KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Randi Lagi


__ADS_3

“Jan, nanti malam kamu siap-siap ya“ pinta Anwar di suatu pagi, saat kami tengah menikmati sarapan.


“Emh, mau kemana emangnya??” tanyaku, memandang lekat wajah suamiku.


“Nanti malam resepsi nikahannya Andi, kita sekeluarga di undang“ jelasnya.


“O ya??? Andi nikah? “ dengan wajah berbinar aku menatap suamiku, Andi itu selain dia adalah sekretaris suamiku, dia juga sudah seperti keluarga bagiku, dia sangat baik, banyak membantu kami, tidak hanya ketika di dalam pekerjaan, tapi juga ketika di luar pekerjaan.


“Iya, akhirnya nikah juga dia, hhee“ Anwar terkekeh.


“Kamu tuh, gitu terus, Andi tiap hari kamu becandain“ Aku ikut tersenyum.


“Ya habisnya gimana dong? Tiap hari dia nanya gimana rasanya nikah?? Ya kan aku jadi bingung jawabnya“ Anwar mengedikkan bahunya.


“Kok bingung??”


“ Iya, saking enaknya nikah, sampe aku bingung cara mendeskripsikannya bagaimana??” Anwar terkekeh.


Ah ... rumah tanggaku ini, jatuh bangun aku dan Anwar membinanya, banyak hal yang sudah terjadi, banyak hal yang sudah kami lewati, hingga kami menjadi semakin kuat, semakin kebal akan segala ujian yang akan kami lewati kedepannya.


Aku ikut tersenyum “Kalau gitu, aku harus siap-siap buat beli baju baru nih“ Aku menaik turunkan alisku, memberi kode, agar Anwar mau memberiku uang lebih buat shopping, he.


“Iya, boleh, kamu beli aja semua keperluan kamu, kenapa mesti ngasih kode kayak gitu sih?? Uang aja kamu yang pegang kok“ Anwar mengunyah roti berselai sari kaya, lalu menyeruput koffeenya.


“He ... ya iya sih, tapi kan tetep aja harus izin dulu“ jawabku.


“Iya, nanti siang, kalian pergi aja jalan-jalan, tapi jangan sampai putraku kelelahan lho ya“ Anwar memperingatkan, aku kalau udah di ingetin kayak gitu, suka sebel sendiri rasanya, Fadli itu putraku, jadi mana mungkin aku membuatnya menderita.


“Aku Ibunya, aku lebih tahu mana yang terbaik untuk putraku“ jawabku sinis.


“Jangan sinis gituh, aku Ayahnya jelas aku lebih khawatir dari kamu“ jawabnya mendelik, tak terima aku berbicara seperti itu.


“Huh!” Aku memalingkan wajahku.


“Udah, jangan ngambek, kan mau pada shopping“ Anwar menoel daguku.


“Jangan ganjen!” Aku mendelik.


“ Iya lah iya, hhee“ Anwar kembali melanjutkan aktifitas sarapannya, kemudian dia bersiap berangkat ke kantor. Setelah drama pamitan dan menciumi putranya, Anwar berangkat kerja.

__ADS_1


“Sayang, kita siap-siap berangkat ke mall yaaa, kita shopping“ Aku berbicara kepada putraku, dan dia malah terkekeh menggemaskan.


Ah ... putraku memang seperti itu, dia bayi yang lucu, imut, dan menggemaskan, dia jarang menangis, gak pernah rewel, dia selalu tertawa di setiap waktunya. Bahkan lucunya, ketika tertidurpun dia masih sempat senyum-senyum.


Aku segera memandikan putraku, lalu mendandaninya, lucu sekali.


“Bi! Bi Lastri!!“ Aku memanggil Bi Lastri yang berada di ruang tengah, tapi dia tak kunjung menyahut.


“Iya bu,“ tak lama Tiwi nongol di pintu kamarku.


“Loh? Kamu gak kerja Wi?” tanyaku bingung.


“Gak bu“ jawabnya menggeleng “Aku lagi izin aja bu“


“Kamu sakit??” tanyaku.


“Gak bu, hanya ingin istirahat saja, Ibu kenapa memanggil Ibu saya??” tanyanya.


“Ah, gak, saya dan Fadli mau jalan-jalan keluar, Bi Lastri ikut ya“ pintaku.


“Kayaknya Ibu saya gak bisa deh bu, gimana kalau Ibu perginya sama saya aja?” tawar Lastri.


“Oh gituh?? Tapi kamu yakin bisa bantu saya megangin Fadli?“ tanyaku, ragu.


