Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 106


__ADS_3

Setelah ibu dan dua anak suku Rimba menerima uang dari Albara, mereka berlalu menelusuri jalan mencari target berikutnya. Albara menatap Budiman kembali bertanya tentang keluarganya.


"Bud... bagaimana kakak mu kok bisa ngilang tak tau kemana?" tanya Albara.


"Iya bang saya juga tidak bisa menghubungi telepon kakak saya" kata Budiman.


"Mereka kok tega meninggalkan kamu sendirian" ucap Albara heran dia ingat saat orang tuanya pergi lalu menghilang tanpa kabar berita.


"Dua bulan yang lalu mereka di jemput orang misterius bang" Budiman mulai bercerita.


"Saya dan kakak perempuan saya adalah yatim piatu, kami tinggal numpang di gubuk sederhana milik seorang kenalan ayah saya. Kakak saya baru saja menikah dengan pemilik warung tempat dia bekerja. Semenjak itu kami tidak boleh lagi tinggal di gubuk tersebut, lalu kakak saya membawa saya tinggal di warung suaminya" cerita Budiman.


"Semenjak wabah copid kakak saya dan beberapa warung brrdekatan di larang pemerintah untuk membuka warung, mereka hanya di bolehkan melayani pelanggan via telepon, namun karena tekanan ekonomi kakak ipar saya nekat membuka warung" Budiman mulai meneteskan air mata saat mengenang kejadian beberapa bulan lewat.


"Namun saat pelanggan ngantri untuk makan di warung tiba tiba petugas pemerintah menggelar razia. Kakak di minta menutup warungnya, dan di denda lima juta rupiah" kata Budiman.


"Tentu saja kakak saya tidak dapat membayarnya, lalu seseorang pelanggan yang sedang makan di warung kakak, menjamin pembayaran denda tersebut dengan perjanjian dua bulan lagi harus di lunasi" kata Budiman.


"Dua bulan berikutnya orang tersebut kembali ke warung kakak menagih hutang, karena kakak saya belum punya uang, orang tersebut marah lalu kakak saya dan suaminya di angkut dengan sebuah mobil mewah milik orang tersebut, hingga sekarang kakak saya tak ada kabar beritanya" kata Budiman.


****


Kita lihat dulu apa yang terjadi pada keluarga Budiman dua bulan yang lalu. Seorang anak laki laki berusia dua belas tahun mengenekan seragam Sekolah Dasar terlihat berjalan menghampiri sebuah warung sederhana di pingir jalan, langkahnya terhenti saat mendengar ada keributan di dalam warung. Anak laki laki itu bernama Budiman mencoba mengintai dari balik pintu.


Budiman mengerang menahan marah saat melihat seorang lelaki gemuk menampar kakak iparnya.


"Ampun tuan.. beri kami waktu satu bulan lagi" kata kakak iparnya.


Di sudut warung terlihat kakaknya hanya duduk menangis tak berdaya, di pegangi dua orang tukang pukul.


"Istrimu cantik juga" kata lelaki tersebut sambil mengelus pipi kakak Arni kakak budiman.

__ADS_1


"Jangan tuan... tolong saya istri orang" kata Arni.


"Ajo Bidin.. kamu masih berani membantah permintaan kami" teriak laki kaki tersebut tangannya semakin nakal meraba bagian tubuh Arni.


"Ampun bos... ampuni kami beri kami beberapa hari saja" Ajo Bidin mulai panik.


"Ampun tuan, Ampun.. tolong tolong" Arni menjerit saat lelaki tersebut mulai menciumi bibirnya dan meraba raba bagian sensitif di tubuhnya.


"Kurang ajar, setan kalian lebih jahat dari perampok" terdengar duara serak Ajo bidin yang sudah kalap, lalu lelaki yang sedang menciumi istrinya dia pukul.


"Duuuk" sebuah tendangan tukang pukul orang tersebut juga bersarang di ulu hati Ajo Bidin.


"Ahhhh" Ajo Bidin jatuh terjengkang meringis menahan sakit.


"Seret mereka, bakar warungnya" kata laki laki bertubuh gendut dengan pistol telah di todongkan ke Arni.


"Tolong... tolong" Budiman berlari dari balik pintu berlari memanggil orang di sekitar warung tersebut.


