
Hari minggu Bagas mengajakku pindah ke kosan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, baik dari rumah Ibuku ataupun dari rumah mertuaku, aku berfikir mungkin ini adalah kesempatan yang di berikan Allah kepadaku, agar aku bisa lebih menata kehidupan rumah tanggaku, ketika berdua aku berfikir aku bisa melakukan banyak hal bersama suamiku, mungkin perlahan kehangatan sikapku akan melelehkan jiwa dinginnya.
Ketika pindahan aku pamitan kepada Ibu, ada banyak drama hari ini, Ibu menangis meraung-raung, seolah aku akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi.
“Hati-hati ya Jani, jangan lupa kabarin Ibu terus, telpon Ibu terus ya nak” kata Ibu sambil memelukku erat.
“Iya Ibu, Ibu tenang aja, Jani akan baik-baik saja kok“ Aku membalas pelukan Ibu, seolah ada kerinduan yang teramat besar, entah kenapa padahal dulupun ketika bekerja aku ngekos, sendirian lagi. Tapi kali ini rasanya lebih berat untuk berpisah dengan Ibu padahal sekarang aku ngekos tidak sendirian, tapi juga bersama Bagas suami dinginku.
Aku tersenyum dan melambaikan tangan kepada Ibu ketika mobil yang membawa kami mulai melaju, aku melihat Ibu semakin terisak dan di tenangkan oleh Indah. Di dalam mobil Bagas menatapku, tapi tidak mengatakan apapun. Kali ini, aku ingin mempelajari semua bahasa di dunia ini, termasuk bahasa tubuh, agar aku bisa membaca setiap gelagat suamiku, agar aku bisa membaca suara yang tidak pernah di keluarkannya, agar aku bisa mengerti apa yang di inginkannya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya aku tiba di rumah kontrakan kami. Rumahnya cukup besar, ada dua kamar, satu ruang tengah, dapur lengkap dengan kamar mandinya. Mungkin saja aku akan betah tinggal di lingkungan ini, lingkungannya cukup menyenangkan, karena rumah ini hanya terhalang oleh satu rumah untuk menuju mesjid, aku suka ini. Tetangganya juga ramah untuk seukuran tetangga di kota.
Ternyata, teman-teman kerja Bagas juga banyak yang tinggal ngekos di lingkungan ini, dan ini adalah salah satu hal yang tidak aku sukai, Bagas lebih sering menghabiskan waktunya ketika pulang kerja bersama teman-temannya, di banding menemani aku.
Seringnya pulang kerja Bagas hanya akan mandi, makan, lalu keluar rumah menemui teman-temannya yang kebanyakan masih singgle. Hingga aku cemburu pada teman-temannya.
Aku fikir ketika hidup berdua aku akan lebih leluasa untuk mengambil hati suamiku. Tapi lagi-lagi aku salah, kenapa untuk bisa meluluhkan hati suamiku sangatlah sulit, aku sungguh tidak bisa menggapai raganya, tidak bisa menyentuh sukmanya. Cintaku pada suamiku kini tengah di uji. Aku tidak suka ini.
Aku berfikir keras, bagaimana caranya agar suamiku mau menerimaku sebagai istrinya, akhirnya aku memutuskan untuk menarik cintanya lewat makanan, aku mencari tutorial memasak lewat youtube, aku bisa memasak , hanya saja aku bisa memasak hanya alakadarnya saja, aku tidak pandai memasak, mungkin karena dulu aku lebih suka makan makanan di warteg, di banding masak sendiri, maklumlah anak kosan.
Aku memutuskan akan memasak udang saus tiram, aku melihat tutorial youtube dengan seksama tanpa terlewatkan sedikitpun, setelah selesai menonton tutorial, aku langsung mempraktekannya. Aku memasak dengan penuh suka cita, dan semangat yang membara, hingga tanganku tergores pisau ketika memotong tomat, tapi aku tidak peduli, bahkan tadi di pasar aku sempat berantem sama si abang penjual udang hanya karena ingin mendapatkan udang yang berkualitas tapi murah (maklum jiwa emak-emak yaaaa sukanya nawar).
