
Sering kali saat rasa cemburu itu hadir, akan mematikan akal sehat, dan rasa syukur seseorang, rasa cemburu itu bukan soal nilai, tapi juga karena merasa lebih tinggi dari orang lain. Yah, begitulah suamiku, selalu merasa jika kedudukannya lebih tinggi dari pria-pria yang mencoba menyapaku, yah meskipun kenyataannya memang begitu sih, tapi kadang, sering kali aku tidak nyaman ketika dia seringnya membatasi ruang gerakku, yah, aku tahu aku memang miliknya, tapi mengekangku dengan segala cara, kadang membuatku bosan, tak bisakah kamu bersikap sewajarnya sebagai suami normal Anwar ??.
Tidak bisakah kamu bersikap santai ?? Bukankah kamu tahu??? Jika aku pandai menjaga hati?? Aku tau posisiku sebagai istrimu.
Ish, aku bicara seperti ini, bukan karena aku ingin berdekatan dengan pria lain yang bukan mahrom, hanya saja aku sering kali tidak enak pada orang lain yang menyapaku dengan biasa saja, tapi kamu selalu saja mengartikannya sikap mereka luar biasa.
Pedagang sayur, ketika menawarkan sayurannya sambil tersenyum, kamu anggap dia naksir aku, pedagang roti keliling, yang menyapaku dengan santun ketika lewat, kamu bilang dia juga suka sama aku, bahkan si mamang tukang sampah yang ngambilin sampah depan rumahpun, kamu sangka dia juga cinta sama aku. Ish ... itu berlebihan namanya.
Setibanya di rumah, aku turun dari mobil, dengan Fadli di gendonganku, aku berjalan menuju kamar, sayup ku dengar Bi Lastri sedang mencuci pakaian di belakang, kubiarkan saja, tak ingin mengganggunya, kasihan dia, sudah lelah membantuku selama ini.
Setibanya di depan pintu kamar, aku memutar handle pintu, kemudian mebuka dan mendorong pintu.
“Loh?? Siapa kamu??!!!!” Aku berteriak, kala melihat sesosok perempuan muda yang berada di kamarku, tengah berusaha membuka lemariku.
“Ah, ma maaf bu“ jawabnya menunduk.
“Kamu siapa??” tanyaku.
“Sa sa sayaaa ... saya anaknya bu Lastri bu“ jawabnya gugup.
“Anaknya bi Lastri? Kamu sudah datang??k Knapa kamu ada di kamar saya?” tanyaku mengintimidasi.
“Eemmhh ... anu bu ... saya ... saya ...” jawabnya terbata-bata, menundukkan kepalanya serendah mungkin.
“Iya kenapa??” tanyaku mulai geram.
“Ada apa Jan?? Ribut-ribut??” Anwar datang dari belakangku.
“Loh?? Kamu siapa?? Kenapa ada di kamar kami??” Anwar tak kalah kaget dan heran.
Ku tatap perempuan di hadapanku, gadis ABG khas anak SMA, tubuh tinggi ramping, wajah ayu, hidung mancung, mata bulat, kulit putih bersih, apalagi dia menggunakan hotpan, dan kaos pendek, semakin mengeksplor bentuk tubuhnya yang semampai, rambut sebahu dengan di cat pirang, lensa, behel gigi, dan kutek kuku berwarna merah menyala.
Aku menggelengkan kepala, kenapa remaja sekarang penampilannya seperti ini? ck, aku berdecak.
Ku lihat dia, tengah menatap suamiku, sambil menelan salivanya, menyebalkan.
“Jawab“ Aku kembali bertanya.
“I iya bu, maaf saya salah kamar, saya fikir ini kamar Ibu“ jawabnya gemetaran.
“Oh gituh, kamar Ibu kamu yang ini, di samping kiri kamar saya, kalau di samping kanan, itu kamar putra saya, Fadli“ jelasku akhirnya, tak ingin berspekulasi sendiri, hanya karena melihat penampilan luarnya anak ini.
“I iya bu, sekali lagi maaf ya“ Dia kembali menundukkan kepalanya.
“Iya, tidak apa-apa, nama kamu siapa?” tanyaku lembut.
__ADS_1
“Nama saya Tiwi Bu“ jawabnya, dengan juru mata, tetap menatap Anwar.
“Ya udah Tiwi, kalau baru datang istirahat aja dulu ya, aku juga mau istirahat“ perintahku sambil masuk kedalam kamar, di ikuti Anwar, Anwar menutup pintu meninggalkan Tiwi yang sedang mematung sendirian di luar kamar.
“Sayang, kamu ngerasa Tiwi aneh gak sih?” tanya Anwar sambil terbaring di pinggir Fadli.
“Aneh gimana?” tanyaku menatapnya, jujur hatikupun merasakan hal itu, merasa ada yang aneh dengan anaknya bi Lastri, tapi aku berusaha untuk tidak bersuudzan saja.
“Yah, gitulah, tapi kita lihat aja dulu, aku takutnya jadi fitnah“ jawab Anwar, sambil menahan kepalanya dengan satu tangan menghadapku.
“Hmht, ya udah deh“ pada istirahat sanah, aku mau mandi dulu, gerah soalnya.
