KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Kedatangan Kak Irfan


__ADS_3

Sebelumnya aku punya puluhan alasan untuk menghindari pernikahan, tapi akhirnya aku menemukan sebuah alasan kenapa aku harus memutuskan untuk menikah, awalnya aku tak bisa membayangkan ketika aku harus hidup tanpanya, ketika aku perlahan mulai jatuh cinta padanya, bahkan ketika pertama kali aku bertemu dengannya, perempuan yang begitu cantik, baik, lembut dan shalihah di pandangan mataku.


Aku semakin mencintainya, bahkan ketika aku tak lagi bisa menemuinya, sungguh aku hanya berusaha untuk menemukannya kembali. Aku tersenyum ketika melihatnya tertawa, tapi aku sangat bersedih ketika melihatnya menangis, seperti malam ini, kutatap wajah cantiknya, yang penuh dengan keikhlasan dan ketegaran, yah, aku pemilik wanita itu, kini dia terbaring disampingku.


Tak ada hal yang tak bisa kusyukuri, selain dari memilikinya. Aku sangat mencintainya, bahkan aku pernah melakukan banyak kesalahan hanya karena aku ingin memilikinya, “Maaf” ku usap keningnya.


Aku beranjak dari tidurku, aku berjalan memasuki ruang kerjaku, kududukkan tubuhku di atas kursi goyang, tempatku menyelesaikan pekerjaan ketika ada pekerjaan yang tidak selesai di kantor.


Ku tatap langit langit rumah ini, rumah yang dari dulu sengaja ku rancang dan kupersiapkan untuknya. Kembali berdatangan klise masa lalu, seperti slide yang tak ingin hilang dari fikiranku. Ku ambil obat dari dalam laci kerjaku, kemudian aku menenggaknya, seketika tubuhku bergetar hebat. “Maaf” Lagi, kata kata itu meluncur dari mulutku.


Aku membuka beberapa file, yang berada di atas meja, mencoba mempelajarinya, tapi otakku seolah tak bisa berfungsi, aku terlalu takut akan kenyataan di masa depan.


Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke dalam kamarku, kulihat dia masih terbaring dengan nyenyaknya, kuputuskan untuk berwudhu, dan menggelar sajadah, kutunaikan shalat dua rakaat, meminta ketenangan darinya.


“Hmmhhtt,“ terdengar dia menggeliat dan menggumam, aku menoleh, lalu tersenyum melihat gaya tidurnya yang sudah acak-acakan, tapi tak mengurangi kecantikannya. Aku mendekatinya, cup ... sebuah kecupan manis mendarat di dahinya.


“Hhhhmmhht“ lagi dia menggumam, entah apa yang sedang ada dalam mimpinya,


“Kenapa kamu bangun?” tiba-tiba saja pertanyaannya mengejutkanku, ternyata dia tidak tidur.


“Apa aku terlalu berisik?? Hingga membuatmu terjaga??” tanyaku.


“Tidak, hanya saja aku tidak merasakan kehadiranmu tadi, dari mana??” tanyanya sambil masih memejamkan mata.


“Dari ruang kerja, ada file yang belum aku tanda tangani“ elakku.


“Kenapa tidak membangunkanku?? Aku bisa menemanimu,“ lagi dia bergumam.


“Aku ingin kamu tidur dengan nyenyak“ jawabku.


“Baiklah, aku akan tidur dengan nyenyak,” jawabnya sambil menaikkan selimut hingga keatas kepalanya.


Aku tersenyum melihat tingkahnya “Tidurlah“ Pintaku sambil membaringkan tubuhku kembali, mencoba memeluknya yang tengah digulung selimut.


***


Tok ... tok ... tok ...


“ Masuk!!!“ teriakku, kala mendengar suara ketukan pintu dari ruangan kerjaku.


“siang pak Anwar” Andi sekretarisku membungkukkan kepalanya.


“Iya, kenapa Andi??” tanyaku sambil tak memalingkan wajahku dari beberapa dokumen yang ada dihadapanku.

__ADS_1


“Maaf pak, ada yang ingin bertemu“ jawab Andi.


“Siapa??” Ku hentikan aktifitasku,lalu memandang Andi.


“Emmhh ...” jawabnya tak menjawab pertanyaanku.


“Aku ...” tiba-tiba seorang pria masuk kedalam ruanganku.


“Kak Irfan,“ Aku melongo, dia datang lagi. Sipengacau itu.


“Iya, hay adikku sayang, kenapa setegang itu?? Ini Kakakmu“ katanya sambil berusaha menyentuhku, tapi aku segera menghindarinya.


“Andi, kau boleh keluar ruanganku“ perintahku pada Andi yang dari tadi hanya berdiri kebingungan.


“Baik pak“ Andi memundurkan langkahnya, kemudian keluar dari ruanganku.


“Ada apa kak Irfan kesini??” tanyaku tegas.


“Wiiiissss ... sabar adikku sayang, aku datang kesini hanya ingin mengambil hakku, sebagai seorang anak, dari pengusaha besar seperti Ayahmu“jawabnya sambil mengangkat kakinya di atas meja. Aku sungguh muak melihatnya.


“Apa yang kak Irfan inginkan??” tanyaku.