"tiga hari kemudian ada mayat di temukan, mayat seorang laki laki yang nyaris tak di kenali lagi seluruh organ tubuhnya lenyap, kata orang orang kemungkinan adalah mayat Ajo Bidin ipar saya" kata Budiman.


"Ada juga yang bilang kalau organ tubuh kakak saya telah di jual untuk melunasi hutangnya" kata Budiman menutup ceritanya.


****


Dua bulan sudah mengasingkan diri di kebon, rambut sudah gondrong, berkumis dan jenggotan "ha ha inilah sosok Albara" guman Albara di depan cermin.


Di depan rumah seperti biasa jam segini beberapa orang suku rimba melintas di depan rumah Albara. Salah satu dari mereka seorang ibu dengan anak kecil mendekati Albara sambil mengacungkan ember kecil gaya pengemis di Kota Tapus.


"Maaf saya belum ada uang untuk di berikan" kata Albara.


Ibu itu pergi di ikuti dua anak nya yang sebaya Budiman. Tiga menit berlalu muncul lagi anaknya yang lain. Seorang gadis sama seperti ibunya dengan ember kecil diacungkan ke arahku dia berucap.

__ADS_1


"mintak sedekah"


Albara perhatikan orangnya agak bersih dan kulitnya agak terang di banding ibu dan saudaranya. Yang bikin jantungku berdebar wajah dan bodinya mirip dengan Mulan kekasih Albara yang ikut mengusir Albara dari Kota Tapus. Gadis Rimba yang terlihat cantik alami dengan tubuh tinggi semampai, tapi pakaiannya sangat kumal.


"Budiman" Albara memanggil Budiman.


"Iya Bang" Budiman muncul dari dapur.


"Ambilkan uang di kamar kakak" pinta Albara.


"Budiman gak liat di mana uang nya bang?" Budiman kembali dengan tangan kosong.


Tanpa di sadari ditangan Albara telah ada uang Rp. 20.000. Kemudian di masukkan ke dalam ember yang dia bawa gadis rimbs.


"Ini dek" kata Albara


"Terimakasih ucap gadis rimba tersebut lalu berlalu menyusul ibu dan saudaranya.


Semenjak itu gadis rimba tersebut hampir tiap hari lewat di depan rumah Albara, dan embernya selalu saya isi sekalipun cuma 2 ribu. Kehadiran gadis rimba bagi Albara makin membuat perasaannya terhadap Mulan semakin tak terlupakan. Perasaan yang tadinya mulai bisa di tepis sekarang malah semakin jadi.


Pagi itu Albara duduk sendirian karena Budiman yang telah di pindahkan sekolahnya sedang mengikuti ujian akhir di sebuah Sekolah Dasar di Kota Tapus. Albara telah menyiapkan uang 20 ribuan untuk gadis rimba yang selalu lewat depan rumahnya, namun sampai jam 8 pagi gadis rimba tersebut tidak muncul. Albara yabg mulai merasa lapar lalu pergi memeriksa dapur, di dapur masih ada mi instan dan telor, setelah masak mi Albara duduk di teras menikmati mi dan kopi panas.


Tiba tiba gadis rimba yang dia tunggu sudah berdiri di depan teras, penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Seluruh tubuhnya di baluri bedak dari kunyit sehingga kulitnya berwarna kuning, bibir di gincu merah muda, alis dan sekeliling matanya di celak hitam sehingga mirip kaca mata, kedua pipinya di celak hitam dengan coretan mirip kumis kucing.


"mintak mi nya bang" kata gadis rimba pada Albara.


Albara merasa iba melihatnya lalu menjawab


"boleh tapi kamu mandi dulu ya" pinta Albara.


gadis rimba itu mengangguk, Albara ambilkan handuk yang biasa di gunakan Budiman, lalu gadis rimba tersebut di tuntun Albara ke kamar mandi.

__ADS_1


Saat gadis rimba asik mandi Albara masakkan mi instan untuknya, yang kemudian disantapnya dengan lahap sekali. Sungguh Albara sempat terpesona dengan kecantikan gadis rimba setelah dia mandi, bahkan melebihi cantiknya Luna Maya pikir Albara memperhatikan gadis rimba saat sarapan mi yang dia buatkan.


__ADS_2