
“Saya sungguh tidak mengerti pak, maksud bapak apa??” tanya bu Maya lagi.
“Jadi begini bu, beberapa bulan yang lalu, suami Ibu, mengambil mobil dari showroom kami, tapi berhubung dia belum mengangsur kreditannya dalam tiga bulan terakhir ini, terpaksa kami harus mengambil kembali mobil itu“ jelasnya lagi.
“Ta tapi, suami saya sudah pergi dari sini, sudah sekitar satu minggu yang lalu“ jelas bu Maya sambil gemetaran.
“Ah, itu bukan urusan kami bu, yang penting Ibu ini istrinya kan?? Jadi Ibu juga berkewajiban membayar hutang suami Ibu“ tegas si pria plontos.
“Ta tapi pak, saya sungguh tidak tau apa-apa“ Bu Maya makin terbata.
“Ada apa bu??” tiba-tiba Anjani muncul, dengan membawa dua gelas minuman.
“Jan, tolong Ibu nak, ini ada dua orang datang, katanya mau nagih hutang cicilan mobil, milik Pras“ jelas bu Maya sambil mencengkram tangan putrinya.
“Loh?? Kan yang punya hutang Ayah sambung saya, kenapa bapak-bapak nagihnya sama Ibu saya??” Anjani mencoba membela Ibunya.
“Kan bu Maya sekarang statusnya istri sah pak Pras, jadi Bu Maya juga memiliki kewajiban untuk membayar hutang-hutangnya pak pras“ pria berambut panjang kini menimpali.
“Tapi pak, kami sama sekali tidak tau apa-apa“ Anjani terus menjelaskan.
“Saya tidak mau tahu bu, jika Ibu tidak mau membayar, maka saya akan melimpahkan kasus ini kepada pihak yang berwajib!!“ gertak si pria plontos.
“Baiklah, memang hutang pak Pras berapa??” tanya Anjani mencoba mengalah.
“Kurang lebih tinggal delapan puluh juta lagi“ jawab si pria rambut panjang.
“Apaaa???!!!” Bu Maya berteriak sambil menutup mulutnya, tidak percaya jika pria yang dinikahinya, ternyata pria culas.
“Baiklah, akan saya lunasi hutang Bapak sambung saya“ jawab Anjani kemudian mengambil ponselnya.
“Baik, silahkan sebutkan nomor rekening bapak, nanti akan saya transfer“ Anjani menyodorkan ponselnya kepada kedua pria itu untuk mengetikkan nomor rekening banknya.
Kemudian si pria plontos mengetikkan nomor rekening bank, dan kembali menyodorkan ponsel Anjani, Anjani menerimanya, kemudian mengetikkan nominal hutang Bapak sambungnya, setelah transaksi beres, Anjani memperlihatkan buktinya kepada kedua orang tersebut, tak lama kemudian mereka pergi meninggalkan Anjani dan Bu Maya yang sudah menangis terisak.
“Nak, maafin Ibu, jadi ngerepotin kamu“ Bu Maya memeluk putrinya dengan penuh penyesalan.
“Iya bu, tidak apa-apa, mungkin bukan rezeky kita“ jawab Anjani santai, baginya kini uang tersebut bukan lagi masalah, selama keluarganya bisa hidup bahagia, dan terlindungi, maka diapun akan sangat bahagia.
“Jan, kita harus menemukan Pras, apapun yang terjadi, dia harus mempertanggung jawabkan semua dosa-dosanya“ tegas Bu Maya.
“ Iya bu, tapi Ibu mau nyari Bapak kemana?” tanya Anjani kebingungan.
“Kemana saja, yang penting, kita harus mencarinya hingga di temukan“ ujar bu Maya penuh semangat.
__ADS_1
“Baiklah Ibu, gimana Ibu saja“ Anjani menyerah, kemudian kembali masuk kedalam rumah, kemudian masuk kedalam kamarnya, membaringkan tubuhnya yang lelah, setelah seharian mencari Rahmat, dan tadi dikejutkan oleh kedatangan kedua tamu yang sangat mengejutkan.
Seketika kembali terbayang bisikan orang-orang, yang mengatakan bahwa pak Pras bukan orang baik, bahwa pak Pras menikahi Kbunya hanya karena hartanya, “Sungguh seperti itukah?? Jadi kini harta yang aku milikipun tengah mengujiku?” lirih Anjani bergumam.
Drrrtt ... Drrrttt ... Drrrttt ...
Notifikasi pesan masu, Anjani meraih ponselnya, kemudian membuka pesannya, terlihat Anwar yang mengirimkan pesan
[*Jan, kamu dimana??]
[Aku masih di rumah Ibu]
[aku jemput kamu ya, sekarang, ini udah sore, kamu mau pulangkan*?]