“Kursi itu“ jawabnya sambil menunjuk kursi yang tengah kududuki.


“Tentu saja, aku menginginkan semuanya, bukankah disana juga ada bagianku??” tanya 'nya sinis.


“Tidak, setelah semua yang Kakak ambil dari hidupku, Kakak sudah tidak berhak meminta apapun lagi dari hidupku“ jawabku, kakiku mulai bergetar hebat, kejadian beberapa tahun silam, saat Kakak tiriku ini menyiksaku karena tau semua warisan termasuk tahta yang sedang kududuki seluruhnya jatuh kepadaku.


“Tidak adikku, kau salah, setelah aku fikir-fikir lagi, kenapa aku harus mengalah dan pergi darimu?? Bukankah kita terlahir dari rahim yang sama?? Meski Ayah kita berbeda, tapi aku sudah menganggap Ayahmu seperti Ayahku juga,“ katanya sambil terus berjalan mengelilingiku, seketika bayangan itu kembali, ketika dia memerintahkan dua orang preman untuk menyiksaku. Aku takut.


“Dan lagi, aku fikir orang gila sepertimu tidak pantas memimpin perusahaan sebesar ini, hahaha!!” Dia tertawa sambil menepuk pundakku.


Seketika darahku berdesir hebat, suhu tubuhku naik, dadaku bergetar hebat, keringat dingin membanjiri tubuhku, aku sungguh takut, takut dia menyakitiku lagi. Aku berusaha meraih telpon yang terletak disampingku.


“Apa?? Apa kau akan menghubungi orang yang bisa melindungimu?? Ayolah kita bekerjasama dengan baik, aku janji akan pergi diam-diam, jika kamu mau memberikan apa yang kuinginkan“ Dia menggesere telpon, hingga telpon itu jatuh berantakan.


“Ti tidak, aku tidak akan memberikan apapun,“ jawabku, berusaha menyembunyikan rasa takutku.


“Oooohhh, jadi itu yang kau inginkan??” tanyanya sambil terus menyentuh pundakku.


‘Tolong aku’ hatiku berteriak, bahkan aku sudah memejamkan kedua mataku, aku sungguh takut jika masa itu akan kembali.


“Apa kau sungguh tidak ingin berbagi denganku??” lagi, dia bertanya sambil mengangkat daguku, napasku sudah tak karuan, rasa sesak menguasai diriku.

__ADS_1


“Le lepaskan aku!!!” teriakku, sambil menghempaskan tangannya kasar.


“Oooowwww ... adik keciku, apa kau sungguh ingin mengulangi masa lalumu??” tanyanya sambil terus berputar-putar, membuat kepalaku pusing, dan bayangan masa lalu itu terus muncul dikepalaku.


“Pergi!!!” teriakku sudah setengah tidak sadar.


“Sebelum kamu memberikan apa yang kuinginkan, aku tidak akan pergi“ jawabnya kian tegas, menggertakku.


‘Ya Allah, lindungi aku, aku sungguh takut ‘ lirih hatiku berkata.


“Assalamu’alaikum ...” tiba-tiba pintu terbuka, mengejutkan kami.


“Wa-wa’alaikumsalam,“ jawabku terbata, seorang perempuan cantik, malaikat tak bersayap, penolongku, berjalan mendekati kami sambil tersenyum.


“Ah, maaf aku fikir sedang tidak ada tamu“ katanya sambil tertegun di ambang pintu.


“Ah, masuk adik ipar“ tiba-tiba Kak Irfan tersenyum kearah istriku, sambil memanggutkan kepalanya sopan.


“Adik ipar??” tanyanya sambil mengerutkan dahi.


“Iya, ah sebelumnya perkenalkan aku Irfan, Kakak Anwar,“ Dia mengulurkan tangannya pada istriku, sementara aku hanya mematung menahan napasku.


“Oh, iya, aku ingat, Kakak yang tinggal diluar negri itukan?? Maaf Kakak, aku hampir tidak mengenalimu“ istriku yang polos menghampiri Kakak tiriku, sambil menyambut uluran tangannya.


“Iya, maaf karena waktu itu, tak sempat hadir di pernikahan kalian,“ Dia tersenyum palsu pada istriku.


“Ah, tidak apa apa Kakak,“ jawabnya sopan.


“Apa, kalian menginginkan sesuatu dariku??sebagai kado pernikahan??” tanyanya sambil menoleh padaku, kemudian mengedipkan sebelah matanya, sementara itu napasku sudah sangat sesak, sulit di kendalikan, aku mencengkram dadaku kuat.


“Ah, tidak Kakak, terimakasih sebelumnya, kami hanya minta di do'akan saja, mudah-mudahan rumah tangga kami, jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah,“ jawabnya sambil tersenyum lembut.


Sementara, dadaku sudah sangat sakit sekali, aku sudah tak sanggup menahannya lagi, tangan kananku sekuat tenaga mencengkram ujung meja, rasa takut itu semakin tak terkendali.


“To-tolong ...!!” teriakku


Bruuuukkkkk ...


“Anwar!!!!” sempat terdengar teriakan istriku memanggil namaku. Tapi duniaku gelap seketika.


Bersambung.......................


Jangan lupa vote yaaaa readers............

__ADS_1


__ADS_2