KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Epilog


__ADS_3

“Anjani, apa kamu masih suka menonton drama??”.


“Tidak, aku sudah tidak menyukai drama lagi, karena hidupku sudah lebih menyentuh dari pada drama”.


“Anjani, apa kamu masih suka membaca novel??”.


“Tidak, sekarang aku bukan pembaca novel lagi, tapi sekarang aku ingin menjadi penulis novel”.


“Anjani, apa kamu masih menyimpan novel ‘bumi cinta, karya Habiburrahman El Shirazi,' yang pernah kuberikan padamu??”.


“Tentu saja, aku masih menyimpannya dengan baik, bahkan ketika aku merindukanmu, aku selalu memeluk buku itu, menjadikannya sebagai pengganti dirimu".


“Anjani, apa kamu masih menyukai warna hijau, dan masihkah kamu menyukai karakter froggy??”.


“Tidak, sekarang aku sangat membenci warna dan karakter yang kau sebutkan“.


“Kenapa??”.


“Karena Tiara juga sangat menggilainya“.


“Anjani, apa kamu masih mengidap insomnia??”.


“Masih“.


“Siapa yang menemanimu ketika kamu mengalami insomnia“.


“Tidak ada, seringnya aku terdiam sendiri, membaca Al'quran, ketika sewaktu waktu aku mengalami insomnia".


“Anjani, sekarang kamu sudah menggunakan hijab syar’i, seperti yang kamu katakan, ketika kamu sudah menikah, kamu akan mengubah penampilanmu“.


“Iya,“


“Anjani, apa mimpimu masih sama?? Menjadi seorang guru? Apa kamu masih berniat untuk mewujudkannya??”.


“Tentu saja, mimpiku tak akan kulupakan, meski hingga kini belum terwujud".


“Anjani, apa kamu masih membenciku?”.


“Sangat”.


“Aku tahu, semua ini akan sulit bagimu, tapi aku menjalani hari yang lebih sulit darimu”.


“Anjani, apa kamu pernah menungguku, setelah aku mengecewakanmu??”.


“Pernah“.


“Kapan??”.


“Setiap waktu".


“Sungguh???”.


“Iya, setiap waktu aku berharap bisa bertemu denganmu".

__ADS_1


“Kenapa??”.


“Aku berharap, ketika bertemu denganmu, kamu sudah bahagia dengan pilihanmu“.


“Sungguh?? Tapi kenapa??”.


“Kamu sudah membuat hidupku sangat menderita, jika kamu tidak bahagia dengan pilihanmu, maka aku akan sangat kecewa“.


“Apa kamu semenderita itu??”.


“Iya".


“Faisal, kini bolehkah aku yang bertanya?”.


“Apa??”.


“Kenapa kamu sangat membenciku??”.


“...............“


“Alibimu saja, jika kamu menjawab tidak membenciku, Faisal apa kamu masih mengingat moment moment yang pernah kita lalui?? Aku harap kamu bisa tau, meski aku tidak mengatakannya secara langsung“.


“............... “


“Apa kamu ingat?? Ketika pertama kali kamu memaksaku untuk masuk kedalam duniamu??”.


“..............“


“Apa kamu ingat?? Ketika kamu mendapatkan motor inventaris dari kantormu?? Motor butut, yang sudah tidak layak pakai, yang akan sangat memalukan jika memakinya, bahkan suaranya sangat mengganggu lingkungan, hingga orang orang yang kita lewati mendelik dan mengutuk kita?? Taukah Faisal, aku amat bahagia kala itu“.


“.........”


“............ “


“Faisal, apa kau masih mengingatnya??? Aku telah berkorban tentang banyak hal, kucurahkan hidup dan matiku hanya untuk menunggumu, aku bahkan hampir jadi anak durhaka, hanya karena aku tetap memilihmu, aku bahkan memberikan seluruh yang kumiliki untukmu“.


“.............”


“Faisal, apa kau mengingatnya?? Bertahun-tahun mendampingimu, dari mulai kamu merangkak, berdiri, hingga kamu mampu berlari, setiap sujudku, kupanjatkan doaku untuk kebaikanmu, apa kau mengingatnya?? Meski kita sangat jarang bertemu, tapi kita selalu shalat dan makan bersama".


“..........”


“Faisal, apa kau tau?? Seberapa lama aku menunggumu?? Jika Faisal, hanya Jika, kamu tidak memaksaku untuk menerimamu, mungkin aku akan bertemu dengan pria yang lebih baik dari awal, mungkin aku tidak akan dijodohkan dengan Bagas, tidak akan hidup menderita, tidak akan hidup menjanda, dan tidak akan menerima pinangan Anwar, mungkin aku akan memiliki suami yang baik, memiliki anak yang lucu, dan aku akan hidup dengan bahagia, tapi itu hanya jika Faisal".


“...........”


“Faisal, bahkan setelah sekian lama aku menemanimu dalam kesulitan, tidak bisakah kamu memberitahuku atas keputusanmu yang tiba tiba menikahi Tiara?? Tahukah kamu Faisal, duniaku serasa runtuh, kala melihat undangan pernikahan kalian, kenapa Faisal?? Kenapa?? Jika kamu tak sungguh sungguh kepadaku?? Kenapa kamu melakukan semua itu?? Kenapa Faisal?? Apa semua pertanyaanku itu masih tetap tak akan terjawab??”.


