KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Aku Cemburu


__ADS_3

“An, kamu sudah bangun?” bisikku pada laki-laki yang tidur di sampingku kini.


Anwar menggeliat sebentar, bergumam, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku, tangan yang kekar itu, melingkar di pinggangku, lalu dia mulai mendekapku, mencari kehangatan pada epidermis kulit yang halus dan lembut milikku.


Aku mengelus wajahnya dengan penuh kasih sayang, dia begitu tampan dengan kulit putih bersih miliknya, hembusan napas kekasih halalku ini terasa hangat, Ah ... betapa aku ingin berlama-lama di dalam dekapannya, kembali aku mengecup laki-laki berhidung mancung itu, kemudian menyibakkan selimut, dan bangkit dari tidurku, aku turun dari ranjang, dan menuju kamar mandi, meninggalkannya sendirian di atas ranjang.


Hari sudah menjelang subuh, terdengar lantunan ayat-ayat suci al-quran yang dibacakan imam mesjid, dari mesjid yang berdekatan dengan rumah kami, kalian tau bukan?? Aku sangat suka ketika rumahku berada dekat dengan mesjid, rasanya damai, di tengah panasnya dunia yang sedang dilanda bencana.


Dengan letih akibat pergumulan semalam, usaha untuk mengais ladang pahala, buat suami, aku langsung membasuh anggahota tubuhku dengan mengikuti rukun, entahlah, tapi akhir-akhir ini, suamiku sangat mesum.


Setelah usai, aku kemudian menggunakan pakaian dan menjalankan shalat subuh, setelah selesai kemudian aku beranjak menuju dapur, memasak sarapan pagi untuknya, ini juga sebagai bentuk ibadah bukan? Menyiapkan segala kebutuhan suami dengan hati yang sangat ikhlas, kalian sudah tau bukan?? Jika suamiku pecinta koffee?? Ya, aku segera menjarang air panas, untuknya membuatkan koffee hitam kental.


“Ah, Anwar juga pecinta makanan nusantara, apa yang harus ku masak pagi ini, dan siang nanti ya?? Aku ingin mengantarkan makan siang untuknya“ kadang, menu harian itu menjadi PR bagiku, aku tidak ingin suamiku merasa bosan dengan masakanku yang menunya hanya itu-itu saja, karena suamiku tidak pernah mengecewakanku, maka akupun tidak ingin jika dia kecewa.


Hari sudah mau siang, tapi Anwar tak kunjung bangun, atau menemuiku di dapur seperti biasanya, aku segera mematikan kompor, kemudian beranjak menuju kamar.


“An, bangun, kamu udah shalat subuh belum??” Aku membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya, sementara dia hanya mengerang, menggeliat, kemudian kembali tertidur.


“An, ini udah siang lho“ kembali aku mengingatkannya.


“Aku udah shalat tadi, gak liat rambut aku masih basah??” rajuknya sambil memegang kepalanya, menunjukkan rambut yang masih basah, bukan oleh minyak rambut, tapi oleh air ck.


“Udah shalat, kenapa tidur lagi?? Ini udah siang ayo sarapan“ ajakku kemudian.


“Males, kamu duluan aja“ jawabnya, sambil menggulung tubuhnya kembali dengan selimut.


“Oh, gituh, ya udah“ jawabku sedikit kecewa, kemudian berdiri.


“Hhheee, gitu aja ngambek, ayo kita sarapan, kamu masak apa pagi ini??” Dia membuka selimutnya dan langsung berdiri, mensejajari langkahku.


“Aku bikin roti bakar“ jawabku, setibanya di dapur, aku mengambil roti bakar dengan selai sarikaya, menaruhnya dipiring, kemudian menyimpannya di hadapan Anwar, tak lupa secangkir koffee hitam untuk Anwar, dan segelas susu untukku, ikut menemani kami pagi ini.

__ADS_1


“An, nanti siang aku anterin makan siang ya“ kataku sambil tetap mengunyah.


“Hmht, aku seneng kamu mau sering mampir kekantor“ jawabnya sambil manggut-manggut.


“Iya, aku mau kamu gak perlu lagi beli makanan di luar, nanti kamu biar aku masakin tiap hari aja“ jelasku yang membuatnya manggut-manggut dan tersenyum.


“An, apa kamu tidak ingin memiliki anak??” lanjutku lagi yang tiba-tiba membuatnya berhenti mengunyah.