Akhirnya dengan segala perjuangan selesai lah ritual memasakku. Aku lanjutkan dengan membersihkan rumah, hingga rumah menjadi sangat kinclong, rapih dan wangi. Hari sudah mulai sore, sebentar lagi Bagas pulang, aku langsung siap-siap mandi dan berdandan secantik mungkin, sewangi mungkin, aku menatap diriku di cermin, aku terlihat sangat imut di usiaku yang sudah dewasa hee, selain akan mengambil hatinya lewat makanan, aku juga akan mengambil hati suamiku dengan pesonaku.
Kriiieeetttt ...
__ADS_1
Suara pintu di buka,
Aku langsung beranjak dari dudukku, aku akan menyambut kepulangan suamiku dengan sangat ceria.
“Mas sudah pulang??” sapaku setelah melihatnya memarkirkan sepeda motornya.
“Iya,“ jawabnya masih ketus.
Aku harus sabar, aku tersenyum lalu meraih tas yang di jinjingnya, kemudian aku mencium tangannya,
“Sini, biar aku yang bawain tas kamu“ kemudian aku berjongkok membuka sepatunya. Bagas terlihat sangat tidak nyaman dengan tingkahku, tapi dia tidak mengatakan apapun.
“Mas Bagas mau mandi dulu? atau mau makan dulu?? Kalau mau mandi aku udah siapin air panas buat kamu mandi“ tawarku.
“Mandi dulu aja” jawabnya sambil membuka baju kemejanya.
“Hem“ terdengar jawaban khasnya.
Aku tersenyum dan berlalu, aku menyiapkan segala keperluan mandi suamiku, aku menunggunya di kamar dan menyiapkan bajunya yang sudah rapih karena aku setrika.
Bagas masuk kamar, dan menggunakan baju yang ku siapkan tanpa sepatah katapun. Aku tersenyum padanya.
“Mas mau makan sekarang?” tanyaku lagi.
“Hem“ lagi-lagi terdengar jawaban keramat itu.
__ADS_1
“Ya udah aku siapin sekarang ya?” tawarku.
Tanpa mendengar jawabannya yang sudah aku tahu, aku langsung pergi ke dapur menyiapkan makan malam untuk kami, Aku agak deg-degan juga sebenarnya, takut makanan ini tidak enak.
“Ayo mas, makan“ ajakku pada Bagas yang kini sudah duduk di meja makan.
Aku mengambilkan nasi dan lauknya di piring Bagas, tak lupa udang saus tiram perjuangan ala aku juga aku tambahkan di piring Bagas.
Aku melihat setiap ekspresi Bagas ketika memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
“Gimana rasanya? enak?” tanyaku penuh kecemasan.
“Hem“ lagi-lagi kata itu yang keluar.
“Mas, kenapa sih kalau jawab pertanyaan aku, jawabnya cuman hem hem doang??” tanyaku akhirnya mulai kesal sendiri. Bagas tidak menjawab apapun sama sekali. Dia hanya diam dan asyik dengan makanannya.
Sungguh hatiku sangat gondok, tapi aku tidak bisa melakukan apapun lagi. Aku hanya tersenyum kecut di hadapannya. Setelah selesai makan Bagas tanpa memberitahuku dia langsung pergi ke kosan teman-temannya, entah apa saja yang mereka lakukan di sana. Aku sungguh tidak suka ini.
Ternyata rumah tanggaku belum setahun tapi sudah banyak yang menguji, dari mulai Ibuku, mertuaku, iparku, dan sekarang teman-teman suamiku, yang notabenenya adalah tetanggaku sendiri. Sungguh menyebalkan.
Aku sama sekali tidak di beri kesempatan untuk bisa hanya berdua saja dengan suamiku. Padahal aku sangat ingin bisa menikmati malam bersama suamiku, sekarang aku mengerti, kenapa suami istri yang menjalani hubungan LDR banyak yang selingkuh, mungkin ini alasannya.
Tapi aku sadar rumah tangga itu bukan hanya tentang ****, bukan hanya tentang materi, bukan hanya tentang cinta dan kasih sayang, tapi juga tentang kesabaran.
Bersambung..............
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, star five dan vote sebanyak banyak nya ya readers.....makasih.