KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Pulang


__ADS_3

Satu hal yang selalu kita yakini, tanda manusia bahagia itu hanya tiga, bersyukur ketika di beri nikmat, bersabar saat di timpa


musibah, dan memohon ampun pada sang khalik ketika telah terjerumus dalam dosa,


orang yang bahagia adalah orang yang tak pernah lupa berterimakasih kepada sang


penciptanya.


Kebahagiaan adalah ketika apa yang kita fikirkan, kita katakan, dan kita lakukan selaras. Kebahagiaan bukan melakukan hal-hal


yang menyenangkan, akan tetapi melakukan sesuatu yang bermakna.


Anjani, menempelkan kedua tangannya di kaca besar, yang di dalam sana terbaring bayi mungilnya, di antara beberapa bayi lainnya,


dia terfokus pada salah satu tempat yang berisi bayinya, dengan nama ‘Muhammad


Fadli Anwar’ Putra Ibu Anjani/Anwar.


Anjani tersenyum, menggerakkan tangannya dari luar kaca, seolah sedang berusaha mengelus putranya.


“Hidungnya mirip denganmu, matanya juga“ ucap Anjani, kemudian memutar pandangan pada Anwar yang berada di sampingnya.


“Dan dia memiliki senyuman seindah senyumanmu“ balas Anwar.


Anwar mendekap tubuh Anjani yang masih menggunakan baju pasien, tinggal di sana untuk beberapa menit, melihat bayi mereka.


“Terimakasih, aku sangat bahagia, aku mencintaimu“ Anwar mengecup kening istrinya.


“Aku juga sangat bahagia, bisa di cintai olehmu, memiliki anak setampan Fadli, dan di anugrahkan berbagai kebahagiaan lainnya“.


Anjani menempelkan kepalanya di bahu Anwar.


“Maaf, aku selalu menyulitkanmu, padahal aku selalu bilang jika kamulah cinta sejatiku, tapi nyatanya, kamu selalu mengalami banyak


penderitaan akibat ulahku“ Anwar tertunduk, air matanya menetes, kala mengenang setiap perjuangan yang di lakukan istrinya.


“Sesungguhnya, cinta sejati itu memang harus di uji, dengan banyak hal, rasa sakit, kecewa, amarah, kebencian, penghianatan, dan kebohongan, dan sekarang mungkin saja aku akan di uji oleh kebahagiaan yang tak


terkira“ jawab Anjani, mencoba menyeka air mata suaminya lembut.


“Terimakasih“ sekali lagi Anwar mencium tangan istrinya berulang, membiarkan air matanya membasahi tangan istrinya.


“Hmmhh“ Anjani mengusap kepala suaminya lembut.


Setelah puas menatap putra mereka, Anwar dan Anjani masuk kedalam ruangan, tempat Anjani di rawat.


Di sana sudah berkumpul seluruh keluarga besar mereka, kecuali Indah, yah karena Indah pun tengah hamil besar, dan Andre


tidak ingin Indah kecapean atau kurang istirahat, karena menemani Kakaknya pasca operasi, lucu memang, usia kandungan Indah beberapa minggu lebih tua, dari kandungan Anjani, tapi yang duluan lahir, ternyata malah anaknya Anjani, hidup dan mati memang sudah jadi rahasia Allah.


“Selamat ya sayang, sekarang sudah jadi Ibu“ Mamah Anita memeluk menantunya dengan rasa haru, berkali-kali dia menangis.


“Terimakasih, karena sudah bertahan, dan menjadikan mamah seorang nenek“ Mamah


Anita terus mendekap menantunya dalam isakannya.

__ADS_1


“Iya Mamah, sama-sama, Anjani seneng kalau Mamah seneng“ balas Anjani, membalas pelukan sang mertua.


“Selamat ya sayang, anak Ibu, akhirnya kamu berhasil melewati masa-masa sulitmu nak, ah Ibu bahagia bisa jadi nenek“ Ibu Maya tak kalah heboh memeluk putrinya, mengucapkan selamat, dan menghujani anaknya dengan ciuman.


Kecuali para Kakek, yang tidak bisa memeluk Anjani, karena Anjani sudah kelelahan dan harus beristirahat, di tambah para Kakek,


merasa kebat-kebit dengan tatapan Anwar, yang seolah tidak suka ketika melihat istrinya kelelahan, karena harus mengobrol dengan mereka.


Hari ini, Anjani di perbolehkan pulang, setelah satu minggu di rawat di rumah sakit. Dengan senang hati, Anwar memboyong putra dan


istrinya pulang ke rumah, ada perasaan yang sulit dia ungkapkan, sepanjang perjalanan, Anwar terus berceloteh dengan putranya, di iringi dengan senyuman istrinya.


“Halo jagoan Ayah, seneng ya kita mau pulang“ Anwar terus menggesekkan wajahnya pada wajah putranya, hingga membuat anaknya merasa geli dan terkekeh.


“Ya ampuunnn ... Ayah, Fadli udah capek terus di ajak main“ Anjani menggelengkan kepalanya.


