KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Kenyataan Sesungguhnya


__ADS_3

“Assalamu’alaikum Andi, Bapak ada didalam??” tanyaku pada sekretaris Anwar.


“Emh, maaf bu, saya baru saja pulang dari makan siang, sebentar saya cek dulu Bapak kedalam ya bu,“ jawab Andi yang terlihat baru saja datang.


“Oh, tidak usah, biar saya langsung masuk saja,“ Aku segera beranjak menuju ruangan Anwar, ku pegang gagang pintu itu, lalu perlahan membukanya.


“Pak Anwar, anda tidak bisa bersikap seperti ini pada saya, saya sekarang sedang kesulitan dalam ekonomi, saya dan anak saya sedang membutuhkan uang pak, anak saya sedang sakit!!“ terdengar suara seorang perempuan begitu lantang berbicara.


“Semuanya bukan salah saya, itu adalah pilihanmu Tiara“


Deg!!


Aku semakin melebarkan pintu tanpa mereka sadari.


“Itu bukan pilihanku, tapi itu adalah perintah dari pak Anwar“ jawab perempuan itu, semakin berapi-api, aku tertegun di balik pintu, kugenggam erat rantang makan siang Anwar dengan sekuat tenaga, ada perih yang menelusup kedalam hatiku.


“Perintah?? Aku hanya memberimu penawaran menarik saja, dan kau memilihnya bukan??” tanya Anwar tak kalah tegas, ku kerutkan keningku, sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan.


“Tidak, ini tidak adil bagi saya, saya melakukan semua ini atas perintah Bapak,“ terdengar perempuan itu terisak.


“Cih, perempuan munafik seperti kamu, bahkan tanpa saya perintah 'pun, kamu akan melakukan semuanya bukan??” tanya Anwar menyeringai, sungguhkah itu suara Anwar??dadaku memanas, jantungku bergejolak hebat.


“Baik, jika Bapak tidak mau memenuhi semua keinginan saya, maka akan saya beritahukan semua yang telah Bapak lakukan pada istri bapak!!“ teriaknya, suara perempuan itu kian menggebu.


“Jangan pernah berani menyentuh istriku, lagi pula, bukankah kamu sekarang sudah bahagia hidup bersama suamimu Faisal??” suara Anwar terdengar membahana, memenuhi ruang gendang telingaku. Faisal??apa maksud mereka??.


“Haha, Bapak tahu, saya perempuan seperti apa, saya bisa melakukan apapun, saya tidak bisa hidup dengan bahagia, berkat Bapak dan istri bapak“ perempuan itu tertawa dengan lantang.


“Jika kamu berani, menyentuh istriku, maka kamu akan tau akibatnya!!“ gertak Anwar, yang sungguh tak bisa kupercaya, Anwar yang lembut, tulus dan baik hati, kenapa dia membentak perempuan.


“Hidup saya sudah hancur, tanpa dihancurkan oleh Bapak sekalipun, jadi saya minta Bapak penuhi keinginan saya, dan saya akan memenuhi keinginan Bapak!!“ lagi begitu lantang suara itu.

__ADS_1


“Baik, akan saya berikan apa yang kamu minta,“ terlihat, Anwar menuliskan sesuatu pada sebuah kertas.


“Ini, ambil uang ini, dan jangan kembali ke kehidupanku“ perintah Anwar setelah kertas berupa cek itu di terima perempuan itu, yang tidak lain adalah Tiara.


Aku menganga, menutup mulutku tidak percaya, suamiku yang sempurna, sungguh?? Inikah dirimu yang sesungguhnya??.


Tttrrraaaannngggg!!!


Tiba-tiba rantang dari genggamanku jatuh begitu saja, aku tak mampu lagi menggenggam apapun, tubuhku melemah seketika, rasa mual ingin muntah tiba-tiba saja mendominasi tubuhku.


“Anjani!!” teriak Anwar sambil menghampiriku.


“Jadi, inikah kesungguhan hatimu Anwar?” Aku mulai berkaca-kaca.


“Ti tidak sayang, dengarkan aku, semua yang kamu dengar tadi tidak benar, Tiara hanya sedang memerasku“ jelasnya, membuatku begitu muak mendengarnya.


“Aku tidak pernah memeras pak Anwar, pak Anwar yang sudah membuat hidupku menderita,“ Tiara menimpali.


