
Hari berganti hari, kini kehamilan Anjani sudah memasuki bulan ketujuh, ajaibnya rasa sakit yang dulu sering terasa, kini sudah mulai berkurang, semenjak Anwar mengetahui kebenarannya.
Kini, Anwar pun jadi sangat jarang berangkat ke kantor, dia lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah, untuk menemani istrinya, dengan telaten Anwar menyiapkan segala kebutuhan istrinya, dari mulai makanan, susu, pakaian. Tak jarang juga dia berkutat di dapur untuk memasak, meski bi Lastri sudah melarangnya.
Seperti hari ini, Anwar tengah sibuk di dapur,
menata makanan di piring serta buah-buahan untuk Anjani, kini dia menjadi lebih protektif, pada istrinya, dia melarang istrinya untuk bergerak, segala kebutuhan Anjani dia antarkan ke kamar.
“Jan, ayo makan“ Anwar membawa nampan, berisi beberapa makanan, untuk sarapan Anjani.
“Aku bosan makan di kamar, tak bisakah aku ke dapur, lalu makan seperti biasanya??” tanya Anjani, berharap suaminya bisa mengizinkannya keluar kamar.
“Tidak! Tetap di kamar, dan jangan banyak perotes“ tegas anwar.
“Baiklah“ Anjani menghampiri Anwar.
“Makan apa hari ini?” tanyanya sambil duduk di kursi, dan melirik makanan yang di bawa Anwar.
“Bi Lastri masak sup ayam kesukaanmu“ jelas Anwar.
“Ayah“ sapa Anjani.
“Hmh??” jawab Anwar.
“Suap“ Anjani mengdipkan matanya.
“Kali ini, siapa yang menginginkannya??” tanya Anwar sambil tersenyum.
“Fadli“ jawab Anjani, dengan senyuman nakalnya, sambil mengelus perutnya.
Belakangan ini, Anjani lebih sering meminta sesuatu dengan alasan, bahwa anaknya lah yang menginginkannya, Anwar sudah tahu betul kelakuan manja istrinya itu.
Setelah selesai sarapan, Anjani kembali muntah-muntah di kamar mandi, perutnya terasa teramat sakit, sementara di luar tidak
ada siapapun, karena setelah menyuapi Anjani, Anwar langsung keluar kamar, untuk
mengambil buah-buahan, untuk Anjani.
“Anwaaaarrrrr ... !!!” lirihnya memanggil suaminya.
“Ahhkkk ... hiks ... hiks ... An waaa rrr!” panggilnya lagi, sambil berusaha meraih gagang pintu.
Sementara di dapur, Anwar terus sibuk menata buah-buahan ke dalam piring, karena waktu dia meninggalkan istrinya di dalam kamar, istrinya terlihat baik-baik saja. Setelah selesai menata buah, Anwar kembali bergegas masuk kedalam kamar.
Prraaannnggg!!!!
Anwar melepas nampan yang di bawanya, dengan cepat dia meraih tubuh istrinya, yang sudah tergeletak di lantai, dengan cemas dia mengangkat tubuh istrinya, kemudian menidurkannya di atas kasur.
“ Jan?? Kamu kenapa??” rasa khawatir terlihat jelas di wajah Anwar, kala melihat istrinya terus memegangi perutnya.
__ADS_1
“Ahhkk ... An war, ini sakit, sangat sakit“ jawab istrinya sambil meringis, menggigit bibir bagian bawahnya.
“Bibi!!! Bi Lastri!!” teriak Anwar kalap.
Lastri langsung berlari, menuju kamar majikannya, kepanikan menyelubungi wajahnya, kala melihat Anjani yang sedang menahan sakit.
“Ibu, apa yang terjadi?? “ tanyanya sambil
menghampiri Anjani.
“Malah nanya!! Cepet bilang pak Anto!!! Kita harus kerumah sakit sekarang!!” Anwar berteriak, memerintah.
“Baa baaik pak, maaf“ dengan gugup bi Lastri segera berlari untuk memanggil sopir.
Di susul Anwar yang menggendong Anjani,
“Kamu, siapin semua kebutuhan istri saya, cepetan!” teriak Anwar semakin kalap, pada bi Lastri, bi Lastri segera berlari ke dalam kamar, mengambil segala perlengkapan yang di butuhkan majikannya.
Di sepanjang jalan menuju rumah sakit, Anjani terus menjerit kesakitan, terlihat tangan Anjani mencengkram erat lengan Anwar. Hingga tiba di rumah sakit.
“Dokter!! Dokter tolong istri saya!“ teriak Anwar pada Dokter Puspita, yang kebetulan melintas di hadapan Anwar.