“Aku tidak ingin membebanimu dengan keegoisanku, anak itu amanah, kapanpun kehadirannya tiba, aku akan mensyukurinya, dan menjaganya dengan baik, aku tidak ingin keinginanku justru membuatmu menjadi terbebani“ jelasnya, yang selalu membuatku tersenyum.


“Makasih An, kamu selalu mengerti aku“ jawabku, yah ... sejujurnya ada sedikit trauma di hatiku, trauma kala aku kehilangan anak hasil pernikahanku dengan Bagas dulu, rasa sakitnya masih tersisa.


“Ya udah, aku mau siap-siap berangkat kerja ya“ Anwar bangkit dari kursi, kemudian beranjak menuju kamar, aku mengikutinya dari belakang, lalu menyiapkan segala kebutuhannya.


“Sampai ketemu nanti siang ya sayang, aku berangkat dulu“ pamitnya ketika didepan pintu.


“Iya, kamu hati-hati ya“ Aku meraih tangannya, kemudian menciumnya.


Siang ini, setelah aku menunaikan kewajibanku dirumah, aku segera berangkat menuju kantor Anwar, untuk mengantarkannya makanan.


Setibanya di sana, tepat pukul dua belas lewat lima belas menit, saatnya para karyawan beristirahat, untuk mengisi amunisinya masing-masing.


Kantor agak sepi, sekertaris Anwar yang biasanya dengan setia duduk di luar ruangan kerja Anwarpun tidak terlihat, mungkin dia juga sedang beristirahat.


Ku langkahkan kakiku, menuju ruangan kerjanya, tapi seketika langkahku terhenti di depan pintu ruang kerja Anwar, kala kudengar ada suara perempuan yang tengah tertawa, di iringi suara tawa dari Anwar, aku mengendap-endap mengintip apa yang terjadi,


Terlihat, seorang perempuan dengan rok sepan selutut, dengan atasan blazer yang juga agak ketat, rambut pirang sebahu, dan riasan wajah yang cukup menor.


Sementara itu, ku lihat tubuhku sendiri di cermin, aku menggunakan gamis berwarna navy, dengan hijab syar’i yang senada, tas branded yang di belikan Anwar juga tengah kugunakan, aku juga masih langsing, hanya saja tiap ke kantor, aku pasti selalu menenteng rantang. Ish ... inikan demi Anwar.


“Assalamu’alaikum ...” Aku membuka pintu, dan langsung masuk kedalam, membuat mereka yang tengah tertawa agak kaget.

__ADS_1


“Eh, sayang,“ Anwar menggandeng tanganku, lalu menuntunku.


“Kamu kok gak chat aku kalau udah nyampe“ tanya Anwar sambil tersenyum, tapi aku langsung mendelik, ke arah wanita yang tengah memperhatikanku kini.


“Iya, di luar panas“ jawabku sambil menyimpan rantang makanan.


“Panas??” tanya Anwar sambil mengerutkan dahinya, kala aku menekankan kata PANAS pada ucapanku.


“Iya, PANAS!!“ lagi aku memajukan wajahku, tapi Anwar malah terkekeh.


“Oh, iya, kenalin sayang, ini Laura, client aku“ Anwar memperkenalkanku pada wanita yang terlihat tidak menyukaiku ini.


“Dan, Laura, maaf ini istri saya“ pandangan Anwar beralih pada Laura, membuatku semakin PANAS.


“Oh, I istri?? Saya fikir, pria setampan pak Anwar belum menikah“ jelasnya terang-terangan.


“Ah, saya sudah lama menikah“ jawab Anwar.


“Ooohhh” Laura melepaskan pegangan tangannya dariku, kala merasakan ada cengkraman kuat dariku yang sedang kesal.


“Kalau begitu, karena urusan saya sudah selesai, saya permisi dulu ya pa Anwar“ pamit Laura.


“Oh, iya silahkan“ jawab Anwar sambil membukakan pintu, ish ... dikira Laura gak punya tangan, sampe dibukain pintu segala.


“Mari pak Anwar“ Laura dengan centilnya masih saja menatap suamiku.


“Iya, silahkan“ setelah pergi Anwar kembali masuk kedalam ruangan dan duduk di sampingku.


Bersambung....................


Hay readers, jangan lupa dukungannya buat author yaaa....

__ADS_1


__ADS_2