KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


“Iya, masuk!“ seruku setelah mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan yang ku tempati.


“Anjani, gimana sekarang ke adaannya??” tanya seorang pria yang mendekatiku sambil menenteng satu keranjang buah-buahan dan sebucket bunga.


“Mas Anwar, aku baik Mas“ jawabku sambil tersenyum lesu.


“Masa sih?? Kok aku masih ngeliat kamu lesu banget sih??” goda Anwar sambil meletakkan buah yang di bawanya di atas nakas.


“Kok Mas Anwar bisa tau kalau Jani di rawat di sini??” tanyaku yang heran melihat Anwar datang menjengukku.


“Tersenyumlah Jan,“ pinta Anwar sambil tersenyum lembut padaku.


Aku tersenyum sambil mengerutkan keningku, masih penasaran dengan kedatangan Anwar yang tiba-tiba, kenapa akhir-akhir ini Anwar selalu berkeliaran di sekitarku.


“Aku tadi kebetulan mau jenguk temen di rumah sakit ini, terus liat ada kamu sedang terbaring di kasur ini, jadi aku memutuskan untuk jenguk kamu juga” jawab Anwar yang masih menyisakan tanya di benakku, tapi aku tak ingin lagi tau tentang apapun.


“Kamu udah makan??” tanya Anwar kemudian.


Aku menggelengkan kepala “Belum“ jawabku.


“Makan dulu yah,“ pinta Anwar sambil menyodorkan bubur yang di sediakan rumah sakit kepadaku.


“Bagaimana mungkin aku bisa makan setelah semua yang aku lewati Anwar? Bagaimana caranya aku move on Anwar?” Aku kembali mengingat kepergian anakku yang tiba-tiba, air mataku kembali mengembang. Aku kembali terisak.


“Suatu hari nanti akan datang pagi yang cerah Anjani. Jangan pernah menyerah, kamu adalah perempuan terkuat yang pernah aku kenal. Kamu tau?? Aku bahkan sembuh setelah bertemu dengan kamu. Kamu bisa Jan, kamu kuat“ Anwar berusaha menggenggam tanganku, tapi aku segera menepisnya, aku sadar aku masih istri Bagas.


“Aku bisa kuat melewati semuanya Anwar, tapi aku tidak bisa kehilangan impianku untuk sekian kalinya“ Aku semakin terisak.


Aku meraih, foto USG anakku yang tadi sempat di berikan suster kepadaku, aku menatapnya lekat “Maafkan Ibu nak“ Aku menangis lagi, air mataku semakin luruh.


“Jani, aku mohon jangan seperti ini, kuatlah Jan. Kamu bisa melewati ini“ Anwar masih tetap menghiburku, sementara suami Gay 'ku entah kemana dia. Aku sangat membencinya kini.


“Anak itu titipan Allah Jan, anak itu amanah, bagaimana mungkin perempuan sealim kamu bisa lemah seperti ini?? Ayolah Jan, setidaknya kamu harus kuat demi Ibu kamu“ Anwar terus membesarkan hatiku. Hingga aku terdiam dengan sendirinya.


“Terimakasih Anwar, kamu sudah ada di sini” setelah kesadaranku kembali aku mencoba berbicara lagi dengan Anwar.


“Aku hanya ingin kamu tersenyum Jan, atau kamu mau aku ciptain lagu lagi buat kamu?” tawar Anwar sambil menaik turunkan alisnya.


Aku terkekeh geli, mengingat kejadian beberapa tahun silam.

__ADS_1


“Boleh” jawabku lirih.


“Baiklah, sekarang aku mau nyanyiin lagu buat kamu ya, sebentar“ Anwar keluar dari ruanganku, setelah beberapa saat kemudian masuk lagi ke dalam ruanganku dengan membawa gitar.


“Kamu mau beneran nyanyi pake gitar itu?” tanyaku sedikit khawatir.


“Iya, tenang aja sekarang aku gak akan nyanyi di atas meja lagi kok“ jawab Anwar terkekeh.


“Anwar, entar berisik, takutnya pasien lain terganggu“ kataku sangat khawatir.


“Ya gak lah Jan, kamu kan di rawat di ruangan VIP bagaimana mungkin ada pasien lain yang terganggu?“ kelit Anwar.


“Ya udah deh, ayo nyanyi“ pintaku akhirnya.


“Ok, dengerin ya ...”


Anwar mulai memetik senar gitar, dan menyanyikan lagu andalannya. Tapi kali ini suara Anwar benar-benar sangat merdu, berbeda dengan sebelumnya.


Sabar, Sabarlah cintaku


Hanya sementara, Kau harus dengannya


Kau harus bersamanya Kini


Sabar, Sabarlah cintaku


Tak kan selamanya, Karena sebenarnya


Aku yang paling kau cinta


Aku yang paling kau mau


Rahasiakan aku Sedalam-dalamnya Cintamu


Aku yang pasti kau cinta, Aku yang pasti kau mau


Selamanya dihidupmu, Aku kekasihmu


Sabar, Sabarlah cintaku


Hanya sementara, Kau harus dengannya

__ADS_1


Kau harus bersamanya, Kini


Ooh ......


Sabar, Sabarlah cintaku


Tak kan selamanya, Karena sebenarnya


Kau tahu sesungguhnya, Aku.......


Ooh*..............*


Aku yang paling kau cinta, Aku yang paling kau mau


Rahasiakan aku, Sedalam-dalamnya Cintamu


Aku yang pasti kau cinta


Aku yang pasti…


Anwar masih memejamkan matanya, meresapi makna yang tersirat di setiap bait lagu yang di nyanyikannya.


“Bagus, sekarang kamu pintar nyanyi ya“ Aku tersenyum pada Anwar.


“Berkat kamu Jan,“ jawab Anwar penuh dengan keyakinan.


“Aku??” tanyaku sambil menunjuk wajahku sendiri.


“Iya, kamu Anjani“ jawab Anwar penuh penekanan.


“Kenapa aku?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.


“Akan aku kasih tau jika sudah tiba waktunya“ jawab Anwar yang membuatku tambah penasaran.


“Ya udah, jika waktunya tiba kamu ceritain semuanya ke aku ya“ pintaku sambil tersenyum.


“Pasti Jan, akan selalu ada penjelasan untuk setiap hal yang telah terjadi, akan selalu ada alasan untuk semua hal yang sudah di lakukan“ Anwar mulai menerawang.


“Aku harap waktu itu segera tiba Anwar“ Akupun menerawang, membayangkan orang-orang yang selama ini sudah mendzalimiku untuk menjelaskan apa alasan mereka bisa melakukan semuanya kepadaku. Sementara aku selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi mereka.


“Pasti“ jawab Anwar sambil menatapku lekat dan tersenyum.

__ADS_1


Bersambung..............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, koment, bintang lima, dan vote sebanyak banyak nya.....makasih.


__ADS_2