Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 135


__ADS_3

Tanpa ada komando pak Bukhari di ikuti Doni dan Manto, melangkah hati hati sekali memasuki tembok bangunan. Setelah mereka berada di dalam tembok, mata mereka terbelalak melihat bangunan yang sangat mewah tertata seperti sebuah istana.


"Waw, ini terlihat seperti istana dalam dongeng" kata pak Bukhari takjub.


"Lihatlah halamannya yang luas di tata seperti taman, semua permukaan tanah penuh di tutupi kerikil bercahaya" kata pak Bukhari lagi.


"Ini bukan kerikil pak Bukhari, tapi sejenis batu permata dari berbagai jenis, yang memancarkan warna ungu biasanya sejenis batu kecubung, yang memancarkan warna hijau itu zamrud, yang cahayanya biru pastilah sejenis king safir, sedangkan warna merah sejenis red rubi, dan putih cemerlang adakah diamond" kata Manto memperhatikan kerikil kerikil yang berkilauan memancarkan sinar warna warni berkilauan.


Rasa takjub mereka meteka makin menjadi jadi saat memperhatikan dinding bangunan gedung yang memancarkan sinar keperakan, sedangkan di sekeliling setiap jendela dihiasi warna keemasan.


"Dinding bangunan kalau bukan di lapisi logam dari perak dan emas pastilah terbuat dari batangan emas dan perak murni" guman Doni.


Mereka terus melangkah mendekati gerbang melengkung yang menuju gedung utama, mereka melangkah pelan pelan tapi tetap saja menimbulkan bunyi gemeresik kerikil warna warni yang terinjak oleh kaki mereka.


"Permisi ... adakah orang di dalam?" tanya pak Bukhari.


tidak ada jawaban yang terdengar hanya pantulan suara pak Bukhari. Kembali pak Bukhari mengulangi sapaannya hingga tiga kali tapi tetap tidak ada jawaban. Pak Bukhari mencoba mendorong pintu warna keemasan, namun daun pintu tidak bergerak sedikitpun.


"Pintu ini sangat berat mungkin terbuat dari emas murni" kata pak Bukhari.


Doni memeriksa dinding kalau ada celah untuk mengintip isi ruangan tapi dinding tersebut sepertinya juga terbuat dari batangan logam yang sangat rata dan rapi hingga tidak terlihat celah sedikitpun untuk melihat lihat isi ruangan. Doni mencoba meraba sebuah bata keemasan yang dihiasi intan berkilauan.


"Syuuuut" tiba tiba daun pintu berwarna keemasan bergeser ke kiri memperlihatkan ruangan yang sangat luas di depan mereka.

__ADS_1


Mereka saling pandang sejenak, lalu seperti ada kekuatan mistis mereka serempak melangkah memasuki ruangan yang cukup luas.


"Tidak ada apa di sini" kata Doni.


Dengan hati hati sekali mereka memeriksa tiap ruangan tapi semua kosong hingga, tibalah mereka di sebuah ruangan yang sangat luas, ruangan yang diterangi oleh cahaya dari berlian yang berkilauan di sepanjang dinding dan lotengnya, cahayanya sangat terang sehingga ruangan terlihat terang benderang seperti ruangan yang terbuka saat cuaca cerah.


Di depan terlihat sebuah meja penuh dengan jamuan, juga sebuah kursi dengan sandaran sangat tinggi membelakangi meja, menghadap ke dinding di sisi depan mereka. Di pinggir ruangan berbaris meja meja juga penuh dengan hidangan.


"Kalian pasti lapar makanlah sesuka hati kalian" sebuah suara lelaki sangat berwibawa terdengar dari arah kursi yang membelakangi mereka jauh di depan.


Mereka memang lapar dari kemaren perut mereka belum terisi, bau makanan sudah sangat merangsang membangkitkan selera mereka. Namun belum sempat mereka mendekati meja prasmanan, di belakang mereka entah kapan dan dari arah mana dia datang, telah berdiri seorang wanita setengah baya, memegang seorang gadis berambut pirang bermata biru.


