
Albara merasakan ada sesuatu yang sangat sejuk menjalar dari telapak tangan Lord of Chipman. Sebuah kekuatan hidup yang mengalir ketelapak tangan Albara lalu menjalar dengan lembut ketangannya, lalu menjalar keseluruhan tubuhnya.
Albara sangat takjub dengan apa yang dia rasakan, tak dapat dia ungkapkan dengan kata kata. Sebuah kekuatan yang seolah membuat tubuhnya seperti rumput kering yang di aliri air kehidupan, pelan pelan rumput tersebut berubah warna dari coklat menjadi kuning pucat lalu menjadi hijau berseri.
Albara merasakan perasaan yang sangat enak di sekujur tubuhnya, bahkan perasaan tersebut membuat dia lupa segalanya, Albara hanyut dalam perasaan dimana dia merasa sedang haus dan lapar yang sangat tiba tiba terdampar di sebuah tempat yang penuh dengan minuman dan makanan lezat lezat seperti di sorga saja. Dia minum dan makan apa saja yang dia inginkan lalu setiap kali dia minum dan makan dia merasakan kelezatan yang tak pernah di rasakan selama ini, kelezatan yang tidak pernah terbayangkan oleh pikirannya, kelezatan yang tidak akan di peroleh dari makanan dan minuman apa saja. Kelezatan yang di rasakan oleh seluruh sel dalam tubuh Albara.
"Beginikah takdir bekerja" pikir Albara saat teringat apa yang baru saja di alaminya. Jika takdirnya belum mati maka ada saja yang akan menyelamatkannya dari kematian. Baru saja dia di Selamatkan dari Khoiril, sekarang muncul Lord of Chipman yang sepengetahuan Albara adalah manusia tak punya hati nurani. Lord of Chipman yang di sugestikan Raja Sulaiman sebagai ahlinya tipu muslihat, setidaknya selama ini imeg Albara tentang manusia satu ini tidak ada baiknya. Albara seperti baru saja terlepas dari mulut harimau malah jatuh ke mulut buaya.
Namun apa yang di lihatnya hari ini berbeda dengan imeg yang ada selama ini, Lord of Chipman tak ubahnya seperti dewa yang mampu menyembuhkan luka dalamnya secara ajaib, sehingga Lord of Chipman lebih berkesan sebagai dermawan yang paling agung bagi Albara.
"Albara" pangil Lord of Chipman dengan lembut.
Albara menoleh menatap Lord of Chipman yang berdiri penuh wibawa, di mata Albara terlihat sebagai Maha Raja yang sangat agung, Albara merasa bahwa Tuhan lah yang berdiri di depannya hampir saja Albara bersujud menyembahnya. Tapi sebuah suara gaib kembali bergema di hatinya.
"Jangan lakukan itu Albara" sebuah suara yang hanya di dengar oleh Albara sendiri.
"Mr Chipman terima kasih telah menyelamatkan ku" ucap Albara masih belum mau memanggilnya Lord.
"Jangan banyak bergerak dulu kamu belum pulih betul, kau menguasai ilmu pernapasan suci coba lakukan semedi untuk membantu penyembuhannmu" Lord of Chipman memberi petunjuk.
__ADS_1
"Mr Chipman ....." ucapan Albara berhenti, tubuhnya gemetar air matanya meleleh.
"Hmmm kau menangis... ada apa, kau ingin mengatakan apa" Lord of Chipman mengelus kepala Albara seperti orang tua mengelus kepala anaknya.
"Maafkan aku Agama ku melarang untuk memanggil seseorang dengan panggilan Lord atau Tuhan" tangis Albara makin jadi.
"Tidak apa apa, ikuti saja ajaran agamamu, itu ajaran yang benar dari Lord semesta alam" ujar Lord of Chipman dengan penuh kasih sayang.
Albara sangat tersentuh dengan perlakuan Lord of Chipman, selama ini dia tidak pernah mendapat elusan dari orang tuanya, atau dari seseorang di mana dia tingal. Bagaimana tidak Albara selama ini selalu mendapat perlakuan kebencian sekarang di perlakukan dengan penuh kasih sayang. Perlakukan seseorang yang selama ini di anggap Albara sebagai manusia jahat yang yang harus di hindarinya, manusia yang dianggapnya monster yang akan mencabik cabik tubuhnya justru malah memperlakukanya penuh kasih sayang.
