmu“ Randi kembali menatapku.


Aku tersenyum lagi, pria ini kenapa begitu baik sekali, membantu menyelamatkan aku dari maut, merawatku dengan baik.


“Terimakasih, kamu begitu baik sekali“ Aku menatapnya penuh haru.

__ADS_1


“Anjani, kamu mau jalan-jalan?” tawarnya.


“Di sini pemandangannya bagus lho” lanjutnya.


Aku terdiam lagi, terlalu banyak fikiran berputar-putar di kepalaku.


“Udah, jangan kebanyakan mikir, ayo“ Randi berjalan mendahuluiku.


Tanpa sadar aku mengikutinya, hingga kita tiba disuatu tempat, tempat yang begitu indah, hamparan danau sungguhan begitu membentang luas, aku menatapnya penuh kekaguman, di tambah suara kicauan burung, menambah keasrian tempat ini.


“Kamu suka tempat ini??” tanyanya, sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Suka” jawabku.


“Kenapa kamu begitu baik padaku??” ku ungkapkan rasa penasaran yang terus mengganjal dihatiku.


Randi duduk di atas hamparan rumput yang bagai permadani ini, “Anjani kamu tahu?? Aku pernah kehilangan orang yang paling aku cintai“ Randi mulai membuka kisahnya.


“Siapa??” tanyaku.


“Istriku“ jawabnya, sambil tertunduk lesu, seolah kembali mengingat masa lalu.


“Innalillahi, aku turut berduka cita“ ada rasa penyesalan di hatiku, kenapa aku begitu penasaran dengan kebaikan orang lain.


“Gak apa-apa“ jawabnya sambil menunduk, aku tahu, ada banyak kesedihan di hatinya.


“Dia meninggal karena kecelakaan, di saat dia mengandung anak kami“ Ku lihat mata Randi sudah berkaca-kaca.


“Maaf, sudah menyinggungmu".


“Tidak apa apa, kamu tau Anjani??? Aku begitu menyesal kala itu, aku membiarkan istriku pergi sendirian, hanya karena aku sedang sibuk bekerja, itulah sebabnya, kenapa sekarang aku mengabdikan diriku ditempat ini“ jelasnya.


“Begitu ya??? Lalu ibu Retno??” tanyaku.


“Ibu Retno bukan orangtuaku, aku hanya menganggap mereka sebagai orangtuaku“ Randi kembali menjelaskan.


“O ya??? Maaf aku fikir kalian semua adalah keluarga“ Aku mengangguk pelan.


“Tidak, hanya saja ketika aku di pindah tugaskan kesini, aku memilih untuk tinggal dirumah mereka, dan kebetulan mereka juga sudah menganggapku seperti putranya sendiri“ jelas Randi.


Aku menunduk, bimbang, itu yang ada di hatiku.


“Anjani, aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, jangan sampai kamu menyesal seperti aku Jan“ lagi, Randi mengingatkan.


“Aku tau, kamu pasti sedang ada masalah bukan?? Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi aku hanya ingin menyarankan, pilih pilihan terbaik untuk hidupmu“ Randi menarik napas panjang, ganjalan dihatinya tak kalah besar dari ganjalan dihatiku.


“Entahlah, aku tidak tahu“ Ku ungkapkan bimbangku pada pria baik di sampingku.


“Istikhoroh, itu jalan terbaik ketika kamu bimbang“ saran Randi.

__ADS_1


“Iya, kamu benar, aku bahkan tidak terfikirkan akan hal itu“ Aku antusias dengan saran Randi.


“Kadang, kebimbangan bisa menutup fikiran jernih manusia“ Randi tersenyum menatapku.


“Iya, kamu benar, sekali lagi terimakasih banyak ya Randi, kamu begitu baik“ sekali lagi kuungkapkan rasa terimakasihku pada Randi, pria yang sudah terlalu banyak menolongku ini.


“Sama-sama Jan“ lagi, dia tersenyum lembut.


Di tengah obrolan kami, tiba-tiba aku melihat ada orang yang berlarian, entah apa yang mereka ingin lihat.


“Ran, ada apa ya?? Kok rame rame??” tanyaku celingukan.


“Gak tau, lihat yuk“ ajaknya sambil berdiri.


“Mbak, ada apa ya??” tanyaku pada perempuan yang juga tengah berlari.


“Itu Mbak, ada perempuan yang sedang dilamar sama pacarnya“ jawabnya sambil melanjutkan larinya.


Aku mengernyitkan dahi, dilamar sama pacarnya?? Tapi kenapa sebegitu hebohnya, emangnya kayak gimana sih??? Jiwa kepoku kembali muncul.


“Ran, lihat juga yuk“ aku berjalan mendahului Randi.


“Iya“ Randi mengikuti langkahku dari belakang.


Di antara kerumunan orang, aku berusaha menyelinap ketengah, aku berjinjit berusaha melihat yang menjadi sumber perhatian.


“Terima , Terima, terima!!!” teriak orang-orang membahana, kala sang pria bersimpuh dihadapan sang wanita, meminta agar di terima cintanya.


Sementara si perempuan hanya menganga, sambil menutup mulutnya.


Seketika bayangan masa lalu kembali hadir dalam ingatanku, dimana ketika Anwar melamarku, sambil bersimpuh, di tepi danau.


“Anwar, apa yang harus kulakukan sekarang? Hatiku begitu merindukanmu, tapi fikiranku begitu kacau, fikiranku sibuk membencimu atas sikapmu, Anwar, kenapa kamu tega sekali, menghancurkan hidupku???” hatiku bergumam, pandanganku memburam, air mataku hampir luruh, meski aku berusaha menahannya sekuat tenaga.


“Apa kamu mengingat sesuatu???” tiba-tiba Randi bertanya di sebelahku.


“Hmmhh” jawabku sambil menyeka air mata.


“Jangan ditahan, keluarkan saja“.


“Aku rindu suamiku, aku rindu Ayah dari anakku“ aku terisak.


“Temui dia Jan, jangan sampai kamu menyesal"


“Tapi aku begitu kecewa dengan sikapnya“.


“Bukankah manusia tidak ada yang sempurna?? Aku, kamupun begitu bukan??kita pernah melakukan banyak kesalahan Jan“


Tangisku seketika pecah, “Ya Allah, berikan aku segala yang terbaik, sungguh aku tidak sanggup menerima kenyataan ini, aku begitu mencintai pria yang mengecewakanku itu, ya Allah, beri aku segala yang terbaik“ lirih hatiku menjerit menyebut namanya, nama yang selama ini bertahta di hatiku Allah, dan Anwar.

__ADS_1


Bersambung................


Hay gengs, jangan lupa dukung author, yang sudah stuck idea ini yes....


__ADS_2