
Pagi ini, aku sedang berkutat di dapur, mencoba kembali memasak makanan kesukaan Anwar, rasanya semenjak ada Bi Lastri dan aku memiliki Fadli, aku jadi sangat jarang memasak untuk suamiku, padahal dulu, aku tidak pernah melewatkan masa-masa ini.
Untungnya suamiku sangat pengertian, dia tidak pernah menuntutku untuk ini itu, dia selalu mengerti aku, bahkan tak jarang dia membantuku dalam menunaikan tugas-tugasku sebagai ibu rumah tangga, yah ... meskipun aku tau, pekerjaan suamiku lebih sulit dari pekerjaanku.
Tapi kali ini, aku kembali akan berburu pahala, seperti di kutip dari HR. Annas bin Malik, “Makanan yang di sediakan oleh istri kepada suaminya, adalah lebih baik dari istri itu mengerjakan haji dan umrah“ Wallahu a’lam bisshowab.
Selesai menata menu masakan, kemudian aku bersiap mandi. Mencoba memoles diri, untuk lebih menyenangkan hatinya, kulihat Anwar masih terlelap, di samping box tidur putranya.
“Gu gu gu gu, hoe hoe“ Aku menoleh pada suara yang tak asing di telingaku, aku menghampiri box bayi, dan kulihat putraku sedang berusaha untuk bisa berdiri.
“Hah?? Fadli mau berdiri nak??” Aku antusias sambil terus memperhatikannya.
“Fadli mau berdiri??” Anwar tiba-tiba bangun.
“Hhuuuaaaa ... “ Fadli menangis, setelah beberapa kali mencoba untuk bisa berdiri, ternyata dia tidak bisa.
“Duuhh ... anak Ibu, gak apa-apa, nanti juga bisa berlari, cup cup cup, jangan nangisa ya nak“ Aku menggendong Fadli, sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan.
“Ibu, dari mana tadi?” tanya Anwar.
“Abis masak, Ayah mandi ya, kita sarapan“ Aku berlalu sambil menggendong putraku keluar kamar, setelah melihat suamiku mengangguk dan beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Di dapur, aku menyimpan Fadli di karpet bulu-bulu, berbahan lembut yang sengaja aku pasang, agar Fadli mudah merangkak.
“Kamu duduk di sini yaa, Ibu mau bikinin Ayah koffee dulu“ Aku menoel hidung Fadli dengan gemasnya.
“Ba gu gu“ Dia berceloteh sambil tersenyum, seolah mengizinkan aku untuk menyedu koffee kesukaan Ayahnya.
“Anak pintar“ Aku mengusap kepalanya, sambil berdiri, mendekati kompor, dengan pandangan tak lepas dari Fadli.
“Ibu, mau saya bantu??” tiba-tiba Tiwi datang dari arah kamarnya.
“Gak usah Tiwi“ Aku tersenyum sambil menggeleng.
Rok kerja selutut, kemeja pendek, lipstik merah cabe, bedak setebal satu senti, dan bulu mata anti badai, aku tersenyum melihat penampilan Tiwi.
“Tiwi hari ini, hari pertama kerja??” tanyaku.
“Iya bu“ Tiwi tersenyum bangga.
__ADS_1
“Ya udah, semoga lancar ya“ Aku tersenyum, sambil menerawang, ingat saat awal-awal aku bekerja dulu, kumal, lusuh, sederhana, karena tujuanku bekerja adalah untuk menunjang hidup keluargaku, mungkin saat aku bertemu Anwar dulu pun, begitulah penampilanku, miris dan mengenaskan. Tapi, sungguh priaku bisa menerimaku apa adanya.
“Hay anak Ayah, kok di bawah sih? Sini duduk di atas sama Ayah“ Anwar menggendong Fadli, dan mendudukkannya di stroler bayi.
Fadli, tersenyum lalu terkekeh menggemaskan, “Ini sayang, main ini“ Anwar menyodorkan mainan bulat, yang akan berbunyi jika di sentuh, Fadli semakin riang, dan langsung asyik dengan mainannya.
“Bu, buatin makanan buat Fadli yah, Ayah mau nyuapin Fadli dulu“ pinta Anwar.
“Iya, nih Ayah minum dulu koffeenya“ Aku menyodorkan gelas berisi koffee hitam pavorite Anwar.
Anwar meraihnya, lalu meniup niupnya “Kamu ngapain berdiri di sana??” tanya Anwar tiba-tiba, yang baru menyadari Tiwi sedari tadi berdiri tak jauh dari tempatku, sedang memperhatikan aktifitas kami.