“Ya udah kalau kamu bisa, kamu boleh ikut, yuk kita berangkat“ ajakku.


Aku bersiap, dengan tas yang di penuhi keperluan Fadli, susu formula, baju ganti, mainan Fadli, pampers dkk. Yah ... begitulah kalau emak-emak mau bepergian, pasti bawaannya rempong.


“Iya bu“ Tiwi membantu membawakan tas besar yang akan ku bawa,lalu memasukkannya ke dalam mobil.


“Pak Anto, kita ke mall yaa“ titahku pada Pak Anto.


“Baik bu“ Pak Anto mengangguk, lalu melajukan mobilnya.


Aku dan Fadli duduk di kursi tengah, sementara Tiwi duduk di depan, tidak ada yang menyuruh, hanya saja itu keinginan Tiwi sendiri.


Aku tersenyum, ada banyak hal yang ingin ku koreksi dari Tiwi, tapi aku belum bisa mengatakannya sekarang. Saat ini, biarlah saja dulu.


Tiba di mall, aku turun dari mobil dengan menggendong Fadli, menurunkan stroller bayi, menaikkan Fadli di dalamnya, kemudian mendorongnya, dengan di ikuti Tiwi, dari sampingku.

__ADS_1


“Waaahhh ... Bu lihat deh, itu baju-baju brandednya lagi discount lho“ Tiwi menunjuk gantungan baju yang memang tertera angka discount.


Aku menggeleng, dari dulu aku tidak terlalu suka menghamburkan uang, untuk sesuatu yang tidak terlalu ku butuhkan.


“Tiwi mau banget baju itu, tapi belum gajian“ sahutnya sambil menunduk.


“Tiwi Mau??” tanyaku menatapnya.


“Iya, tapi entar ajalah kalau habis gajian“ Dia menggeleng.


“Ambil aja kalau Tiwi mau“ Aku menawarkan, kasihan juga Tiwi, anak remaja seusia Tiwi, pasti sedang memiliki banyak keinginan untuk hal-hal seperti itu.


“Hah?? Serius bu??” tanyanya meyakinkan diri, dengan wajah berbinar.


“Iya, Tiwi ambil ya, pilih-pilih aja, aku mau pilihin baju buat Fadli“ Aku menepuk bahu gadis seksi ini, dan berlalu sambil mendorong stroler yang di huni Fadli. Sementara Tiwi, dengan girangnya dia langsung menyerbu pakaian yang dia inginkan.


“Sayang, anak Ibu, Fadli mau baju yang mana??” tanyaku pada Fadli, sambil mengacungkan beberapa baju padanya.


“Hhheeooo ... “ Fadli menunjukkan baju bergambar spiderman.


“hah?? Anak Ibu suka spiderman??” tanyaku sambil menoel hidungnya.


Seolah mengerti Fadli tertawa, “Boleh, kita ambil yang ini ya” Aku mengambil beberapa baju untuk Fadli, dan memasukkannya ke dalam troly.


“Oh, iya Tante Tiwi kemana ya?? Kok lama ya?” Aku celingukan mencari Tiwi, tadi aku minta Tiwi nganter aku, supaya ada yang bisa jagain Fadli, ketika aku mencoba baju, ini Tiwi malah hilang entah kemana?? Dan aku malah kerepotan sendiri.


Berkali-kali aku mendesah, karena kebingungan, sementara aku mau nyobain baju yang aku suka, tapi aku tidak bisa membawa Fadli ke dalam kamar pass.


“Mau aku bantu Jan??” tiba-tiba suara seorang pria mengagetkanku.


“Loh ?? Randi?? Di sini juga??” Aku terbelalak kaget, karena melihat Randi sedang tersenyum padaku.


“Iya, kebetulan aja, lagi ada yang dicari, kamu kayaknya kerepotan ya?? Mau di bantu gak??” tawarnya.


“Ah, gak usah Ran, gak apa-apa, aku tadi kesini sama temen, tapi dia gak ada, hilang gak tau kemana??” jelasku.


“Gak apa-apa, kamu mau nyobain baju kan??” Randi menoleh pada lenganku, yang sedang memegang beberapa baju.


“Ah, beneran gak usah Ran, nanti aja“ jawabku, aku?? Jelas tak ingin ada kesalah fahaman apapun, di antara aku dan Randi, niat randi memang baik mau membantuku, hanya saja aku takut, jika ada oknum yang menjadikan moment ini menjadi di salah artikan.

__ADS_1


Bersambung.................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya gengs....


__ADS_2