KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Kenyataan


__ADS_3

“Mas Bagas ... “


Seketika lututku lemas, dadaku sesak, aku mundur perlahan dan berjalan cepat keluar dari kosan ini, aku tidak kuat. Sungguh aku tidak kuat melihat apa yang sudah di lakukan suamiku. Aku melihat Bagas sedang melakukan hubungan suami istri dengan teman prianya, mereka bergumul di bawah selimut tanpa sehelai bajupun. Jadi selama ini Bagas adalah seorang GAY.


Setibanya di kosanku aku muntah, aku jijik dengan tingkah suamiku, aku terus memuntahkan semua yang ada di dalam perutku ketika terbayang wajah suamiku. Jadi ini alasan Bagas tidak bisa menerimaku sebagai istrinya?? Karena dia mencintai kekasihnya?? Dan kekasihnya itu seorang pria?? Jadi rivalku adalah seorang pria?? Ini pula alasan Bagas tidak suka menemaniku setiap malam?? Aku sungguh tida percaya pada ke adaan yang menimpaku kini, kenapa Allah mengujiku dengan begitu beratnya. Aku sangat lelah ya Allah.


Aku membaringkan tubuhku di kasur, betapa aku ingin menangis sekuat tenaga, tapi anehnya aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya bisa mengurut dadaku yang tengah bergemuruh, entah apa yang harus ku lakukan sekarang?? Apa aku harus meminta pisah dari suamiku?? Tidak.


Aku tidak ingin melakukannya, setiap penyakit pasti ada obatnya. Apa aku harus mengatakan kenyataan ini pada keluarganya?? Tidak. Ini aib suamiku, aibku juga, aku tidak mungkin mengatakannya kepada siapapun, aku harus bisa menjaga aib di dalam rumah tanggaku.


Tapi kini aku sangat membenci suamiku, aku tidak sanggup jika harus bertemu dengannya, tapi pergi dari rumah pun bukan jawaban yang tepat. Aku harus bertahan. Sekali lagi ku paksa jiwaku untuk bisa bersabar.


Hari ini aku kehilangan moodku untuk melakukan apapun. Aku hanya terdiam, untuk mengusir jenuh, aku menyalakan tv, dan mulai menonton, tapi entah apa yang ku tonton, pandanganku hampa, seperti jiwaku.


Bagas pulang, tapi aku tidak ingin menatapnya, aku masih muak dengan akhlaknya. Terlihat dia menatapku yang sedang asyik dengan acara tv. Kemudian dia pergi mandi, mungkin dia kelelahan karena sudah melayani pacar prianya. 


Aku sungguh membencinya kini. Selesai mandi, dia menuju ruang makan, mungkin dia lapar, karena tenaganya sudah habis untuk bercinta dengan makhluk sesama jenisnya. Aku sungguh ingin muntah kembali.


“Jan, kamu tidak masak??” tanyanya, Aku tidak ingin menjawabnya, aku tahu ini dosa, bagaimanapun ke adaannya, dia tetap suamiku, imamku, tapi kekecewaanku kini, lebih besar dari rasa hormatku kepadanya.


Setelah menunggu jawaban yang tidak ku berikan, Bagas akhirnya keluar rumah, mungkin dia akan membeli makan di luar, ku biarkan saja dia pergi, aku tetap menatap layar tv yang sebenarnya tidak aku tonton. Tidak lama Bagas pulang dan menenteng dua bungkus makanan.


“Jan, ayo makan“ Ajaknya, aku tetap tak bergeming, aku masih tidak ingin menjawabnya.


Ada raut kecewa di wajah tampan suamiku, ketika aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Dia akhirnya makan sendiri, tanpa mengajakku lagi. Selesai makan, dia langsung masuk kamar tanpa bertanya apa-apa lagi padaku. Aku mendengus kesal, aku sungguh tak ingin melihat wajahnya. Aku memutuskan akan tidur di ruang tv saja. Aku berjalan menuju kamar, ku lihat Bagas sudah tidur terlentang, aku menatapnya dengan penuh kekesalan, perlahan aku mengambil selimut dan bantal lalu keluar dari kamar ini.

__ADS_1


“Mau kemana kamu??” tiba-tiba Bagas membuka matanya dan mencengkram tanganku kuat, hingga aku meringis kesakitan.


“Lepas!!!“ Aku melepaskan tangan Bagas kasar, aku merasa jijik ketika harus bersentuhan dengan budak iblis ini.


“Kamu kenapa??” tanyanya, untuk pertama kalinya, suamiku bertanya ke adaanku, hati kecilku sangat senang, tapi bayangan perselingkuhan Bagas dengan teman prianya, membuatku sadar dan langsung keluar dari kamar.


