KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Di Pecat !


__ADS_3

Ddrrtt ... drtttttt ... drrttt ...


Suara ponselku berdering, menandakan ada notifikasi pesan masuk, ku raih ponselku yang tergeletak di kepala box tempat Fadli tidur.


Ku buka pesan yang baru masuk itu.


“Hay jan, apa kabar?“ chat dari Randi


Dahiku mengkerut, kenapa Randi mengirimiku pesan, aku bingung, entah apa yang harus kulakukan, membalasnya atau mengabaikannya?.


“Baik“ akhirnya pesan itu yang terkirim.


“*Apa kabar Fadli??”


“Baik“


“Kamu baik baik saja kan Jan?”


‘aku tidak baik baik saja Randi‘


“Iya, baik*“ pesan balasanku kembali terkirim.


“Alhamdulillah kalau begitu, bisa kita bertemu??”


‘aku ingin bertemu seseorang, aku ingin mencurahkan keluh kesahku, tapi aku tidak ingin berbicara dengan Anwar, aku tidak ingin meminta izin darinya‘


“Tidak, aku sibuk“ pesan balasanku terkirim, centang dua dengan warna biru, pertanda Randi sudah membacanya.


Terlihat Randi sedang mengetik pesan,


“Sibuk apa?? Hanya sepuluh menit, bagaimana??”


‘*aku ingin bertemu denganmu‘


“Tidak, Anwar sedang tidak ada di rumah*“


“Baiklah, mungkin lain kali kita bisa bertemu“ Balasan dari Randi.


Aku tidak membalas pesannya lagi, tak ingin semuanya menjadi berkepanjangan.


Aku menghela napas panjang kemudian berdiri, aku berjalan menuju keluar dari kamar Fadli, ku langkahkan kakiku menuju dapur, berniat mengambil air untukku minum.


Ketika melewati ruang tengah aku melewati Anwar yang tengah terdiam, dia menatapku, dua hari berlalu, tapi aku masih mendiamkannya. Aku tidak ingin bicara sama sekali, hatiku teramat sakit. Aku bisa memaafkan kesalahannya, ketika dia melakukan kesalahan dulu, ketika dia menggapai ambisinya dengan cara yang sangat menyakitiku, tapi kali ini?? Dia mengkhianatiku. Tepat di depan mataku. Aku tidak ingin memaafkannya.


Ku tuangkan minuman dingin kedalam gelas, lalu aku meminumnya, berharap minuman dingin ini bisa mendinginkan kepalaku.


“Jan, apa kamu masih ingin mendiamkan aku??” Anwar muncul, lalu duduk di kursi di sampingku.


“Apa kamu tidak lelah terus mendiamkan aku?” Kembali Anwar bertanya, tapi aku hanya terdiam.


Di saat bersamaan, Bi Lastri lewat di antara kami.


“Bi Lastri, bisa bicara sebentar??” panggilku.

__ADS_1


“I iya bu“ Bi Lastri gugup, sadar akan kesalahan yang dilakukan putrinya.


“Duduk sini“ Aku menggeser kursi, lalu mempersilahkannya duduk, Bi Lastri menurut, dia duduk di sampingku.


Anwar diam menyimak, mungkin dia tengah menanti, apa yang akan ku lakukan selanjutnya.


“Bi maafkan semua kesalahanku“ Aku tertunduk, air mata sudah tak terbendung lagi, aku kembali menangis.


“Ma maksud ibu apa?” Bi Lastri tambah gugup.


“Aku terpaksa harus melakukan ini, aku tau aku egois ... “ suaraku tercekat, tak tega jika harus mengatakan apa maksudku.


“Apapun keputusan yang akan Ibu ambil, saya akan setuju, saya sadar, saya yang salah, putri saya yang salah“ Bi Lastri tertunduk, kemudian terisak.


“Tidak, bibi tidak salah, bibi sudah terlalu banyak membantuku selama ini“ Akupun terisak keras.


“Jan ... “ suara Anwar terdengar, tapi aku tidak menggubrisnya.


“Bibi akan keluar dari rumah ini“ lanjut Bi Lastri.


“Aku tidak ingin menghambat rezeky Bibi, aku sayang sama Bibi“


“Tidak bu, Ibu sudah melakukan hal yang benar, bibi akan secepatnya pergi dari rumah ini"


“Bibi tidak salah, Tiwi yang salah, tapi Bibi harus kena imbas akibat perbuatan anak Bibi“


“Begitulah seorang Ibu, harus rela mengorbankan apapun untuk anaknya, termasuk jika harus menebus kesalahan anaknya sekalipun“ Bi Lastri memelukku erat.


