KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Mengenang


__ADS_3

“Nah, sampai“ katanya, sambil menurunkan badanku.


“Hah ... inikan??” Aku terlonjak kaget ketika tiba di tempat ini.


“Iya, ini tempat aku ngelamar kamu dulu“ Anwar tersenum lembut padaku, sambil mengusap pipiku dengan tangannya, aku merasa sangat terharu, kala ingatan ketika Anwar melamarku kembali terbayang.


“Aku harap kamu bisa sejenak melupakan kesedihan dan kekhawatiranmu Jan, aku sedih ketika kamu sedih“ Anwar masih mengelus pipiku, dia memandangku lekat, saat aku menatapnya.


“Hhhmmhhtt, makasih ya An, aku bahagia bisa menikah denganmu, memilikimu,“ kurasakan haruku, hingga ku teteskan air mataku.


“Udah, jangan nangis lagi, sekarang kita beli ice cream yuk“ Ajaknya menuntun tanganku, kemudian kami berjalan beriringan menuju pedagang ice cream, yang ada di pinggiran danau buatan ini.


Selesai membeli ice cream rasa vanilla pavoriteku, tiba-tiba aku menoleh pada Ibu-Ibu penjual kue cucur, di samping pedagang ice cream, aku hanya menatapnya, seorang Ibu, yang sudah berumur, masih saja dengan penuh semangat berjualan tanpa terlihat rasa lelah.


“Ibu, ini berapa?” tiba-tiba Anwar membungkukkan tubuhnya, lalu menyentuh kue cucur dagangan si Ibu.


“Lima ribu rupiah Den“ jawab si Ibu ramah.


Ku perhatikan makanan itu, makanan yang jarang kutemukan, si Ibu berjualan dengan menggunakan kain gendongan dan bakul, aku merasa simpatik padanya.


“Ya udah, bungkus aja semuanya ya bu, saya mau beli semua“ kata Anwar, yang membuatku terharu.


“Alhamdulillah, terimakasih banyak ya Den, Aden baik sekali!“ teriak si Ibu kegirangan.


“Iya, sama-sama“ jawab Anwar sambil menatapku.


Aku tersenyum, “Sudah lama Ibu mangkal disini, dari pagi, tapi belum ada yang beli“ kata si Ibu, sambil menunduk.


“Apa kamu akan menghabiskan semuanya An??” tanyaku sambil menatapnya.


Yang ditanya malah tersenyum dan kembali menatap si Ibu pedagang kue cucur,


“Semuanya jadi berapa nek??” tanyanya.


“Semuanya jadi, seratus ribu Den“ jawab si Ibu, yang telah selesai membungkus semua dagangannya.


“Oh, ya udah ini ambil uangnya bu“ Anwar membirikan uang lima lembar berwarna merah.


“Tapi, ini kebanyakan Den“ Si Ibu mengembalikan uang empat lembar.


“Tidak, ini buat Ibu aja“ Anwar kembali memberikan uang itu.

__ADS_1


“Ya Allah, terimakasih banyak Den“ jawab si Ibu sambil menempelkan uang tersebut dikepalanya.


“Iya, sama-sama bu“ jawab Anwar, sambil menenteng kue cucur yang lumayan banyak itu, dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggandeng tanganku.


“Semoga rezeki Aden di lipat gandakan oleh yang maha kuasa“ ucap si Ibu.


“Aamiin,“ jawab kami bersamaan.


Aku tak bicara lagi, sambil menikmati ice cream yang hampir meleleh, aku berfikir, kenapa Anwar begitu baik terhadap siapapun, bahkan kepada si Ibu pedagang kue cucur yang asing itu, kadang seringkali aku mendapatinya bersedekah diam-diam tanpa sepengetahuanku, tapi aku tentu saja ikhlas, toh itu untuk kebaikan, dia tidak pernah lupa juga membayar Zakat untuk setiap pendapatan yang diperolehnya, aku yakin memiliki suami seperti Anwar adalah impian setiap wanita.


“Jan, kenapa diam aja??” tanya Anwar membuyarkan lamunanku.


“Ah, enggak, aku cuman inget waktu kamu ngelamar aku pas di sini nih,“ jawabku sambil menunjuk tempat di bawah pohon rindang, yang dulu di gunakan Anwar untuk memohon padaku agar menerima cintanya.


“Hhheee, iya, kamu masih inget aja“ jawabnya sambil terkekeh.