Aku menidurkan tubuhku di karpet di depan tv, badanku pasti akan sakit semua di esok hari, tapi aku tidak peduli. Aku mencoba memejamkan mataku, hingga aku tertidur dengan sendirinya.


Ke esokan harinya, aku bangun subuh, Tapi anehnya kini aku terbangun di dalam kamar, di atas kasurku, padahal aku ingat betul, tadi malam aku tidur di depan tv. Mungkin Bagas yang memindahkanku, tapi kini Bagas tidak ada di sampingku, aku tidak peduli, aku beranjak dari tempat tidur lalu membersihkan diri, untuk segera menunaikan shalat subuh, aku meminta petunjuk kepada yang maha kuasa, apa yang harus ku lakukan sekarang??aku sungguh dalam ke adaan bimbang dan ragu.


Aku tidak memasak, juga tidak menyiapkan segala keperluan Bagas, aku membiarkannya saja, untuk menghindarinya, aku memutuskan untuk lari pagi, agar seluruh aura kebencianku hilang dari tubuh ku.


Selesai lari pagi aku pulang ke rumah, setelah masuk ke dalam rumah,


Deg!!


Setelah aku berada di dalam kamar, tiba-tiba Bagas masuk ke dalam kamar dalam ke adaan yang berapi-api.


“Anjani!!! Apa-apaan kamu??!!! Main banting pintu di depan tamu seenaknya, kamu fikir rumah ini rumah kamu sendiri?? Iya!!!” hardik Bagas yang membuatku terkejut.


Dasar suami gila!! Beraninya dia membentakku demi pria itu.


Tiba-tiba Bagas menarik lenganku, dan mencengkramnya kuat.


“Mau kamu apa hah??? Kamu mau pisah dariku?? Iya???!!!!!” Bagas masih berapi-api.


Aku diam menatapnya, aku tidak ingin mengambil keputusan dalam ke adaan emosi.

__ADS_1


“Kamu itu kenapa sih?? Aku nanya kamu dari kemarin gak pernah di jawab, bahkan kamu berani tidur terpisah dariku“ suara Bagas mulai rendah, tapi aku masih tidak ingin bicara. Harusnya aku yang marah, tapi aku masih belum punya keberanian untuk mengatakan apapun.


“Aku tanya, kamu kenapa Anjani!!!! JAWAB!” Bagas mulai menaikkan suaranya lagi.


“Aku harus jawab apa??” jawabku lemah, aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bicara. Hatiku sakit, harus terus menerima kenyataan ini.


“Kamu jawab kamu kenapa??” tanyanya lagi.


“Aku gak apa-apa” jawabku sambil berjalan menuju luar kamar, tapi Bagas dengan sigap mengunci kamar, sambil menahan tanganku.


“Jangan diamkan aku Anjani“ seketika aku terhenyak, dari awal menikah, aku sangat ingin mendengar suara suamiku lebih dari kata 'Hem, dan iya'. Tapi kini aku bahkan membenci suaranya.


“Kamu pernah mencintaiku??” tanyaku, yang membuatnya langsung terdiam.


“Kamu gak bisa jawab??? Jika kamu fikir selama ini sikapku menunjukkan aku sangat mencintai kamu, maka jawabannya adalah tidak, aku melakukan semuanya hanya karena kewajibanku sebagai seorang istri,  jika kamu fikir aku ikhlas menjalankan pernikahan ini, maka jawabannya tidak, aku sangat terpaksa ketika harus menikah denganmu Mas, kamu bilang kamu punya pacar yang sangat kamu cintai?? Aku pun sama, aku juga memiliki kekasih yang sangat aku cintai dan tidak bisa aku lupakan, kamu fikir semua ini mudah bagiku???” jelasku meluapkan semua unek-unekku selama ini.


“Kamu boleh mengungkapkan semua unek-unekmu Jan, aku akan terima“ Bagas menundukkan kepalanya.


“Selama ini, aku sudah berusaha menjadi istri terbaik untukmu, tapi jika segala pengorbananku tidak ada artinya bagimu, maka aku tidak bisa melakukan apapun lagi“ jawabku dengan pandangan nanar, aku melihat ada gurat sedih di wajah Bagas, matanya mulai memerah.


“Gas, Bagas ...” belum aku selesai dengan segala unek-unekku, terdengar suara orang memanggil Bagas, aku lupa, karena asik berdebat, kami telah meninggalkan tamu spesial suamiku di luar.


“Temen kamu manggil“ kataku sambil berlalu membuka pintu kamar dan langsung masuk ke kamar mandi. Aku sungguh benci ke adaan ini. Sangat.


Bersambung.....................


Jangan lupa dukungan nya ya readers.....Like, komen, bintang lima dan vote sebanyak banyak nya...makasiiihhhh....

__ADS_1


__ADS_2