KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Piknik Part 1


__ADS_3

“Hay Jan,” sapa Anwar yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu.


“Loh?? Anwar??” Aku mengernyitkan dahiku, melihat Anwar sudah berpakaian casual, dengan celana pendek, dan kaos polo, sepatu cats, dan tidak lupa dia menggunakan topi hitam, yang menyempurnakan penampilannya. Aku merasa heran, karena aku tidak merasa mengundang Anwar ke rumah.


“Iya, ayok kita berangkat,” ajak Anwar yang semakin tidak aku mengerti.


“Berangkat?? Berangkat kemana??” tanyaku.


“Loh? Ibu belum ngasih tau kamu ya??” Anwar nanya balik.


“Ngasih tahu?? Ngasih tau apaan sih?? Kok bawa bawa Ibu juga?” tanyaku semakin di landa keheranan.


“Eh, nak Anwar sudah datang, ayo masuk dulu nak Anwar“ sapa Ibu yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


“Kalian kenapa sih?? alAda apa??” tanyaku mulai kepo.


“Jan, hari ini kita mau piknik ke taman kota,“ jelas Ibu.


“Piknik?? Kok gak ada yang ngasih tau aku sebelumnya??” tanyaku cemberut.


“Ya, kan biar kejutan, ayo kamu siap-siap dulu, Ibu mau ngerapihin makanan yang mau di bawa, sebentar lagi Indah sama suaminya juga akan datang” jelas Ibu yang membuatku benar benar merasa terkejut, karena mereka merencanakan semuanya tanpa memberitahuku.


“Kalian jahat sekaliiiii“ jawabku sambil berlalu menuju kamar, untuk mengganti pakaian, sementara Ibu dan Anwar hanya saling tatap kemudian tersenyum melihat tingkahku.


Tak lama kemudian aku sudah siap, Indah dan Andre sudah datang, bekal piknik juga sudah siap dan di tenteng oleh Anwar.


“Ayok kita berangkat“ ajak Ibu, ada kebahagiaan yang terpancar sangat jelas di wajah Ibu, entah kenapa.


“Oke, ayoooooo!“ teriak Indah dan Andre semangat.


Aku hanya tersenyum dan mengikuti langkah mereka, menuju mobil Anwar. Tapi, belum kami masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada mobil lain yang terparkir di depan rumah, kemudian seorang pria turun dari mobil tersebut, dan tersenyum lembut pada kami.


“Ayah!“ teriakku senang sekali bisa bertemu dengan Ayah.

__ADS_1


“Anjani, Indah, kalian mau kemana?” tanya Ayah sambil memeluk kami satu persatu.


“Kami mau piknik Ayah, di taman kota, Ayah ikut aja ya” ajakku sambil melirik Ibu, tapi yang dilirik malah berdecih dan langsung masuk mobil Anwar, kulihat Anwar dan Andre malah mesem-mesem.


“Ayo ayah ikut aja“ rajuk Indah sambil bergelayut manja di tangan Ayah.


“Ah, Ayah fikir kalian tidak memiliki acara, Ayah ingin sekali ikut, tapi Ibu kalian pasti tidak setuju“ jawab Ayah lesu.


“Loh, Ibu pasti setuju kok, ayo Ayah udah ikut aja“ pintaku sambil menuntun Ayah yang sedari tadi hanya mematung.


Akhirnya Ayah menyerah, Ayah ikut ke mobil Anwar, untung saja mobil Anwar muat untuk kami berenam, aku duduk di depan bersama Anwar yang mengemudi, dan Indah bersama Andre duduk di kursi tengah, sementara Ibu dan Ayah, duduk di kursi paling belakang. Sepanjang perjalanan, Ibu terus mendesah, karena Ibu tidak ingin duduk berdekatan dengan Ayah, di tambah jalanan menuju tamkot, melalui jalan yang banyak polisi tidurnya, jadilah Ibu yang duduknya mepet di pinggir kursi, jadi terpental ketengah, dan mereka saling menyenggol. Sementara Indah dan Andre hanya terus menahan tawanya.


Hari ini aku sangat bahagia, aku bisa berkumpul dengan keluargaku tercinta. Aku bisa melihat Ayah dan Ibu duduk bersama, meskipun hanya untuk hari ini saja, aku juga melihat rumah tangga Indah dan Andre yang cukup terlihat harmonis, meskipun pada awalnya aku merasa sangat canggung sekali ketika bertemu dengan Andre, tapi lama-lama aku jadi terbiasa melihat kebersamaan mereka.


