
Dia bilang, aku adalah perempuan yang paling dicintainya, dia bilang aku adalah perempuan yang sempurna untuk menjadi pendampingnya, dia bilang aku adalah perempuan yang harus dinikahinya, dia bilang aku adalah satu-satunya perempuan yang selalu bertahta di hatinya, tapi nyatanya dia telah mengecewakanku, menggoreskan luka mendalam, aku sungguh kecewa padanya.
Tapi, sekelebat, segala kebersamaan kita datang silih berganti di kepalaku, aku telah melakukan banyak hal untuknya, dan dia juga telah melakukan banyak hal untukku.
Aku, bukan perempuan yang pandai memasak, apalagi masakan nusantara, meski aku orang Indonesia asli, tapi memasak masakan Indonesia, aku sungguh tidak ahli, tapi demi suamiku, aku rela seharian berkutat di dapur, membolak-balik buku resep, atau menonton tutorial di youtube, hanya untuk bisa menyenangkan hatinya.
Aku juga tidak tahu, kenapa kebanyakan pria sangat menyukai acara sepak bola, kita seringkali berdebat hanya karena masalah itu, tapi untukmu Anwar, aku diam-diam telah menghafal nama-nama pemain sepak bola yang sulit di sebutkan, aku juga sudah menghafal aturan permainan bola yang cukup rumit.
Meskipun kami sering berdebat, tapi tiap kali kami selesai berdebat, Anwar akan bilang, “Maafkan aku Jan, jangan marah lagi, aku sangat mencintaimu“ Aku sungguh merindukan kata-kata itu, Anwar akan duluan mengatakan ‘Maaf’ karena dia tau, aku bukan orang yang bisa dengan mudah mengatakan ‘aku minta maaf’ atau ‘aku mencintaimu’.
“Aku tidak ingin kita bertengkar lagi, aku tidak ingin melihatmu terluka, aku tidak ingin melihatmu menangis, aku hanya ingin kamu bahagia“ kata-kata itu, selalu membuatku terharu.
Bahkan jika dunia, pernah menganggapmu sebagai orang tidak waras, tapi dimataku, kamu adalah orang paling berharga, karena kamu pernah memperjuangkan aku, pernah mencintaiku, mengorbankan banyak hal untukku, maka akupun mungkin harus begitu, akupun harus setia, harus mendukungmu, dan mendampingimu hingga nanti. Tak masalah dengan pandangan orang tentangmu. Itu tidak penting sama sekali.
Aku tidak tahu, kapan kita mulai jatuh cinta, kapan hati kita mulai tersentuh, kapan kita tidak bisa hidup satu sama lain, tapi yang tidak bisa aku lupakan, adalah bagaimana cara pertama kali kita bertemu, saling menyapa, dan diam-diam saling berharap jika kita adalah jodoh.
Kamu selalu tidak peduli, meski aku bukan perempuan yang sempurna, aku banyak kekurangan, selama aku adalah Anjani, maka kamu akan tetap mencintaiku. Yah ... mungkin akupun harus begitu.
Seketika, aku merasa jika semua kekurangan dan kesalahan Anwar di masa lalu, menjadi sangat tidak penting. Bukankah kita hidup berjalan kedepan??.
Dulu, aku selalu memberikan kesempatan kedua kepada semua orang yang telah menyakitiku, kali ini, akupun akan memberikan kesempatan kedua pada suamiku, karena sekarang, selain aku juga ada anakku yang membutuhkan sosok Ayah. Aku tidak ingin kisahku terulang oleh anakku, merindukan Ayahnya hanya dalam diam. Tidak, aku ingin anakku mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari kedua orang tuanya. Yah ... ku putuskan, aku akan pulang.
“Ibu Retno, Bapak Giman dan Randi, aku sudah memutuskan, hari ini aku akan pulang“ kataku pada mereka, yang tengah menikmati paginya di bale bale rumah.
“Alhamdulillah“ ucap syukur terdengar menggema dari bibir mereka.
“Ibu Retno, terimakasih banyak selama ini sudah merawat Anjani dengan sangat baik, maaf sudah merepotkan“ Aku mendekatkan diriku pada tubuh bu Retno.
