
“Memangnya jika aku belum punya anak setelah lama menikah kenapa?? Apa ketika aku punya anak, Kalian akan ikut mengurusi anakku?”
Aku menghela napas ketika membaca status WA Indah, adikku. Ketika aku berada di dalam taksi online yang kupesan, untuk mengunjungi kantor suamiku.
Pertama, kenapa ada banyak orang yang suka sekali berteriak-teriak, mengungkapkan perasaannya pada sebuah status di media sosial?? Apa mereka memiliki kepuasan tersendiri, ketika sudah mengungkapkan isi hatinya di media sosial?? Bukankah dengan mengumbar segala amarah, kebencian, rasa kesal, bahagia dll, dll, justru akan membuat orang lain jadi risih?? Mereka jadi tahu sisi lemah dari diri kita, mereka juga akan dengan mudah tahu segala aktifitas diri, dan aktifitas hati yang tengah kita lakukan.
Bukankah itu akan lebih mudah memancing orang-orang jahat untuk beraksi?? Ayolah, kita masih punya Allah sebagai tempat keluh kesah, adukan semua yang kamu rasa pada Allah.
Kadang aku juga sering miris, ketika di zaman dengan persaingan ekonomi yang ketat ini, sebagian orang malah wara wiri memamerkan jika dirinya mampu liburan ke tempat yang super mahal, memposting makanan yang super mahal, enak, dan berkualiats, iya, mungkin bagi mereka yang memposting makanan seharga dua juta, atau lebih hanya seupil, tapi, taukah mereka? Jika di belahan dunia lain, ada banyak manusia yang kelaparan, yang bahkan untuk bisa minum saja sudah sangat Alhamdulillah. Kini aku juga jadi belajar untuk hidup lebih manusiawi.
Tapi, kedua, Indah kenapa?? Sampai dia memposting tentang anak segala?? Apa dia sedang ada masalah dengan keluarganya?? Atau dia sedang dinyinyiri oleh para tetangga lagi?? Seperti yang sering dia keluhkan padaku?? Entahlah, gara-gara postingan itu, fikiranku jadi berkecamuk menerka-nerka, jadi suudzan juga, ah ... ya Allah ... gara-gara sebuah status, yang ditulis Indah di media sosial, dosaku jadi melimpah ruah.
“Assalamu’alaikum,“ sapaku pada reseptionis yang sudah mengenaliku, setibanya aku di kantor Anwar.
“Wa’alaikumsalam bu Anjani, mau keruangan Bapak ya??” tanyanya ramah.
“Iya, suami saya sudah selesai meetingnya??” tanyaku.
“Sebentar lagi bu, mohon ditunggu, ibu silahkan masuk saja ke ruangan kerja Bapak,“ jawabnya sambil menunjukkan lengannya ke arah ruangan Anwar penuh hormat.
“Ah, iya terimakasih“ jawabku tersenyum sambil berlalu.
Aku memasuki ruangan kerja Anwar, yang besar dan terkesan mewah, kupandangi semua barang yang ada didalam ruangan ini, kemudian aku duduk di kursi kebesaran suamiku, setelah meletakkan rantang makanan yang dari tadi aku tenteng.
Ku tatap beberapa foto yang bertengger di meja kerjanya, satu foto ketika pernikahan kami, aku dan Anwar tengah bertatapan dengan menggunakan gaun berwarna biru muda berpolet pink, begitupun Anwar menggunakan tuxedo yang senada. Kami terlihat sangat bahagia di foto itu, kemudian kupandangi lagi foto di samping kanan kursi, semuanya terdapat foto-fotoku dan Anwar, kadang aku berfikir ruangan ini, seperti di dominasi oleh diriku sendiri, hhee. Anwar memang sungguh terlalu.
“Sayang, udah lama??” tanya seorang pria yang suaranya sudah sangat familiar di telingaku.
Aku membalikkan tubuhku, “Belum lama kok, baru lima belas menit yang lalu“ jawabku sambil tersenyum menyambut kedatangannya.
Anwar duduk di kursi soffa yang ada diruangan ini, kemudian aku mengikutinya sambil bersiap membuka bekal makanan yang sudah kupersiapkan.
“Kamu masak apa??” tanyanya sambil melonggarkan dasi yang melilit dilehernya.
__ADS_1
“Aku masak rendang sama mendoan“ jawabku sambil menuangkan nasi, dan rendang kedalam piring.
“Wah, kesukaan aku itu“ jawabnya antusias.