Setibanya di taman kota, kami segera menggelar tikar di bawah pohon besar yang rindang, yang menghadap ke danau buatan, suasana sangat sejuk dan indah sekali, aku merasa betah dan nyaman berada disini. Ibu dengan sigap segera menggelar makanan yang di bawa dari rumah, di bantu oleh Ayah. Aku terkekeh melihat mereka yang rasanya sulit terlihat akur, selalu saja ada kesalahan Ayah, entah salah menggelar tikarnyalah, salah naro piringlah, inilah, itulah, semua yang di lakukan Ayah, selalu salah di mata Ibu, tapi anehnya aku merasa lucu dengan tingkah mereka.


“Han, itu tikarnya bengkok!!” seru Ibu.


“Gak bisa Han, semuanya harus rapi“ tegas iIu sambil melotot.


“Iya, iya ...“ Ayah mengalah dan terus memperbaiki letak tikar yang sebenarnya sudah benar.


“Han, itu piringnya, Anjani yang bunganya warna pink, dan Indah yang warna hijau!!“ seru Ibu, lagi-lagi memerintah Ayah.


“Ya ampun Maya, kamu sama sekali tidak berubah, masih perfectsionis, piring yang mana aja sama, yang pentingkan bisa di pakai buat naro makanan“ jawab Ayah mulai prustasi.


“Gak bisa Han, jangan lupa nanti gelasnya juga di tata dengan warna yang sama!!“ seru Ibu masih tidak mau mengalah.


Ayah menggeleng-gelengkan kepala “Iya, iya ...” jawab Ayah pasrah.


“Ya sudah, tata semuanya dengan rapi, aku mau ke toilet dulu!“ seru Ibu lalu melangkahkan kakinya menuju toilet, Tak lama kemudian,


“Ya ampun Maya!!!!” tiba-tiba Ayah berteriak.

__ADS_1


“Kenapa Han?? Ada apa?? Ya Allah, Han!!Kenapa tikarnya bisa terbang?!!” seru Ibu menutup mulutnya.


“Maaf Maya, tadi aku tidak sengaja meninggalkan tikarnya, ketika aku akan mencuci sendok“ jawab Ayah sambil garuk-garuk kepala.


“Haaaaaaannnnnnnnn!! kacau sudah semuanya!!!“ Ibu tepok jidat, siap mengeluarkan taringnya. Ibu mengomel khas emak-emak, sambil membenahi tikar dan teman-temannya yang berantakan karena terhempas angin. Sementara Indah dan Andre yang sedang Asyik berfoto malah tertawa, begitupun aku dan Anwar.


Akhirnya, kami bisa makan dengan tenang, setelah banyak drama yang terjadi.


“Maya, apa kamu tidak memiliki niat untuk mencari pendamping lagi??” tanya Ayah di tengah acara makan kami.


“Uhuk ... uhuk ...” yang di tanya malah tersedak dan langsung minum.


“Tidak“ jawab Ibu ketus.


“Kenapa??” tanya Ayah.


“Aku sudah sangat nyaman hidup sendiri, sekarang anak-anak sudah dewasa, aku hanya ingin menikmati masa tuaku dengan menunggu kehadiran cucuku kelak“ jawab Ibu.


“Maya, apa tidak terfikirkan jika kita kembali bersama?” tanya Ayah, yang jujur membuatku sangat bahagia. Memang benar selama ini Ibu hanya sibuk mengurus kami, Ibu melupakan dirinya sendiri, aku berharap, Ayah dan Ibu bisa kembali bersama, dan aku bisa memiliki keluarga yang utuh.


“Maaf Han, aku tidak pernah memikirkan hal itu, aku fikir, kita mungkin akan lebih baik jika seperti ini saja, kita masih bisa jadi sahabat yang baik Han,“ jawab Ibu sambil memelankan kunyahannya. Sementara kami para anak-anak hanya diam menyimak, tidak berani berkomentar, meski kami tahu betapa menggebunya hati kami, untuk bisa memiliki keluarga yang lengkap.


“Kenapa Maya?? Apa kamu masih sangat membenciku??” tanya Ayah menatap Ibu lekat.


“Tidak Han, sudah lama aku melupakan semua kesalahanmu pada kami, hanya saja hati yang dulu pernah terluka karena mencintai, mungkin rasanya akan berbeda ketika harus kembali mencintai hati yang sama.“ Jawaban Ibu jelas tetap menolak permintaan Ayah, tapi aku sama sekali tidak kecewa dengan keputusan Ibu. Aku sangat faham hati Ibu, aku tidak akan pernah bisa memaksakan kehendakku pada Ibu. Karena tidak semua hal yang kita inginkan harus selalu terwujud.


“Baiklah Maya, aku sangat menghargai keputusanmu“ jawab Ayah lesu, aku tahu Ayah sangat kecewa. Tapi Ayah tersenyum ketika melihatku tersenyum kearahnya.


Ayah ... aku bahagia hari ini, aku bangga memiliki Ayah seperti dirimu.


Bersambung.....................


Readers.....jangan lupa dukungannya yaaaa......apapun bentuknya author tunggu....

__ADS_1


__ADS_2