KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Jan, Jangan Pergi


__ADS_3

Anwar POV


Kalian jelas tahu, salah satu kelemahanku terletak pada istriku, mungkin aku akan lebih gila dari sebelumnya jika dia tidak ada disampingku, jika dia pergi dari hidupku, aku bahkan tak bisa melakukan apapun, beberapa jam setelah pertengkaran itu, dia tak kunjung kembali, aku bahkan sudah menghubungi ibu mertua dan adik iparku, tapi mereka bilang jika istriku tidak datang ketempat mereka, entah aku harus mencarinya kemana? Andai aku adalah orang kaya seperti yang ada dinovel, maka aku akan menyewa beberapa orang kepercayaan untuk mencarinya, tapi sayangnya aku adalah Anwar, mungkin hartaku cukup banyak, tapi aku tidak memiliki kekuasaan untuk menyewa orang. Kecuali dalam keadaan tertentu, yang berhubungan antara hidup dan mati, aku mulai panik, kala waktu sudah semakin petang tapi dia tak kunjung kembali, aku bahkan sudah berdiri di teras rumah berjam jam, tapi dia masih belum muncul.


“Jan, kamu dimana?? Kamu boleh marah padaku, tapi setidaknya kembalilah pulang kerumahmu, rumah ini rumahmu Jan“ Aku terus mondar-mandir di depan pintu.


Sekali lagi kuhubungi keluarganya berulang kali, tapi mereka bilang, istriku tidak ada di sana, ku hubungi orangtuaku, mungkin saja dia menghubungi kedua orangtuaku, tapi nihil, akupun berfikir untuk menghubungi polisi, tapi laporan kehilangan akan diproses setelah dua puluh empat jam, jadi apa yang harus kulakukan sekarang??.


“Jan, aku mohon, jangan membuatku seperti ini, benci aku seperti yang kamu mau, tapi aku mohon, pulanglah"


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi tak ada tanda-tanda kepulangannya, aku semakin panik, kini mertua, adik ipar, dan orangtuaku pun malah bergantian terus menghubungiku, aku malah tambah panik, tubuhku mulai gemetar hebat, ku raih obat yang sering aku konsumsi dari dalam laci meja, aku menenggaknya, mungkin hanya ini yang bisa membuatku sedikit tenang.


Dua jam berlalu, kini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, aku semakin tak karuan, sudah kuhubungi ratusan kali ponselnya, tapi tak kunjung aktif, aku tau dia pasti mematikan ponselnya.


“Baiklah, jangan pulang, jangan anggap aku lagi, tapi setidaknya kabari aku, jika kamu baik baik saja Jan, aku mohon" tubuhku semakin gemetar, aku mulai mencubiti ujung kuku ku.


“Anwar, nak, gimana keadaan Anjani?” tiba-tiba Mamah datang memelukku, tapi aku tidak bergeming, aku hanya diam.


“Nak, kamu kenapa?? Oke, tenang jangan panik, kita semua akan bantu kamu mencari istri kamu, oke?? Lihat Mamah nak, kamu pasti kuat, Anjani tidak apa-apa, dia tidak marah padamu, dia hanya ingin menenangkan dirinya sebentar oke?? Dia akan segera pulang, sekarang istirahat dulu ya, biar mamah dan papah yang mencari Anjani, oke???” Mamah memeluk tubuhku, kemudian menggandengku masuk ke dalam kamar.


Setibanya di dalam kamar, aku duduk di tepi ranjang, ku tatap sekelilingku, aku menangkap sebuah pemandangan yang tak asing di pandangan mataku. Foto berukuran besar terpampang disana, fotoku dan istriku, sedang berpegangan tangan, saling menatap sambil tersenyum. Aku tersenyum melihatnya “Kamu dimana? Hhuumm???” Aku mengusap foto itu, tak terasa air mataku luruh di pipi.


“Apa kamu akan menyiksaku dengan cara seperti ini??? Apa ini caramu membalas dendam?? Ini tidak benar bukan?? Balas dendam itu salah bukan?? Bukankah kamu perempuan pemaaf?? Kenapa sekarang kamu tidak bisa memaafkan kesalahanku?? Baiklah, jika kamu begitu membenciku, hingga tidak ingin bertemu lagi denganku, maka aku saja yang akan mati, dan kamu, hiduplah dengan tenang, hum?? Ayo bicaralah, jangan mendiamkan aku seperti ini“ setelah puas berbicara pada bingkai foto itu, aku kemudian menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Kkkrriinngg ... kkkrrriiinngg ... kkkrrriiinnggg ...