"Siapa kalian" bentaknya.


"Berani sekali kalian memasuki istana raja Jayendra, tanpa izin" kata wanita setengah baya yang berdiri di belakang mereka.


"Biarkan mereka Rania" kata Raja Jayendra


"Kita membutuhkan manusia untuk membuka mantra penyihir hitam" kata raja Jayendra.


"Tapi saya sudah menemukan manusia" kata Rania menunjukan gadis berambut pirang dengan mata biru di sampingnya.


"Tidak masalah"

__ADS_1


"Mereka semua bisa tinggal di sini, entah darah siapa dari mereka yang kuat membuka kutukan penyihir hitam" kata raja Jayendra lagi.


"Ratu Rania, biarkan mereka bersantap mereka pasti sangat lapar" ucap raja Jayendra.


Mendengar titah sang raja, Ratu Rania tersenyum ramah mempersilahkan mereka menyantap hidangan di depan mereka. Doni, Manto, pak Bukhari tak ketinggalan juga Katerin seperti berlomba duduk di berkeliling di sebuah meja mulai mengambil hidangan yang mereka suka. Nasi yang terhidang terasa sangat enak warnanya sangat putih, berbau harum dan gurih, mereka makan hingga dua piring lalu nambah lagi.


Saat mereka asik dengan makanannya, ratu Rania menggerakkan tangan kanannya, dari tangannya meluncur empat batang jarum meluncur dengan cepat hanya dalam hitungan detik jarum jarum tersebut telah tertancap tepat di urat nadi pergelangan tangan kanan masing masing mereka. Jarum jarum tersebut menancap cukup dalam di nadi mereka, juga membuat merka tak bisa bergerak diam seperti patung.


Ratu Rania menghampiri mereka dengan sebuah gelas di tangan lalu mencabut jarum dari nadi mereka satu persatu, darah mengucur deras lalu di tampung dengan gelas, hingga orang terakhir gelas di tangan Ratu Rania telah penuh darah.


Ratu Rania dengan gelas penuh darah menghampiri Raja Jayendra lalu gelas di serahkan pada raja Jayendra. Raja Jayendra komat kamit membaca mantra lalu minum darah yang ada di gelas hingga menyisakan seperempat gelas.


Kembali Raja Jayendra komat kamit lalu menghabiskan darah yang tersisa. Kali ini darah tersebut tidak di minum tapi di senburkan ke sebuah bola kristal di depannya.


"Puuuuuh" bola kristal biru berumah warna menjadi merah darah saat raja Jayendra menyemburkan ludahnya yang penuh darah.


"Bangkitkah bangkitlah bangkitlah wahai penduduk seisi negri" Raja Jayendra berteriak sambil berdiri merentangkan tangannya.


Tiba tiba tubuhnya yang kurus mulai berisi, tubuhnya yang seperti tengkorak kini berseri terlihat tampan. tubuhnya yang tadi lemah sekarang berdiri tegap penuh dibawa. Lantai terasa bergerak lalu seperti jamur bermunculan pria pria tegap dengan senjata lengkap layaknya tentara pengawal raja sebuah kerajaan memenuhi ruangan, di ikuti dengan bermunculan nya dayang dayang Raja dan pelayan pelayan istana yang baris dengan rapi.


"Dengarlah wahai para bala tentara, aku telah memberi kalian tubuh, mersiaplah untuk membela kerajaan yang sedang di kuasai penyihir hitam" kata raja Jayendra.


"Hidup raja Jayendra, hidup Ratu Rania" teriak semua orang yang sudah memenuhi ruangan besar seperti aula sebuah istana.

__ADS_1


Teriakan mereka di ikuti teriakan yang sama di luar istana, suasana menjadi hiruk pikuk tidak saja oleh teriakan bala tentara tapi juga suara suara binatang. lolongan serigala, kokok ayam dan kicauan burung seperti ikut bergembira.


Doni, manto, pak Bukhari dan Katerin kembali bisa bergerak, mereka semua takjub dengan pemandangan di depan mereka.


__ADS_2