“E enggak pak“ jawabnya.
“Tiwi, sarapan dulu yuk, bareng aja sama kita, Bi Lastri mana??” ajakku, kasian juga Tiwi, hari pertama kerja mungkin dia belum memiliki banyak uang untuk membeli sarapan di luar.
“Ibu, lagi jemurin pakaian bu“ jawabnya, tanpa basa-basi dia langsung duduk di samping kiri Anwar.
Aku mengernyitkan dahi, sementara di samping kanan Anwar sudah ada Fadli, ku lihat Anwar memalingkan wajahnya.
“Kamu tau gak?? Itu tempat istri saya, kamu bisa duduk di sana“ Anwar menunjuk kursi berjarak dua kursi dari tempat Anwar.
“Ah, iya maaf pak“ Tiwi menunduk kemudian berpindah posisi duduk.
“Gak bisa, dia harus tau posisinya“ Anwar menghardik.
“Maaf pak“ Tiwi semakin menunduk.
“An, jangan terlalu kasar, mungkin Tiwi benar-benar tidak tahu“ Aku mencoba melerai mereka.
Anwar memalingkan wajahnya, Tiwi terdiam, kegiatan sarapan ini menjadi sangat canggung, suasana hening seketika.
“Ya udah sarapan yuk“ Aku mengambil piring, kemudian mengisinya dengan nasi, berikut lauknya, kemudian menyodorkannya pada Anwar, Anwar masih cemberut.
“Pagi-pagi harus happy, jangan pada ngambek, Tiwi maafin suami saya ya, Ayahnya Fadli memang suka berlebihan“ Aku mencoba menjelaskan pada Tiwi.
“Gak apa-apa bu, saya yang salah, maaf“ Tiwi menunduk, kemudian berdiri “Kalau gitu saya duluan ya bu“ Tiwi pamit.
“Loh?? Kamu kan belum sarapan??” tanyaku merasa tak enak hati, sementara Anwar masih tetap mengunyah dengan santaynya.
__ADS_1
“Gak apa-apa bu, saya sudah telat“ tanpa mendengar jawabanku lagi, Tiwi pergi.
“Ayah, kenapa sih terlalu berlebihan gituh?” Aku menatap Anwar.
“Dia harus di kasih tahu bu, kalau tidak, bakalan jadi kebiasaan, lama-lama dia bakalan ngelunjak sama kita“ jelas Anwar.
Yah ... aku mengerti segala ke khawatiran Anwar, tapi maksudku, Anwar tidak perlulah, sampai sebegitunya, sampai tega membentak Tiwi. Aku gak tega lihatnya.
“Ya udah, kamu makan ya“ tak ingin berdebat lagi, aku memilih untuk diam.
“Sayang, Fadli juga mau mam ya“ Aku mengusap kepala putraku, dia tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang baru mau tumbuh.
“Ibu suapin yaaa“ Aku meraih mangkuk makanan Fadli yang tadi aku buat.
“Jangan!!!” teriakan Anwar mengagetkan aku.
“Apa lagi sih?” Aku mendelik.
“Sini, biar Fadli Ayah yang suapin“ Anwar meraih mangkuk makanan Fadli dari tanganku.
“Sini sayang, Fadli Ayah yang suapin yaa“ Anwar bicara pada putranya, dan kalian tahu?? Fadli tertawa, seperti bahagia, bisa di suapi Ayahnya.
Yah, begitulah mereka, selalu kompak.
“Kalian selalu aja gituh“ Aku melipat kedua tangan, menyembunyikan senyuman bahagiaku.
“Sini, Ibu juga Ayah suapin “Anwar mengambil sendok dari piringnya, kemudian menyuapkannya padaku
Aku menatapnya dalam, “Aku bukan Fadli“ gerutuku.
“Yah, tapi kamu Ibunya Fadli, ayo makan aaaa“ Anwar berusaha memasukkan makanan dari sendok kemulutku.
“Aaaammm ...” bersamaan dengan Fadli, aku memakan suapan Anwar.
“Amm, nyam nyam nyam“ Fadli mengunyah makanannya dengan gigi ompongnya.
“Hhiii“ Kami tertawa bersama melihat tingkah menggemaskan putraku.
Kau tahu?? Hidupku kini terasa amat sempurna.
__ADS_1
Bersambung................
Hay readers,jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....like, koment positif, bintang lima, dan votenya juga yaaa....jangan lupa lhooo....