“.................”


“Faisal?? Apa kamu masih mengingatnya?? Perabotan yang pernah kita beli bersama, untuk kita gunakan setelah menikah?? Aku bahkan membayangkan kamu dan Tiara menggunakan selimut yang pernah kita beli bersama, selimut itu aku yang memilihnya Faisal, apa kau sungguh setega itu???”.


“......................”

__ADS_1


“Faisal, maaf karena sesungguhnya hatiku sering mengutukmu".


“.............”


“Faisal, apa kamu sungguh lupa?? Dengan siapa kamu membangun semua mimpimu?? Apa kau sungguh bukan manusia Faisal? Dimana hati dan nuranimu Faisal Aditia??”.


“.........”


“Faisal, apa kau lupa? Ketika Ayahmu melamarku? Memintaku kepada ibuku untuk kau nikahi? Sungguh kau melupakan itu?? Jika kau tau bagaimana cara datang, memaksa, lalu berhasil membawaku ketempatmu, kenapa kau melupakan bagaimana cara perpisahan dengan benar?”.


“............”


“Bertahun tahun aku merutuki kebodohanku sendiri, kamu menjadi perantara hancurnya hidupku".


“..............”


“Sering aku berfikir, hari itu, ketika kau bersamaku, apa kau sudah memiliki hubungan dengan Tiara?? Harusnya aku peka, ketika kamu membelanya dibanding aku, maka itu adalah signal, jika kamu sudah memiliki hubungan dengannya".


“..............”


“Tapi Faisal, kamu pernah mendengar hukum tabur tuai bukan? Aku akan mendapat ganjaran atas semua dosa dan kebaikan yang telah kulakukan, begitu pula denganmu, itu yang sering kamu katakan bukan??”.


“.....................”


“Awalnya, aku berfikir, karena kita memiliki luka yang sama dalam keluarga, maka akan mudah bagi kita untuk saling mengerti hati kita masing masing, tapi nyatanya, kamu sungguh berhati iblis, bahkan sekarang aku terus mengumpatmu tampa sadar akan dosanya".


“......................”


“Kau tau Faisal, bahkan ketika aku menatap langit, dan melihat bintang, aku mencoba menghitungnya, dan membandingkannya dengan segala pertanyaanku padamu, nyatanya pertanyaanku jauh lebih banyak di banding bintang di langit malam“.


“..................”


“Bahkan, untuk pertama kalinya aku menyesali sebuah kebaikan, yang pernah aku torehkan, ya, aku menyesali pernah berbuat baik pada Tiara, apa kau tahu?? Dia manusia yang aku bimbing, aku dekati, bahkan aku rela berbagi segalanya dengannya, tapi aku tidak pernah ingin berbagi kekasih dengan siapapun termasuk Tiara, bahkan akupun sering mengutuk Tiara, maaf, tapi aku manusia biasa“.


“................”


“Faisal?? Apa kamu tahu?? Tiara bukan perempuan baik-baik, aku sering melihatnya pergi malam hari dengan karyawan baru, dan baru akan pulang ketika pagi tiba, saat jam masuk kantor tiba, aku juga sering melihatnya chatan dengan karyawan lain, yang menyatakan perasaannya masing-masing, kau tahu Faisal, jika kamu saat itu sudah berhubungan dengan Tiara, apa itu artinya kau juga sedang diselingkuhi???”.


“.....................”


“Faisal?? Bukankah aku selalu mendampingimu di saat kamu terpuruk dan sakit?? Di saat duniamu runtuh, disaat kamu dicaci maki, aku adalah orang terdepan yang mendukungmu, lalu? Kenapa kamu meninggalkanku di saat aku terjatuh Faisal?? Bukankah ini tidak adil bagiku???”.


“...........”


“Faisal, bagaimana dengan dua keponakan perempuanmu?? Apa mereka sudah tumbuh besar dan menjadi dewasa?? Bukankah waktu berjalan begitu cepat ??? Apa kamu pernah berfikir?? Bagaimana jika keponakan yang paling kamu sayangi, tiba tiba menduduki posisiku?? Apa kamu masih bisa tertawa seperti saat ini?? Ah ... aku lupa kamu memang tak punya hati, jadi mana mungkin kamu akan peduli pada keadaan orang lain“.


“...............”


“Faisal?? Sudah sebesar apa anakmu sekarang?? Apa kamu sudah mempersiapkan kata kata untuk menjelaskan kepadanya??? Menjelaskan seberapa bejat ayahnya, apa justru kamu mengajarinya agar sama seperti dirimu?? Bukankah anak itu adalah gambaran dari orangtuanya???”.


“................”


“Ah ... Faisal, sungguh, meski tinta ini sudah habis, tapi aku tidak akan pernah puas untuk bertanya, aku juga tidak akan pernah puas untuk mengumpat, dan menyumpah serapahi dirimu, mungkin saja kamu tidak akan tau seluruh isi hatiku, tapi satu hal yang kuinginkan, jika, kamu berada ditepi neraka, maka aku akan segera menendangmu agar kamu tau, betapa panasnya api neraka itu. Hanya itu, keinginan terakhirku, keinginan yang menjijikkan, sungguh, perasaanku membuatku lupa diri pada sang pencipta, aku jadi melupakan ketentuan takdir, dan itu karena siapa?? Itu berkat dirimu“.

__ADS_1


“...............”


__ADS_2