__ADS_1
“Ibu sangat bahagia, bisa merawat nak Anjani, selama kami menikah, kami belum di percaya untuk memiliki anak, dengan adanya nak Anjani dan nak Randi, Ibu menjadi merasa memiliki anak“ Bu Retno menunduk, tangisnya pecah.
“Ibu, Ibu Retno jangan sedih ya, Jani janji nanti akan datang lagi kesini“ bujukku.
“Iya,“ jawab bu Retno, sambil terus mengelap air matanya dengan punggung tangannya.
“Ibu, nanti kalau ada waktu Jani juga mau bawa keluarga Jani kesini, boleh??” tanyaku menatapnya sambil tersenyum.
“Tentu saja, Ibu akan sangat bahagia, jika nak Jani, masih mau berkunjung kesini“ jawabnya dengan mata berbinar.
“Ibu, terimakasih banyak telah banyak membantu Jani, Ibu seperti malaikat tak bersayap bagi Jani, Ibu sudah rela merawat Jani dan anak Jani dengan sangat baik disini, sekali lagi terimakasih banyak ya bu“ Aku memeluk tubuh bu Retno erat, sungguh aku sangat bahagia bisa tinggal disini, di tempat ini aku telah belajar banyak hal, tentang ketulusan, kebersamaan, dan kesederhanaan.
“Sama sama nak“ jawabnya, sambil membalas pelukanku tak kalah erat, sementara pak Giman dan Randi hanya menatap kami penuh haru.
“Jan, apa aku perlu mengantarmu??” tawar Randi, sambil menghampiriku yang tengah bersiap-siap.
“Baiklah, maaf, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu Jan“ Randi tertunduk, kenapa kata-katanya sangat sulit ku artikan.
“Tidak apa-apa, semua yang kamu lakukan sudah lebih dari cukup, terimakasih banyak, karena selama ini, kamu sudah sangat benyak membantuku dan anakku“ Aku tersenyum, menatapnya sekilas, lalu menunduk.
“Aku bahagia, bisa membantumu“ jawabnya.
“Kapan-kapan, kamu harus main kerumahku, aku akan sangat bahagia, jika kita masih bisa menjalin silaturahmu dengan baik“ pintaku.
“Emh, iya akan aku usahakan Jan“ jawabnya sambil menatapku, tatapan itu ... ah ... entahlah.
“Sekali lagi terimakasih banyak ya Ran, atas semua pertolonganmu“ sekali lagi, ku ungkapkan rasa terimakasihku pada Randi, yang sudah menjadi perantara untuk hidupku.
__ADS_1
“Iya, sama-sama Jan, ya udah, ayo kita berangkat“ Randi beranjak mendahuluiku.
Aku mengikutinya dari belakang.
Setelah berpamitan pada Bu Retno dan pak Giman, dengan segala drama, akhirnya aku berangkat menuju terminal, aku menaiki bis yang sama ketika aku terjatuh kejurang.
Deg!
Jantungku berdebar kuat, kala aku duduk dikursi penumpang, bayangan maut itu kembali hadir di kepalaku. Randi melambaikan tangannya, ketika bus melaju membawaku pergi.
“Selamat tinggal, dan terimakasih Randi“ gumamku.
Sepanjang perjalanan, aku memejamkan mata, bukan karena aku mengantuk, tapi karena aku takut, kejadian itu terulang kembali, ah ... kecelakaan maut itu membuatku trauma ketika menaiki kendaraan umum.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menyukai duduk di dekat jendela. Menyebalkan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya aku tiba di sebuah halte bus, halte yang sama, dimana aku menapakkan kaki pada sebuah bus yang mengantarkanku pada kecelakaan maut itu.
Aku berdiri, kemudian keluar dari bis ini, ku langkahkan kakiku menuju taman yang tak jauh dari kantor Anwar, seperti pertama kali aku akan pergi, sejenak aku terduduk di kursi ini.
Sekarang aku memutuskan untuk kembali.
“Apa kabar Anwar??? Aku datang ...”
Bersambung........................
Part ini, adalah part yang penuh dengan perjuangan, kenapa??? karena setelah author ngetik ribuan kata, tiba tiba aja teksnya menghilang, dan gak bisa dibalikin. Akhirnya author ngetik ulang, dengan kata kata yang agak berbeda dengan rencana awal, uuuggghhhh.......
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.................