“Jan, sekarang mau aku nyanyiin?” tawarnya, yang mengundang senyumku jadi makin mengembang.


“Boleh, asal jangan sambil naik keatas pohon aja“ jawabku, tak bisa kutahan tawaku, kala mengingat Anwar yang bernyanyi di atas meja, menyatakan perasaannya padaku, siapa yang tahu?? Kini pria rambut klimis ini adalah suamiku terkasih, dengan segala kesempurnaannya, takdir Allah memang unikkan?.


“Kamu kira aku tarzan?? Nyanyi di atas pohon?” Dia mendelik.


“Hheee, ya udah ayo nyanyi“ Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya, sambil menikmati semilir angin yang menerpa wajahku, dan juga nyanyian merdu dari suamiku.


Setelah selesai menikmati pemandangan, kemudian kami beranjak untuk pulang, dengan kantong kresek berisi kue cucur, yang di beli Anwar tadi, kami berjalan pelan, mungkin tenaga kami sudah terkuras tadi waktu kami berangkat.


“An, kamu mau kemanain kue sebanyak itu?” tanyaku sambil menggenggam tangannya.


“Kita berikan lagi, pada orang-orang yang membutuhkan Jan“ jawabnya.


“Emh gituh, sama siapa ya kira-kira??” tanyaku sambil berfikir, di tempat ini, mana ada orang yang mau dikasih orang sembarangan? Mengingat penampilan mereka bukan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, apalagi cuman kue cucur.


Aku memutarkan pandanganku, biasanya di tempat ramai seperti ini suka ada pengemis yang berkeliaran, ku fikir akan kuberikan kue-kue ini kepada para pengemis, yah ... dari pada berat di bawa pulang kan?.


“An, kita kasih aja kuenya sama tukang mulung“ Aku menoel tangan Anwar sambil menunjuk para pemulung yang berkeliaran.


“Iya, boleh“ jawabnya, sambil berjalan mendekati para pemulung tersebut.


“Permisi pak“ sapa Anwar.


“Iya pak,” jawab pemulung yang menggunakan topi.

__ADS_1


“Pak, maaf, ini saya ada sedikit rezeki, di terima ya??” kata Anwar sambil menyodorkan kresek hitam tersebut.


“Alhamdulillah, terimakasih pak“ jawab si Bapak sambil menerima kresek tersebut.


“Ah, dan ini buat Bapak,“ Anwar kembali meraih dompetnya dan memberikan uang seratus ribu rupiah kepada pemulung tersebut.


“Alhamdulillah, terimakasih pak, terimakasih banyak, semoga rezeki bapak bertambah“ jawab pemulung, sambil menerima uang dari Anwar.


“Iya, sama-sama, Aamiin pak“ jawab kami.


“An?” Aku memanggil suamiku lembut, setelah menjauh dari mereka.


“Iya sayang“ jawabnya.


“Kenapa kamu begitu baik??” tanyaku sambil menatapnya.


“Mungkin karena dulu, aku pernah banyak melakukan kesalahan" jawabnya sambil menunduk.


“Kesalahan?” tanyaku heran.


“Ah, ya sudahlah, gak usah dibahas“ jawabnya sambil tersenyum.


“Sekarang, gimana kalau kita lomba lari aja, siapa yang duluan nyampe ujung jalan itu dapet hadiah dari aku“ tawar Anwar sambil menunjuk ujung jalan yang lumayan jauh dari tempat kami berdiri.


“Siapa takut?” jawabku sambil mengedikkan bibirku.


“Ok, siap ya, satu, dua, tiga!!“ Anwar dan aku langsung berlari, saling menyusul dan tak lama kemudian ...


“Aku pemenangnyaaaaa!!!“ teriakku bangga.


“Huh ... huh ... iya aku sengaja ngalah“ jawab Anwar sambil terengah-engah.


“Kenapa?” tanyaku.


“Karena aku mau kamu nerima hadiah dari aku“ jawabnya sambil tersenyum.


“Emang hadiahnya apa??” tanyaku sambil mengerutkan alisku.


“Ini, cup ... “ tiba-tiba Anwar mencium pipiku tanpa malu.


“Ish ... Anwaaaarrrr ... !!“ teriakku sambil kembali mengejarnya.

__ADS_1


Bersambung.....................


Hay readers, jangan lupa terus dukung kisah Anwar dan Anjani yaaaa.....


__ADS_2