Anjani menarik napasnya, satu sisi dia memiliki kewajiban pada suaminya, tapi disisi lain dia tidak bisa meninggalkan Ibunya yang tengah dirundung pilu.
[*An, disini sedang ada sedikit masalah, boleh aku menginap dirumah ibu??]
[masalah apa Jan?? Seriuskah??]
[sangat An,]
[Ya sudah, akupun akan menginap disana, kamu tunggu aku aja ya*]
[Iya, sayang, sampai ketemu dirumah]
[iya*, ]
Anjani mengahiri pesannya dengan Anwar, kemudian dia bergegas ke dapur, untuk mulai memasak, dan menyiapkan suaminya makan malam. Tak lama berselang, terdengar suara mobil Anwar terparkir didepan rumah.
“Assalamu’alaikum Jan,“ sapa Anwar sambil celingukan di depan pintu.
“Masuk aja An, aku didapur!!“ teriak Anjani.
“Iya sayang, kamu lagi apa?” Anwar menghampiri istrinya yang tengah mengaduk masakan di depan kompor.
“Aku lagi masak,“ jawab Anjani lemah.
“Sayang, kamu lagi ada masalah apa??” tanya Anwar sambil menatap istrinya lekat.
“Ibu, lagi ada masalah,“ ragu Anjani mengatakannya.
“Masalah apa?” tanya Anwar yang kian penasaran.
__ADS_1
Kemudian Anjani menceritakan semua kejadiannya dari awal, termasuk dia meminta maaf karena sudah meberikan uang senilai delapan puluh juta rupiah tampa komfirmasi terlebih dahulu, karena sangat urgent.
“Iya gak apa-apa sayang, anggap aja sedekah dari kita buat pak Pras“ Anwar menenangkan Anjani.
“Bukan masalah uangnya An, tapi aku berharap jika dia bisa jujur pada kita semua, jangan begini caranya, ini namanya penipuan“ Anjani terlihat semakin kesal.
“Udah, jangan di permasalahin lagi ya, gak apa-apa” Anwar memeluk istrinya, menenangkan hati sang istri yang sedang berkecamuk tak menentu.
“Ya udah, kita makan dulu yuk“ Anwar menggeser kursi, yang rapat pada meja makan.
“Iya An, aku panggilin Ibu sebentar ya“ Anjani beranjak dari dapur menuju kamar Ibunya.
“Astagfirullah iIuuuuu!!!!” terdengar teriakan Anjani yang menggema dari kamar sang Ibu, Anwar yang mendengarnya seketika bangkit lalu berdiri, berlari menuju kamar sang mertua, dilihatnya sang istri tengah memeluk Ibunya yang tergeletak dilantai.
“Ibu kenapa Jan??” tanya Anwar histeris.
“Gak tau, mungkin ibu pingsan!!“ seru Anjani.
“Ya udah kita angkat dulu kekasur ya, sebentar aku telepon dulu Dokter“ Anwar mengangkat tubuh Ibu mertuanya ke atas kasur, kemudian membaringkannya perlahan, Anjani dengan berurai air mata terus menyerukan nama Ibunya, tubuhnya sudah bergetar sedari tadi.
“Ibu, Ibu sadar, Ibu kenapa??” tak hentinya Anjani terisak.
“Jan udah dong, jangan panik, Dokter sebentar lagi kesini“ Anwar menenangkan istrinya.
“A Aku takut An, sangat takut“ jawab Anjani sambil memeluk suaminya.
“Iya aku tau, kamu yang sabar ya“ Anwar membelai kepala istrinya dengan lembut, mencoba menenangkannya.
Tak lama Dokter datang, kemudian langsung memeriksa bu Maya, setelah selesai dokter keluar kamar dan berbicara dengan Anjani yang di temani oleh anwar.
“Bagaimana keadaan Ibu saya Dok??” tanya Anjani.
“Ibu Anda tidak apa-apa, hanya saja mungkin akhir-akhir ini beliau kurang istirahat, dan terlalu kecapean, juga mengalami setress yang berlebihan, sehingga menyebabkan darah tingginya kumat“ jelas Dokter.
“Tapi Ibu saya akan segera sembuhkan Dok??” Anjani masih gemetar.
“Tidak apa-apa, setelah makan dan istirahat teratur, Ibu Anda akan baik-baik saja, jangan lupa minum obatnya ya“ Dokter memberika resep kepada Anjani.
“Baik Dok, terimakasih banyak Dok,“ jawab Anjani dan Anwar bersamaan.
Kemudian Dokter pergi meninggalkan rumah Anjani dengan di antar oleh Anwar hingga depan pagar.
Bersambung..................
__ADS_1
Hay readers, ayo dong tinggalkan jejaknya yaaa...