"Kenapa mr Chipman sangat baik pada saya?" tanya Albara dengan air mata masih meleleh di pipinya.
Albara seperti mendapat cambukan mendengar kata kata Lord of Chipman yang sangat religius, tak ubahnya seperti wejangan seorang ustadz yang paham agama. Ucapan seseorang yang berakal budi terlalu jauh kalau di katakan sebagai penjahat.
"Mr Chipman terima kasih atas nasehatnya, orang boleh bilang engkau jahat, tapi bagiku engkau adalah semulia mulia manusia" kata Albara meraih tangan mr Chipman lalu menciumnya.
"Baiklah Albara engkau sudah sembuh, jika suatu saat nanti engkau punya kesulitan silahkan hubungi Khoiril" ucap Lord of Chipman terdengar tulus.
"Iya ini alamat Khoiril.... Khoiril bukan lagi musuh bagimu, perlakuan dia sebagai teman" Lord of Chipman menyerahkan sebuah alamat, detik berikutnya dia sudah menghilang bagai di telan bumi.
__ADS_1
****
Albara berloncatan dari gedung ke geddung menuju Albara Hotel, pikirannya hanyut akan kenangan jalan hidupnya yang penuh kesusahan. Semasa remajanya Albara penuh kekurangan, dalam kemiskinan selalu dihina dan di jauhi. Dia ingat saat dia menginginkan cincin pintak pinto, seakan dengan cincin pintak pinto semua masalah akan teratasi, seakan dengan cincin pintak pinto dia akan melalui kehidupan dengan mudah tanpa kesulitan.
Kenyatannya setelah memperoleh cincin pintak pinto, Albara di hadapkan dengan berbagai masalah yang rumit. Masalah yang lebih berat yang mengancam nyawanya. Dia ingat saat kembali dari menemani semedi cagub sulaiman dia sudah di hadapkan dengan ancaman seseorang. Albara ingat pernyataan prof. Husen jika suatu saat dia sukses diapun akan jadi target dari klompok tertentu untuk di habisi.
Albara berusaha untuk tetap optimis dengan keyakinannya, kalau manusia di ciptakan bukan untuk uji coba atau trial and eror, tapi Tuhan ciptakan manusia dengan tujuan yang sangat mulia. Semua orang di ciptakan dengan jalan hidup yang berbeda. tiap orang di bebani Tuhan sesuai dengan kemampuannya.
Albara terus berlari kencang tubuhnya nampak berkelebatan dari satu tempat ke tepat lainya. Saat dia sampai di Albara hotel hari sudah larut malam, Albara memperlambat larinya kemudian berjalan dengan santai memasuki Albara Hotel.
"Akhirnya sampai juga" guman Albara.
Saat melewati pos keamanan Albara group, Albara mendengar ada keributan terlihat juga banyak anggota geng motor peduli sesama di luar pos ke amanan Albara group. Albara membatalkan niatnya memasuki Albara Hotel, Albara melangkah menghampiri pos jaga Albara group yang kebetulan ada bersebelahan dengan parkiran Albara Hotel.
"Siapa kalian dan siapa yang memerintahkan kalian menggeledah Albara Hotel?" tanya Kompol Norman.
"Maaf komandan" kata seorang polisi yang menyertai geng motor pendekar kuda besi, dengan gugup setelah menyadari berhadapan dengan Kompol Norman.
"Saya Bigadir Sutarman dari lidik Reserse Narkoba, sedang menjalankan tugas" Brigadir Sutarman memperlihatkan kartu aggotanya.
__ADS_1
Albara masih ingat kalau Brigadir Sutarman lah orang yang terlihat bersama pengawal presiden geng motor pendekar kuda besi, Dia jugalah yang tadi di lihat Albara memberikan bungkusan pada Khoiril, lalu Khoiril menyambitkan bungkusan rersebut pada empat orang anggota geng peduli sesama, tanpa di sadari mereka barang barang tersebut telah masuk ke kantong mereka.