Aku tersenyum, lalu menyodorkan piring nasi ke hadapannya, “Ayo makan“ ajakku.
“Kamu jauh-jauh datang kesini cuman mau nganterin makan aja??” tanyanya tiba-tiba.
Aku mengerutkan dahi “Maksudnya?”.
“Suapin dong“ rajuknya, ampun deh.
“Malu dong, ini kan dikantor, bukan dirumah“ jawabku malu-malu.
“Kalau gitu, anggap aja ini dirumah“ ih, makin menjadi-jadi dia.
“Iya deh, sini aku suapin aaaaa” Aku menyodorkan sendok berisi nasi dan rendang kemulutnya tanpa malu lagi, ku fikir, jika ada banyak pasangan yang baru berstatus pacaran aja sudah mengumbar kemesraannya di hadapan umum, bahkan di media sosial, kenapa aku yang sudah sah, harus malu-malu segala??.
“Aaaaaaaammmm” Anwar tiba-tiba mengambil sendok yang kupegang, dan menyuapkan makanannya sendiri, ish ... dasar Anwar.
“Aku gak mau kamu capek, karena nyuapin aku“ gombal lagi ni orang.
“Ya ya ya“ jawabku mulai gemas.
“Jan, pulang dari sini kamu langsung pulang ya, aku masih ada pekerjaan, inget, langsung pulang lho ya, jangan kemana-mana dulu“ perintahnya, so berkuasa, he, tapi aku suka.
“Emmhh, Anwar, aku boleh minta izin gak??” Aku bertanya ragu-ragu.
“Apa??” tanyanya menghentikan mengunyah lalu memandangku lekat.
“Pulang dari sini aku mau kerumah Ibu dulu, boleh?” tanyaku,
“Kasian Ibu, aku udah satu minggu ini, belum mengunjungi Ibu,“ pintaku selanjutnya.
__ADS_1
“Iya, kalau kerumah Ibu, tentu boleh, pulangnya nanti aku jemput kamu ya, tapi inget, jangan kemana-mana dulu ya“ lagi, dia memerintahku, dengan nada yang sulit percaya padaku
“Iya, iya, iya“ jawabku mulai jengkel.
Tapi dia malah terkekeh mendengar jawabanku,
Setelah selesai makan siang, dan menyelesaikan beberapa adegan drama bersama Anwar, aku bergegas pulang, memesan taksi online, dan langsung meluncur menuju rumah Ibu.
“Assalamu’alaikum Ibu“ sapaku tetibanya dirumah Ibu, dan langsung masuk kedalam rumah, nyelonong begitu saja, berhubung pintu rumah tidak dikunci.
“Wa’alaikumsalam, eeehhh Anjani, kamu sama siapa kesini nak??” tanya Ibu, yang ternyata tengah menghadapi seorang tamu pria, dahiku mengkerut, dalam hati bertanya “Siapa tamu pria itu??” tapi kuurungkan niatku untuk bertanya, aku hanya tersenyum, manggut.
“Aku sendirian bu, nanti Mas Anwar jemput Jani kalau Mas Anwar sudah pulang kerja“ Jawabku, “Kalau gitu Jani ke kamar dulu ya bu, permisi“ Akupun berlalu menuju kamar yang dulu aku tempati, meninggalkan Ibu bersama tamu prianya, yang entah siapa.
Ku rebahkan diriku di ranjang, yang dulu pernah menemani setiap cerita kelamku, aku tersenyum memandang langit-langit kamar ini “Semoga, kali ini aku bisa hidup lebih bahagia“ lirih hatiku bergumam.
“Jan, kamu sudah makan?” tanya Ibu, yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, membuyarkan lamunanku.
“Eh, Ibu, sudah bu, tadi sama Mas Anwar di kantor“ jawabku sambil membenahi posisiku menjadi duduk.
“Ibu, tamunya sudah pergi??” tanyaku yang langsung di jawab Ibu “Sudah Jan, baru saja“
“Emh, dia siapa bu?” tanyaku mengungkapkan rasa penasaranku.
“Eeemmhh ...” terlihat mimik wajah Ibu berubah, seperti ada yang disembunyikan.
“Siapa bu??” lagi aku bertanya, rasa penasaranku semakin bertambah melihat ekspresi wajah Ibu.
“Dia ...”
Bersambung ..............
Hay readers, kira kira siapa pria yang bersama bu Maya itu ya ???
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya readers..............