“Hmh“ Anwar menjawab sambil memejamkan mata, lalu memeluk Fadli, yang sudah terlelap.
Aku masuk kedalam kamar mandi, dengan menenteng handuk di tangan, tak ada yang salah, tapi kenapa rasanya ada yang aneh, aku mengedarkan pandangan.
“Ah, gak ada yang salah kok, tapi sebentar“ Aku mendekati lantai di bawah shower.
“Kok basah sih? Apa bi Lastri mandi di sini ya??” Aku mengernyitkan dahi, kamar mandi basah seperti habis di gunakan, padahal dari pagi aku tidak dirumah, bi Lastri?? Gak mungkin hampir satu tahun lebih, dia bekerja denganku, tapi aku gak pernah bermasalah dengan pekerjaannya, dia termasuk orang yang jujur.
Aku celingukan, aku mengintip rak sabun, “Hah?? Kok sabun aku pada gak ada ya??” jujur aku bingung, sabun itu harganya memang tak seberapa, masa iya ada yang ngambil.
Akhirnya kuputuskan, untuk kembali kedalam kamar, untuk mengambil sabun baru.
“Belum“ jawabku sambil meraih sabun baru.
“Kenapa??” tanyanya.
“Sabunnya abis“ Aku kembali melangkahkan kaki menuju kamar mandi, tak ingin memperpanjang obrolanku dengan Anwar, aku juga tidak ingin Anwar tahu itu, karena dia manusia yang berlebihan dalam hal apapun.
Di tengah aktifitasku yang sedang mandi, aku berfikir keras, apa yang harus kulakukan pada Tiwi?? Apa aku salah?? Aku telah mengizinkan orang asing masuk kedalam rumahku, tapi aku hanya ingin membantu meringankan bebannya saja.
Apa iya, Tiwi gak sengaja masuk kedalam kamarku?? Apa Bi Lastri tidak menunjukkan kamarnya??.
Ah, aku sungguh jadi bingung.
Setelah selesai mandi, aku keluar kamar mandi, lalu aku menangkap pemandangan yang begitu menakjubkan, aku melihat fose tidur Anwar, dan fose tidur Fadli sama, mereka terlentang, dengan tangan ke atas, dan kaki membentuk huruf O, ah ... lucunya mereka, bolehkah ku abadika lewat kamera??? hheee.
Aku beranjak, kemudian membuka lemari, lalu memakai baju, setelahnya, aku mencoba memoles diri, dengan make up tipis, terasa begitu segar, setelah mandi, rasanya bebanku juga ikutan berkurang, seiring dengan perginya daki-daki yang tadi aku gosok.
Tok ... tok ... tok ...
Terdengar suara ketukan pintu, aku beranjak dari meja rias, menuju pintu, aku membuka pintu, kemudian menyembulkan kepala.
“Kenapa Tiwi?” tanyaku yang tengah berdiri didepan pintu, sambil celingukan seperti mencari sesuatu.
__ADS_1
“Ah, itu Ibu, makanannya sudah siap“ katanya dengan tatapan tertuju pada Anwar, yang tengah tidur dengan posisi membelakangi kami.
“Iya, saya sama suami saya sebentar lagi kesana“ jawabku sambil menatapnya.
“I iya bu“ balasnya sambil berlalu.
Aku menarik napas panjang “Ck, anak sekarang, kenapa tidak bisa sekali menjaga pandangan??” Aku berdecak sebal, karena suamiku dari tadi terus di perhatikan ABG.
“Ayah, bangun“ Aku menggoyangkan tubuh Anwar, membangunkannya, untuk mengajaknya makan.
“Eemmhh“ Dia menggumam, dengan mata terpejam.
“Banguuunnn“ Aku terus menggoyangkan tubuhnya.
“Iya“ Anwar duduk, sambil menguap.
“Ayo makan dulu“ ajakku.
“Kamu kok udah cantik aja sih?? Wangi lagi“ Anwar mengendus-endus.
“Ish, cepetan mandi sanah, kita makan“ Aku mendorong tubuhnya.
“Enakan makan dulu kali ya“ Anwar mengedipkan matanya, lalu tersenyum mesum.
“Ck, kamu“ Aku mendelik.
“Makan kamu aja ah“ Anwar mulai menyentuh bahuku.
“Ayah, please deh“ Aku menatapnya tajam.
“Ayolah“ Anwar merayuku.
“Ck kamu“ Aku berdecak, sejak kapan dia jadi semesum itu?? Minta jatah di sore bolong seperti ini.
“Eeehhheeee ... “ Dia tersenyum jahat.
“Ooohhheee ... hhooee ... hhooeee ... “ tiba-tiba terdengar tawa Putraku.
Kami mengerjap, sejenak menghentikan aktifitas, kemudian mengalihkan pandangan pada putraku, terlihat, Fadli sedang tertawa, sambil mengangkat kakinya.
Seketika kami tertawa bersama, merasa lucu dengan tingkah kami, dan juga tawa Fadli. Ck, putraku adalah penyelamatku. Hhheee....
Bersambung.................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gaeeeessss......
__ADS_1