KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Malam pertama


__ADS_3

Untuk pertama kalinya kutatap mata pria yang telah menikahiku, tanpa jarak, tanpa sekat, wajah tegasnya kini mengingatkan aku pada waktu pertama kali kita bertemu. Waktu dia naik ke atas meja, dan menyatakan perasaannya padaku lewat sebuah lagu yang dia ciptakan. Aku tersenyum menatapnya. Dia sungguh membuktikan kata-katanya. Dia mampu meruntuhkan kerasnya hatiku, meskipun kita sempat terpisah ruah, meski dia sempat aku tolak, tapi pada akhirnya moment inilah yang terjadi, moment dimana aku bersedia menjadi istrinya, dan aku tahu ini adalah moment paling special di dalam hidupnya.


Dalam sebuah pernikahan yang sulit itu bukan ijab kabulnya, tetapi menjalaninya setelah ijab kabul, membangun kepercayaan, kesetiaan, kejujuran, aku pernah gagal membina rumah tangga yang harmonis, disebabkan oleh ketidak jujuran dalam sebuah masalah, yang menyebabkan keutuhan rumah tanggaku hancur.


Kini Akan kubangun komitmen yang baik dengan Anwar, sebuah komitmen yang tidak akan kami langgar, kami akan berusaha menciptakan keluarga yang bahagia, walaupun mungkin akan ada batu kerikil yang menghalangi langkah kami.


Malam ini adalah malam pertama aku dan Anwar, ada kewajiban yang harus kutunaikan sebagai seorang istri, kulihat Anwar masih di kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Krrriiiieeeetttt ...


Suara handle pintu dibuka, dia kembali menutup pintu kamar mandi dan mendekatiku.


‘Tenang Anjani, sekarang Anwar adalah suamimu’ bisikku dalam hati, menetralisir hatiku yang terus bergejolak.


“Mau mandi??” tanya Anwar, sambil melirik handuk yang kupegang.


Aku mengangguk tanpa kata.


“Aku boleh menatapmu tanpa hijab??” tanya Anwar yang membuatku semakin kikuk.


“Eeeeemmmm ...”

__ADS_1


“Boleh ya?? Kita 'kan sudah menikah” rayunya.


Tapi aku tetap menggelengkan kepala.


“Kenapa?? Kita sudah menikah dan bukan dosa jika aku melihat rambutmu” ucap Anwar sambil terus mendekat, dia perlahan membuka hijab yang kugunakan. Kemudian tersenyum dan meraih daguku kemudian mengarahkan pandangannya ke mataku. Dia menatapku begitu lekat.


“Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu,” ucapnya begitu lembut sambil mengecup keningku lama, hingga dia benar-benar melepaskan pelukannya.


Kini akupun benar-benar jatuh cinta padanya, debaran ini melebihi debaranku pada Bagas, ataupun Faisal dulu. Anwar kini benar-benar telah memenuhi seluruh relung qalbu.


Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi, ku lihat Anwar sudah menungguku di tepi ranjang, sambil tersenyum padaku setelah aku menutup kembali pintu kamar mandi.


“Jan, kita shalat isya berjamaah ya“ ajaknya.


“Sayang, boleh ya mulai dari sekarang aku memanggilmu sayang??” tanya Anwar tersenyum padaku, lalu menggenggam tanganku erat.


Ah, kenapa debaran ini tiba-tiba saja begitu kencang di saat dia menggenggam tanganku, dan menatap manikku begitu dalam, bagaimana mungkin aku bisa membalas tatapannya? Itu membuat detak jantungku semakin tidak karuan.


“Emmmm i iya,“  jawabku simple, sambil menurunkan pandangan setelah memandangnya cukup lama.


“Aku adalah suamimu dan imammu“ kata Anwar, yang membuatku mengangguk menanggapi setiap kata-kata Anwar.

__ADS_1


“Dan kamu adalah istriku, ibu dari anak-anakku kelak“ seketika pipiku menghangat, rona merah hinggap di pipiku kini.


“Maka dari itu, malam ini adalah malam yang mengawali hubungan kita yang sesungguhnya. Aku tidak bisa berjalan tanpa dirimu, dan kamu tidak bisa berjalan tanpa diriku, jadi mulai sekarang mari kita melangkah bersama-sama, Anjani, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku selamanya? Hingga azal menjemput??” tanya Anwar yang membuat pipiku semakin memerah.


“Aku bersedia Anwar“ jawabku sambil merunduk malu.


Anwar tersenyum sambil memelukku erat, dan emak-emak pasti taulah apa yang selanjutnya terjadi wkwkwkwk.


Hari ini adalah hari pertama aku menjadi istri seorang Anwar, ada banyak hal baru yang harus ku lakukan sebagai seorang istri. Dan hal pertama yang kulakukan di pagi ini adalah membuatkannya segelas koffee hitam kental, ah, iya suamiku kini adalah penyuka koffee.


Sekarang aku tinggal dirumah barunya Anwar, rumah yang katanya sudah di persiapkan Anwar jauh-jauh hari sebelum menikah denganku. Dia memiliki rumah impian yang dia bangun dan dia design sendiri, untuk rumah masa depannya. Sesuatu hal yang unik karena ia yakin jika rumah itu akan ia tempati bersama diriku. Rumah ini sangat indah dengan model kekinian dan halaman yang cukup luas, hingga aku bisa membuat kebun bunga di halaman rumah.


Aku menatap bunga-bunga indah sore ini, tiba-tiba ada tangan melingkar di perutku, Anwar memelukku dari belakang.


“Aku harap rumah tangga kita akan abadi, yang tidak akan hanya berjalan di dunia, tapi juga di akhirat“ Aku menyenderkan bahuku di pundak Anwar.


“Rumah tangga kita akan kuat sayang, sekuat cinta kita“ jawab Anwar tersenyum padaku.


Angin semilir menerpa wajah kami, kami tersenyum menikmati hidup kami.


Bersambung....................

__ADS_1


Waktu nulis part ini author ikut baper lho.....iri banget sama Jani.....ekekekek....


Terus dukung kisah kami ya kakak readers @ Anjani & Anwar yang sedang berbahagia :)


__ADS_2