
kamar dengan pintu kaca besar, yang terhubung ketaman belakang itu tampak elegan dalam balutan cat berwarna putih, dua kaca persegi panjang di setiap sisi tempat tidur, lemari besar, dengan deretan pakaina yang lumayan beruang, meja rias, dan tepat di bagian kepala ranjang terdapat foto pernikahanku dengan Anwar, Aku memutarkan pandanganku, hanya bisa
bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan padaku, atas sebuah kesempatan yang kembali Allah berikan untukku, dan untuk Fadli putraku.
Hari ini, kebetulan Fadli masih terlelap di kamar yang terletak di samping kiri kamarku, setelah mandi, dan bersih-bersih, akupun
menunggui Fadli untuk bangun.
Pukul lima lewat lima belas menit, terdengar suara mobil suamiku, sepertinya dia sudah pulang, bertepatan dengan itu, Fadlipun
ikut terbangun. “Ck, ayah dan anak ini, kenapa begitu kompak sekali??“ Aku berdecak sambil menggelengkan kepalaku.
“Sayang, sudah bangun?? Ayo kita sambut Ayah pulang“ Aku memangku putraku, lalu membawanya kedepan, untuk menyambut kepulangan Ayahnya.
Ku bukakan pintu, dan terlihat wajah suamiku yang begitu sumringah tersenyum padaku, sambil menenteng sebuah papper bag. Entahlah isinya apa.
“Hay sayang“ Anwar menyentuh pipi Fadli.
Fadli tersenyum, begitulah tingkahnya, setiap kali menyambut kepulangan Ayahnya.
“Ini untuk jagoan Ayah“ Anwar mengacungkan Papper bagnya padaku.
Aku mengernyitkan dahi, “Apa lagi yang di bawanya untuk putraku?” hatiku menerka-nerka, setelah sebelumnya dia membelikan
anaknya mobil-mobilan dan robot-robotan, entah apalagi yang dia bawa sekarang.
“Apa ini??“ tanyaku sambil membuka bungkusan kado yang di bawanya.
Sementara Anwar, masuk kedalam rumah, kemudian mencuci tangan, dan mengganti pakaiannya.
“Hih, Ayah, Ayah beliin Fadli mainan dino saurus lagi??” tanyaku sambil mengacungkan mainan yang di belinya, berbentuk dino saurus beberapa biji.
“Iya, hehe, Fadli pasti suka“ jawabnya sambil
menggendong anaknya.
“Suka??? Ngerti aja enggak“ jawabku sambil berlalu.
“Jangan marah-marah gitu dong, nih buat ibunya Fadli“ Anwar kembali mengacungkan kresek yang tadi di bawanya bersamaan dengan hadiah untuk Fadli.
“Apa ini?” tanyaku bingung.
“Itu martabak kesukaan kamu“ jawabnya.
“Oh terimakasih“ kataku sambil tersenyum malas.
__ADS_1
“hheee ... di makan ya Ibu“ Anwar tersenyum sambil memainkan tangan Fadli.
“Iya“ jawabku sambil berlalu menuju dapur.
Huh, kadang aku suka cemburu pada putraku sendiri, semenjak kelahirannya, kini Anwar jadi jauh semakin perhatian pada putranya di
bandingkan padaku, lucu sih, kadang aku merasa begitu, tapi aku sangat bahagia,
dengan keluarga kecilku, aku sangat bahagia memiliki mereka. Syukurku tak pernah berhenti kupanjatkan.
“Ibu, bapak mau makan sekarang?” tanya Bi Lastri.
“Ah, iya bi, di siapin aja“ jawabku sambil berlalu, kembali menemuai dua pria yang tengah asyik bermain di ruang tv.
“Ayah, makan dulu ya ... sini Fadlinya Ibu yang
gendong aja“ Aku mengambil alih Fadli dari pangkuan Anwar.
“Ish, baru juga main sebentar“ Anwar mendengus kesal, merasa kebersamaannya dengan putranya terganggu.
