
Naif!!! Jutaan kali aku merutuki diriku sendiri.
Yah ... kadang aku bisa jadi senaif itu, kadang aku terkesan jadi manusia bodoh.
Berkali-kali aku di khianati, tapi aku tidak pernah mau belajar dari sebuah pengalaman yang amat berharga itu.
Jiwa tidak enakan, mudah luluh, hati yang rapuh, selalu jadi ujian besar bagi hidupku. Niatku sangat baik, aku ingin membantu
mereka yang membutuhkan pertolonganku, aku bisa melakukannya, aku akan merasa
berdosa jika aku tidak melakukan pertolongan bagi mereka.
Salahkan aku???.
Aku hanya ingin berbuat kebaikan, tapi lagi-lagi, kebaikan itu menjadi ujian bagi hidupku sendiri, bagaikan senjata makan tuan. Kebaikan yang kulakukan ternyata bisa menghancurkan diriku sendiri.
Ribuan kali aku berfikir keras, jika saudari kandungku satu-satunya saja bisa menghianati ketulusanku, bagaimana dengan orang lain??? Mereka juga ternyata bisa melakukan hal yang lebih mengerikan.
Penghianatan dari pasangan, yah ... harusnya aku banyak belajar dari itu, harusnya aku tidak mudah percaya pada siapapun juga. Kecuali Allah tentunya.
Kini, meskipun aku menangis darah sekalipun semuanya tak akan pernah kembali seperti semula, seketika aku mengingat perkataan ibu waktu di danau “Hati yang hancur itu, seperti cermin yang pecah, mungkin saja
bisa di perbaiki dengan susah payah, tapi tidak akan kembali pada bentuk semula.”
__ADS_1
Entah apa yang harus ku lakukan sekarang.
“Jan, bisa bicara sebentar?” Anwar mendekatiku, lalu duduk di sampingku.
Aku menarik napas pelan, mencoba menahan rasa berat di dada, apapun kondisinya aku harus bisa bijak, waktu itu aku sudah melihat
kejadian mengerikan itu dengan mata kepalaku sendiri, sekarang kepalaku sudah
mulai mendingin, aku juga harus mendengarkan penjelasan dari Anwar. Akan sangat tidak bijak jika aku memutuskan sesuatu hanya berdasarkan satu fakta saja.
“Hmht, katakan An“ Aku menggeser dudukku.
“Jan, apa kita harus tetap seperti ini??” Anwar menggenggam tanganku.
“Apa kamu sungguh tidak bisa mempercayaiku?? Apa semua hal yang telah kulakukan selama ini tidak bisa membuatmu berfikir secara rasional??”.
“Jan, aku sudah mencurahkan seluruh hidupku untukmu, apa hanya karena satu hal yang kamu belum tau kejelasannya, kamu akan memperlakukan aku seperti ini??? Ini tidak adil untukku Jan“ mata Anwar
berkaca-kaca, tangannya bergetar mencengkram ujung seprai.
“Jelaskan apa yang menurutmu pantas untuk di jelaskan mengenai kejadian kemarin An“ Aku mulai merasa sesak kembali, dadaku
terus bergemuruh.
__ADS_1
“Jan, aku di jebak, aku tidak tahu apa-apa,
sebelumnya ketika aku di kantor, bertepatan dengan kamu pergi ke mall, aku mendapatkan pesan dari Tiwi, dia bilang kamu tengah berada di mall dengan seorang pria, bahkan kalian sangat dekat. Kamu tahu Jan?? Aku sangat mencintaimu, aku sangat takut kehilanganmu, dan itulah sebabnya, kenapa aku pergi ke mall, dan menjemput kalian“ Anwar terdiam, menghirup napas panjang,
lalu mengeluarkannya kasar.
“Kamu tahu Jan, ketika kamu memaksaku untuk mengajak Tiwi berangkat kerja, Tiwi sudah menggodaku berlebihan, bukan hanya itu, dia juga melempar ponselku keluar mobil, aku marah dan menurunkannya di jalanan.
Dan aku memutuskan untuk kembali pulang karena kesal“ Anwar terdiam lagi.
“Setelah aku tiba di rumah, ternyata kalian sudah pergi ke rumah Ibu, aku bingung Jan, aku hanya terduduk, diam di kasur ini“
Anwar menepuk kasur yang tengah aku duduki.
“Aku bingung, bagaimana caraku menyampaikan semuanya padamu, sementara kamu terlalu baik Jan, kamu tidak akan mempercayai ucapanku“ Anwar melanjutkan kata-katanya, dan aku hanya diam menyimak.
Bersambung ....................
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers .....
Sebagian readers di sini ada yang kecewa dengan jalannya cerita ini ???
Ah, maafkan author yaaa ...
__ADS_1
Sebetulnya cerita awal kisah ini, tidak seperti ini, tapi karena suatu alasan yang sangat mendesak, akhirnya author terpaksa harus
memperpanjang jalan ceritanya.