“Gak apa-apa yah?” Anwar masih tetap dengan pandangan pada anaknya.


“Sampai lupa sama Ibunya” Anjani memalingkan wajahnya ke luar jendela, sambil menahan senyum.


“Ya ampuunn ... Ibunya juga sinih“ Anwar menarik tubuh istrinya dan mendekapnya erat.


“Ibu suka cemburu yah“ Anwar kembali mengajak anaknya bercanda, seolah mengerti, sang anak malah tertawa.


“Ya ampun, nak, kamu masih bayi aja udah jadi sekutu Ayahmu“ Anjani cemberut.


“Tuh, kan Ibu cemburu lagi“ Anwar mendekatkan wajahnya pada wajah anaknya.


“Sini, jangan cemburu terus, Ayah cium juga“ Cup, Anwar mencium kening istrinya lembut.


“Gombal“ Anjani tersenyum.


Setibanya di rumah, Anwar dan Anjani sudah di sambut dengan ceria oleh bi Lastri.


“Ya ampuunn, selamat datang Aden kecil“ Bi Lastri juga menyambut kedatangan Fadli.


Fadli yang baru berusia satu minggu itu, tersenyum membalas sambutan bi Lastri, sungguh bayi yang sangat menggemaskan.


“Terimakasih Bibi“ Anjani menirukan suara anak kecil, sambil tersenyum, kemudian menggendong putranya, dan masuk kedalam


rumah, dengan di papah oleh suaminya.


“Kok rumah sepi banget ya aku tinggal seminggu” Anjani mengedarkan pandangan.


“Ya iyalah sepi, kamu kan penghuni permanen rumah ini, kamu itu nyawa bagi rumah ini, raga di tinggalin nyawa, ya mati lah“ Anwar menyahuti, sambil menyimpan tas di dekat soffa.


“Ya udah, ke kamar yuk, Fadli udah ngantuk kayaknya“ Anwar kembali memapah istrinya perlahan.


Kkkrrriiieetttt ...


Pintu kamar di buka,


Tiba-tiba ...


“Surprise!!!!!”

__ADS_1


“Ya ampun!!” Anjani terlonjak kaget, kala melihat semua keluarganya sudah berkumpul di dalam kamarnya, untuk menyambut kedatangannya.


Anjani menutup mulutnya penuh haru, kala melihat kejutan yang mereka siapkan untuknya.


Di dinding terlihat ada balon huruf, dengan kata “Welcome baby Fadli“


Sementara di setiap juru ruangan di penuhi, dengan berbagai macam bunga, balon, dan banyak kado.


“Untuk istriku, yang sudah mempertaruhkan nyawanya untukku dan untuk anakku“ tiba-tiba Anwar memberikan bucket bunga mawar merah.


“Makasih banyak sayang“ Anjani memeluk Anwar.


“Sama-sama“ balas Anwar.


“Siapa yang menyiapkan semua ini??” tanya Anjani berbisik.


“Aku, di bantu yang lainnya“ jawab Anwar.


“Kapan kamu punya waktu untuk semua ini??” tanya Anjani lagi.


“Ada deh“ Anwar terkikik, sambil melepaskan


pelukannya.


“Wah, selamat datang ponakan ateu“ Indah


menghampiri Fadli, lalu menggendongnya, sambil menciuminya.


Begitupun dengan para Nenek, yang sudah sangat antusias menyambut kedatangan cucu pertama mereka.


“Kakak, selamat untuk kelahirannya, maafkan Indah, tidak bisa menemani Kakak, di saat Kakak susah“ Indah menunduk, kemudian


memeluk Kakaknya.


“Gak apa-apa dek, kamu kan memang lagi hamil besar, gak baik buat kamu keluyuran, kamu harus banyak istirahat“ Anjani mengelus punggung adiknya, dia tahu, Indah sangat ingin menemaninya waktu dirinya di


oprasi, tapi keadaan membuat Indah tak bisa menemaninya.


“Makasih ya Kak, dan sekali lagi selamat“ Indah tersenyum.


“Selamat ya Kak Jani“ tiba-tiba Andre mengulurkan tangannya, menatap Anjani dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Terimakasih banyak Andre, maaf sudah membuat semuanya repot dan cemas“ jawab Anjani sambil memalingkan pandangan.


“Tidak, aku tidak pernah merasa di repotkan, tapi ku akui, aku memang sangat cemas“ jawab Andre, sambil mengeratkan pegangan


tangannya, pada tangan Anjani.


Anjani mengerutkan dahinya.


“Eekkhheeemm ... sayang, sepertinya Fadli mau mimi“ Anwar melepaskan tangan Anjani dari tangan Andre, kemudian menuntunnya, untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan, untuk Anjani, ketika dia memberi ASI.


“Ah, baiklah, mana anak Ibu??” Anjani memangku Fadli, yang sebenarnya sedang anteng dalam asuhan sang nenek dan tantenya.


Bersambung..............

__ADS_1


Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya


yaaaa....


__ADS_2