“Iya, nanti main lagi yaaa ... “ Aku tidak peduli,
karena seringnya ketika Anwar sudah main dengan putranya, dia selalu lupa waktu.
Pernah di suatu malam, dia malah ikut tertidur di samping ranjang tidur Fadli, ketika dia selesai menggantikan popok Fadli. Atau
Setelah sebelumnya ada banyak drama yang membuatku ingin tertawa, aku mengingatnya malam itu, setelah siangnya aku meminum susu, entah kenapa tiba-tiba saja perutku terasa begitu sakit dan mulas, padahal
susunya adalah susu yang biasa aku konsumsi. Aku menitipkan Fadli yang baru
berusia dua minggu itu, kepada Anwar. Tapi belum aku menunaikan hajatku, Anwar
sudah berteriak,
“Ibuuuuu, masih lama gak? Ini alis Fadli kenapa jadi merah?? Dia nangis!!” teriaknya dari luar kamar mandi.
“Iya, belum juga apa-apa, kenapa udah teriak sih??!” Aku membalas teriakannya, sedikit kesal.
“Ini alisnya merah kenapa??” lagi dia berteriak panik.
“Bayi, kalau nangis emang kayak gitu!!!” teriakku lagi.
Tak lama kemudian,
“Ibuuu ... kenapa ini kepalanya malah menggeser??” teriakan Anwar semakin menggema.
__ADS_1
“Menggeser kemana sih??” tanyaku mulai sewot, gimana gak sewot? Belum bokong nyampe ke kloset, kenapa dia sudah berteriak
teriak seperti tarzan?.
“Ke kanan, aduuhh aku harus gimana??” tanyanya, terdengar begitu panik dan ketakutan.
“Di pangku aja!!“ teriakku.
“Di pangku gimana?? Aku gak bisa!!” jawabnya.
“Ya ampuunn ... apa gunanya tangan kekar itu?? Jika memangku bayi saja tidak bisa?” Aku menggerutu, akhirnya dengan perut yang
masih mulas, aku keluar dari kamar mandi, berusaha menenangkan Fadli, yang ternyata dia menangis karena dia pipis.
Aku mendelik pada Anwar “Dia pipis Ayah, kamu tau?? Aku bahkan belum selesai di kamar mandi, kenapa teriak-teriak??” ucapku,
mengungkapkan kekesalanku.
“Ya aku takut, dia kenapa-kenapa“ jawabnya sambil menggaruk tengkuk, yang kuyakin tidak gatal.
“Hmh“ jawabku masih kesal, karena hajatku belum terpenuhi.
“Aku janji, setelah ini aku akan belajar mengurus Fadli untuk membantumu“ usulnya sumringah, penuh semangat.
“Ya, terimakasih Ayah“ jawabku, sambil mengganti popok putraku.
Nah, dari semenjak itulah, Anwar dengan telaten, membantuku mengurus putranya, bahkan kini, dia jadi sangat berlebihan
mencurahkan kasih sayangnya untuk Fadli, bahkan hal-hal yang belum Fadli mengertipun, dia sudah membelikannya.
Aku merasa sangat terbantu dengan adanya Anwar yang mau banyak belajar, kadang di tengah malam, ketika Fadli bangun karena haus, atau pipis, seringnya Anwarlah yang bangun, dan memenuhi keinginan anaknya,
meski berulang kali aku melarangnya.
“Gak apa-apa, kita kan bikinnya juga bareng-bareng, jadi sekarang ngurusnya juga harus bareng-bareng“ ujarnya suatu ketika.
Otomatis, sebagai seorang istri aku merasa melted banget lah ya, merasa sangat bahagia, dan terharu. Memiliki suami yang pengertian
seperti Anwar.
Ah, siapa sangka Anwar yang kadang begitu
kekanakkan, sekarang begitu jago mengurus anaknya.
Bersambung............
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, like, koment positif, rate 5 dan vote sebanyak banyaknya yaaaa....author tunggu lhooo.....