
"Hay ..." Sapa Faisal setelah tiba di kosanku, dia langsung duduk di kursi depan kosanku, yang sudah biasa kami duduki ini,
"Iya," Jawabku lesu, hatiku masih di tutupi oleh rasa kecewa,
"Kok murung? kenapa?" Tanyanya sambil memperhatikan wajahku,
"Gak apa-apa" Jawabku yang masih enggan menatap wajahnya,
"Hey, kamu kenapa?? kamu gak bisa bohongin aku, kamu lagi ada masalah??" Tanya Faisal lagi, sambil menatapku lekat.
"Enggak," Jawabku masih malas, rasanya aku sudah tidak memiliki tenaga lagi, bahkan untuk menjelaskan apapun kepada Faisal.
"Jangan gitu dong, kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama aku, hubungan kita ini apa sih Jan?? kok kamu masih aja ada hal yang di sembunyiin dari aku??" Tanya Faisal, tatapannya kini berpaling dari wajahku, dia menatap lurus ke depan, entah apa yang sedang dia terawang.
Hah ... Faisal Aditia, kamu yang sudah membohongiku, kamu yang tidak bisa menghargai hubungan kita, kamu yang sudah menyembunyikan sesuatu dariku. Aku membencimu. Sangat. Sangat ... !!!!!
"Kamu marah sama aku??" tanyanya lagi,
iya, aku marah sama kamu, aku benci sama kamu, benci, benci**!!!!!
"Enggak, kenapa aku harus marah sama kamu??" Jawabku, entah kenapa tapi tiba-tiba aku tidak ingin mengatakan apapun, aku juga tidak lagi ingin mendengar penjelasan apapun dari Faisal,
"Bener??" tanyanya mencoba memastikan lagi,
__ADS_1
"Iya" Jawabku masih singkat dan terkesan malas,
"Jawabnya jangan singkat-singkat gitu dong, gak biasanya lho kamu kayak gini," Faisal mulai kesal dengan sikapku,
"Iya ..." lagi-lagi aku tidak bisa memungkiri hatiku yang kecewa,
"Enggak, kamu bohong Jani, aku tau kamu" Faisal masih ngotot minta penjelasan dariku, padahal sesungguhnya akulah yang ingin minta penjelasan darinya.
"Gak apa apa mas, aku baik-baik aja, aku gak marah juga sama kamu," jawabku setengah berteriak,
"Ya udah," Akhirnya Faisal menyerah, meski aku tau dia faham, bahwa saat ini aku sedang dalam mode ngambek, marah, dan kecewa.
"Jani, maafin aku ya, aku tau, mungkin ahir-akhir ini, kamu ngerasa perhatian aku berkurang sama kamu," Faisal mulai memasang wajah yang serius dan aku mulai menatapnya, Faisal seperti ingin memegang tanganku, tapi jelas aku langsung menolaknya, selama berhubungan dengannya kami sama sekali tidak pernah melakukan kontak fisik apapun, meski hanya sekedar berpegangan tangan.
"Iya gak apa-apa, aku ngerti kok" Jawabku sekenanya,
"Makasih ya Jan, kamu memang perempuan terbaik, aku tidak ingin melepaskanmu apapun yang terjadi, aku mau kamu selamanya mendampingi aku Jan, aku ingin kamu jadi rumah tempat aku pulang nanti" Terdengar kata-kata Faisal begitu tulus,
Tapi, aku tau, Faisal kini tengah menyimpan rahasia di belakangku, aku hanya tersenyum kecut padanya.
Di tengah-tengah obrolanku dengan Faisal tiba-tiba.
Kring ... kring ... kring ...
__ADS_1
Handphoneku berbunyi, Aku melihat layar handphoneku, ternyata ibu yang menelponku, aku segera mengangkatnya.
"Hallo, assalamualaikum ibu" Sapaku,
"Waalaikumsalam Jani, lagi apa nak??" Tanya ibu di seberang sana,
Aku menatap Faisal, ibu pasti ngamuk jika tau, aku bertemu dengan Faisal di malam hari, ya meskipun belum terlalu malam, dan kami mengobrol di tempat terbuka, tapi ibu pasti tidak akan mengizinkan aku untuk bertemu pria di malam hari untuk kepentingan yang tidak jelas.
"Lagi duduk aja ibu, ada apa??" Tanyaku, aku tidak bohongkan?? aku memang lagi duduk,
"Jani, weekand besok kamu bisa pulang???" Tanya ibu, membuatku heran,
"Iya ibu, akan Jani usahakan, tapi ada apa bu??" Sementara aku menelpon, tapi pandanganku tetap pada Faisal yang terus mengerutkan dahinya.
"Ada yang ingin ibu bicarakan?" Jawab ibu semakin membuatku penasaran.
"Ibu mau bicara tentang apa?? ibu bisa bicara sekarang lewat telpon jika mendesak"
"..............................."
Bersambung.................
Jangan lupa vote, like, komen positif, dan bintang lima nya ya readers...... Thank you :)
__ADS_1