“Tentu, ibu Anjani, adalah Ibu yang baik bagi Aden kecil“


“Bi ini uang buat Bibi, siapa tahu, bisa di jadikan bekal buat Bibi nanti, kalau sudah tidak bekerja lagi disini“ Aku menyodorkan uang senilai sepuluh juta rupiah, yang sudah ku kemas dalam sebuah amplop cokelat.


“Tidak perlu bu, Ibu sudah terlalu baik pada saya selama ini".


“Tidak, Bi, ini hak Bibi, ambil ya, semoga bisa membantu".


“Baiklah, terimakasih banyak bu“ Bi Lastri kembali memelukku.


Kami menangis dalam pelukan, dengan di saksikan Anwar.


Setelah memberikan uang pada Bi Lastri, aku kembali masuk kedalam kamar Fadli, hanya Fadli yang kumiliki, hanya Fadli yang tidak akan pernah menkhianatiku, hanya Fadli yang membuatku tetap bertahan di rumah ini.


“Jan“ Anwar mengikutiku, aku menoleh, lalu kembali memalingkan wajahku.


“Jan, sampai kapan kamu akan begini? Aku sangat merindukan kalian“ Anwar duduk di sampingku. Dan aku masih terdiam.


“Jan, apa kamu tidak akan memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya??”.


“Apa kamu akan terus bicara Anwar??"


“Aku akan terus bicara, samapai kamu bisa mendengarku“.


“Aku sudah memberimu cukup banyak waktu Jan, aku sudah lelah di diamkan olehmu seperti ini“.

__ADS_1


“Pilihannya hanya ada dua Anwar, diam atau pergi"


“Jan, kamu perempuan bijaksana, jangan sampai fitnah membutakan mata hatimu“ Anwar meraih tanganku, lalu menggenggamnya.


“Jangan memaksaku untuk memilih pilihan yang salah Anwar, aku lelah, kamu bisa keluar dari kamarku“


“Jan, kamu boleh marah padaku, tapi izinkan aku menggendong putraku“ Anwar bangkit, lalu berniat menggendong Fadli.


“jangan menyentuh putraku!!!”


“Jan, aku sangat merindukan putraku, dia butuh aku, aku Ayahnya“.


“Dia tidak butuh Ayah pengkhianat seperti kamu An".


“Jan, harus berapa kali ku katakan, aku tidak pernah mengkhianatimu, Malaikat mencatatnya, Allah menjadi saksinya Jan“


Dddrrrttt ... dddrrttt ... dddrrrttt ...


Aku meraih ponselku, kemudian membukanya, mengabaikan Anwar yang sedang memohon padaku.


“Jan, aku ada di sekitaran rumah kamu, kamu bisa keluar rumah??” pesan dari Randi.


Aku diam mematung, menimang entah apa yang harus kukatakan.


“Siapa?” Anwar menatapku, dengan tatapan menyelidik.


“Bukan urusanmu“


“Kamu adalah tanggung jawabku, aku berhak tau dengan siapa saja kamu berkomunikasi!!“ suara Anwar meninggi lagi.


“Selama ini, kamu selalu membatasiku untuk bertemu dengan siapa, untuk berhubungan dengan siapa, tapi lihat dirimu sendiri Anwar?? Kamu pengkhianat!!”


“Anjani!! Kenapa kamu begitu keras kepala?? “ untuk pertama kalinya Anwar membentakku.


“Hhuuuaaaaa!!!“ tiba-tiba Fadli mengerjap, lalu menangis. Mungkin dia kaget, karena Anwar membentakku.


Aku segera meraihnya, dan menggendongnya, “Tidak apa-apa sayang“ Aku menimang-nimang putraku, berharap dia bisa segera tenang.


“Huaaaaa ... !!!“ teriakan Fadli semakin menjadi.


Fadli mencengkram leherku, kuat, dia seperti ketakutan.


“Tidak apa-apa nak“ Air mataku ikut meleleh.


“Maafkan aku Jan, aku tidak sengaja, aku hanya ingin kamu mendengarkan alasanku, itu saja“


“Huuuaaaa!!!“ suara tangisan Fadli semakin kencang.


“Maafkan Ayah, Ayah tidak sengaja hum??” Anwar menyentuh kepala Fadli, tapi aku segera menepisnya.


Bersambung..................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.................

__ADS_1


__ADS_2