“Kenapa kamu selalu membuat hidupku berantakan?? Apa salahku padamu??” lirihku sambil menatap manik mata Tiara, gadis yang selalu kubela, selalu kutemani, kututupi aibnya, tidak ada hentinya dia membuat hidupku hancur.


“Kamu tidak bersalah Anjani, hanya saja orang-orang disekitarmu yang terlalu bodoh“ jawabnya sinis “Dan kamu tentu saja lebih bodoh dari mereka“.


“Apa maksudmu?” tanyaku sambil menyeka air mata yang sudah tumpah dari tempatnya.


“Kamu tahu Anjani, suami kamu inilah yang membuat semuanya jadi hancur, kedekatanku dengan Faisal, pernikahanku dengan Faisal, hingga perceraianmu dengan Bagas, kamu terlalu percaya diri Anjani untuk mengatakan jika Anwar adalah pria polos, yang sangat tulus“ jelas Tiara yang membuat lututku semakin lemas.


Anwar memegang bahuku, dengan mata yang sudah hampir keluar karena melototi Tiara.


“Kamu terlalu naif Anjani, kamu terlalu polos, dan apa kamu bilang?? Kamu selalu punya Tuhanmu yang melindungimu??bl Buktikan padaku, jika Tuhan itu ada Anjani, buktikan padaku jika Tuhanmu itu selalu melindungimu hahaha ...” Tiara tertawa terbahak, sementara aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi.


“Ta tapi, ke kenapa??” Aku menatap Anwar yang sudah tak kalah gemetar.

__ADS_1


“A aku sangat mencintai kamu Jan,“ akunya.


“Ci cinta?? Kamu bilang kamu mencintaiku?? Inikah yang kamu maksud cinta An?? Ke kenapa?? Ke kenapa kamu tega melakukan semua ini??” Aku kian terbata, suaraku sudah tercekat, rasa shock, membuat dayaku hilang entah kemana.


“Jan, aku mohon dengarkan alasanku, aku bisa jelasin semuanya oke?? Kamu berdiri dulu, kamu duduk, kita bicara baik-baik“ Anwar mencengkram kuat tanganku, seolah mengiba jika dia tidak ingin ditinggalkan.


“Ti tidak An, semuanya sudah terlalu jelas bagiku, jadi kamulah, dalang dibalik semua ini??” tanyaku, menatapnya sayu.


“Ti tidak Jan, bukan begitu, semuanya bukan salahku“ Kurasakan tangan Anwar begitu bergetar, mungkin sebentar lagi penyakitnya akan kumat, tapi aku sungguh tidak peduli, disini akulah korbannya.


“Cih, kalian memang menyedihkan“ tiba-tiba Tiara berdecih, wanita tidak tahu malu itu masih berdiri dihadapanku, dengan angkuhnya.


“Ti tiara, kenapa kamu menjadi manusia yang jahat??” tanyaku sambil berlinang air mata.


“Jahat?? Aku jahat?? Bukankah kamu lebih jahat dariku Anjani?? Kamu sudah menguasai jiwa dan fikiran suamiku, hingga kami tidak bisa berumah tangga dengan baik, hingga semuanya menjadi kacau, dan anakku kehilangan sosok ayahnya“ jelas Tiara kian menggebu, aku yakin kini hatinya tengah dipenuhi emosi.


“Aku tidak melakukan apapun padamu Tiara“ jawabku.


“Yah, tapi bayanganmulah yang membuat aku harus kehilangan Faisal“ jelasnya, yang membuatku bingung.


“Maksudnya??” tanyaku.


“Kami sudah lama bercerai, jika kamu mau, kamu bisa memilikinya kembali, hahaha ...” Tiara tertawa sambil berlalu dari hadapan kami.


Aku yang masih lemah, memaksakan diri untuk berdiri, aku yakin, aku baru saja menyaksikan drama tv yang sering aku tonton, tidak mungkin suamiku setega itu, Anwar manusia yang paling aku hargai, aku hormati, dan ... aku cintai, benarkah kamu yang melakukan semuanya?? Tidak salahkah pendengaranku??.


Aku beranjak menjauhi Anwar, kini aku merasa jijik dan takut berdekatan dengannya, jadi aku salah, ternyata harta dan tahta Anwar kini jadi ujian bagi rumah tanggaku, berkat harta dan tahtanya, Anwar bisa melakukan apapun, termasuk membuat hidupku menjadi sulit, jika memang benar apa yang dikatakan Tiara.


Bersambung........................


Hay readers, dukungan buat author, gak lupa dong ya....

__ADS_1


__ADS_2