Tiba tiba ponselku terdengar berbunyi, kuedarkan pandanganku, segera kuambil ponselku dari dalam saku jas yang kugunakan, satu panggilan dari nomor tak dikenal.


“Hallo, selamat malam,“ sapa seorang pria asing diseberang sana.


“Iya, selamat malam“ jawabku sambil menyeka air mata.


“Maaf sebelumnya, apa benar ini dengan nomornya pak Anwar, suami dari ibu Anjani??” tanya pria itu begitu lantang.


Deg!


Dadaku bergetar hebat.


“Sebelumnya, perkenalkan dulu pak, kami dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan bahwa ibu Anjani mengalami kecelakaan bis di daerah XX, dan sampai sekarang jasadnya belum ditemukan“ jelas orang di seberang sana.


“A apa?? Istriku kecelakaan?? Tidak, tidak, dia tidak mungkin kecelakaan, kenapa dia harus naik bis?? Kenapa dia harus berada di daerah itu, itu daerah yang cukup jauh“ jawabku berusaha menetralkan fikiranku sendiri.


“Maaf pak, tapi kami menemukan identitas istri bapak dari KTP yang berada didompetnya, yang ditemukan di antara puing puing ledakan bis“ penjelasan pria itu membuatku semakin panik, tak karuan.


“Se sekarang, saya harus kemana?” tanyaku akhirnya berusaha menguatkan diri.


“Bapak bisa datang ke kapolres XX, untuk identifikasi selanjutnya, kami juga harus minta keterangan dari bapak, untuk melengkapi data lainnya“ perintah polisi itu, dan aku langsung menyetujuinya. Dan langsung menutup telponnya.

__ADS_1


“Hahhaahhaa ... sayang, kamu dengar itu?mereka bilang kamu menghilang, apa sungguh seperti itu?? Apa kamu sungguh ingin pergi dariku dengan cara ini? Tidak sayang, bukan seperti ini, cara perpisahan yang baik“ Anwar mulai tertawa terbahak bahak sambil menangis.


“Nak, kamu kenapa nak??” Ibu Anita datang menghampiri anaknya, setelah mendengar suara anaknya tertawa dari dalam kamarnya.


“Mamah, kata pak polisi Anjani kecelakaan bis, dan sampai sekarang belum ditemukan, Hahaha, dia membenciku mamah, dia ingin pergi dariku“ lirih Anwar berkata sambil berlinang air mata.


“Tidak nak, kamu tenang dulu, kita cari tau kebenaran sesungguhnya ya, mungkin saja yang menelponmu tadi adalah seorang penipu“ Bu Anita terus berusaha menenangkan putranya.


“Mamah, barusan polisi menyuruhku untuk datang kelokasinya, untuk identifikasi, mamah apa Anjani akan pergi untuk selamanya??” tanya Anwar menatap sang Ibu dengan penuh harapan.


“Tidak nak, dia tidak akan pergi, dia pasti akan kembali, percayalah pada mamah“ Bu Anita masih mencoba menenangkan Anwar yang sudah sangat gemetaran.


“Sebaiknya kita pergi dulu ketempat kejadiannya, agar kita bisa melihat keadaan sebenarnya ya, kita pergi sekarang ya“ ajak Bu Anita sambil memeluk putranya.


“Iya Mamah, kita akan pergi mencari Anjani, aku akan minta maaf mamah, aku yang salah, kenapa dia yang harus menanggung semua kesalahanku?? Aku yang harusnya mati mamah“ Anwar terus meracau.


“Tidak nak, bukan seperti itu, ini sudah takdir kalian, sekarang ayo kita pergi dulu yah, biar kita segera tau kejelasannya“ ajak Bu Anita sambil menggiring putranya.


“Baik Mamah,“ Anwar menurut, kemudian berlalu menaiki mobil mereka, dan langsung menuju tempat yang mereka tuju.


Bersambung................


Readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.....

__ADS_1


__ADS_2