“Kenapa bu Anjani??” tanya Dokter Puspita.
“Tidak tahu, tolong selamatkan istri saya!” Anwar menjerit-jerit, seperti orang kesurupan.
melakukan operasi“ Dokter Puspita meminta persetujuan Anwar.
“A apa istriku akan ba baik-baik saja?? Bagaimana dengan anakku?? Apa dia juga akan baik-baik saja?? Tolong selamatkan mereka!!” Anwar terlihat begitu frustasi.
“Kami akan berusaha sekuat tenaga kami pak, kami akan berusaha menyelamatkan keduanya“ Dokter Puspita berlalu, untuk menyiapkan operasi dadakan untuk Anjani.
“Kalau begitu lakukan Dok, aku mohon selamatkan anak dan istriku“ dengan tangan gemetar Anwar menandatangani kertas persetujuan operasi.
“Kami akan berusaha sebaik mungkin pak“ jawab suster sambil berlalu.
Anwar duduk di kursi tunggu ruang operasi, semua keluarga sudah berkumpul, menunggu Anjani yang sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana. Semuanya terlihat begitu putus asa.
“Mamah, apa Anjani akan baik-baik saja??” Anwar menyenderkan kepalanya di bahu sang Ibu.
“Anjani, adalah perempuan yang kuat, dia akan bisa bertahan, dia akan menjadikanmu seorang ayah“ balas Mamah Anita.
“Mamahmu benar nak, Anjani akan baik-baik saja“ Ayah Anwar mengelus lembut kepala putranya.
Begitupun dengan kedua mertuanya, mereka terlihat saling menguatkan. Terutama Bu Maya, dari semenjak dia tahu, anaknya masuk meja operasi, Bu Maya tak hentinya menangis, bahkan sempat mau pingsan, untuk ada Bapak Hanjaya yang terus menguatkannya, sepasang mantan suami istri itu, menjadi begitu kompak tampak mereka sadari.
Tak lama kemudian, setelah berjam-jam menunggu, pintu ruang operasi di buka,
“Bagaimana Dok?? Bagaimana keadaan istri dan anak saya??” tanya Anwar pada Dokter Puspita, yang baru saja keluar dari ruangan
__ADS_1
operasi.
“Operasinya berjalan lancar pak, putra bapak lahir dengan selamat, untuk sementara kami akan menempatkannya di dalam inkubator, di
ruang NICU“ jelas Dokter.
“Anjani?? Bagaimana dengan istriku??” cecar Anwar.
“Ibu Anjani masih belum sadarkan diri pak, kondisinya kritis, dia kehilangan banyak darah, saya harap keluarga bisa bantu
dengan do’a, kita tunggu hingga bu Anjani sadar ya pak“ jelas Dokter Puspita, sambil berlalu.
Anwar mengusap wajahnya kasar, rasa bahagia yang sempat menghuni hati, saat mendengar anak mereka sehat, berubah redup ketika mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi istrinya.
Anwar masuk kedalam ruangan, dimana Anjani terbaring lemah, langit seolah runtuh saat melihat kondisi Anjani di dalam sana.
“Anjani??” panggil Anwar setelah melihat Anjani mengerjap.
“Anwar?” sahut Anjani lemah “Bagaimana anakku?? Dia baik-baik saja kan???”.
Anwar mengangguk, “Fadli kita sangat sehat, dia ganteng seperti aku“ jelas Anwar, sambil menyeka air mata dari juru matanya.
“Terimakasih sudah bertahan, terimakasih sudah menjadikan aku seorang Ayah“ Anwar mengecup kening Anjani.
Bulir bening, mengalir dari sudut mata Anjani,
pertanda bahagia, yang tak bisa dia ungkapkan, Anwar menyekanya dengan lembut, lalu mencium kedua kelopak mata Anjani.
Tiba-tiba Anjani merasa sesak, membuat Anwar panik seketika.
“Suster!!! Dokter!!” teriak Anwar.
Detik kemudian, para perawat dan Dokter masuk kedalam ruangan, Anwar mundur beberapa langkah, dadanya terasa sesak saat
melihat Dokter menggesek dua alat, kemudian menempelkannya di dada Anjani
berulang-ulang.
“Dia kembali!!!” seru salah seorang perawat.
Anwar berjongkok, mengelus dada, setidaknya ucapan perawat itu, meluruhkan sedikit rasa khawatirnya.
Bersambung.................
Huh hah huh hah huh hah....author ngos ngosan ngetik part ini, tegang banget, hheee....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers
sayang....berikan author, like,koment positif, rate 5 dan vote sebanyak banyaknya yeesss......
__ADS_1