
Katerin dan Claira sibuk mengambil beberapa sampel puing reruntuhan untuk selanjutnya di lakukan uji isotop, menentukan perkiraan umur bangunan. Alan, Julian dan Ardi mengambil air bersih di sebuah mata air tak jauh dari kemah mereka. Riki sibuk mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun, sebagai penghangat dan penerangan di malam hari. Hingga senja memasuki malam mereka sibuk dengan tugas masing masing.
"Hai look is it" teriak Katerin dan Claira bersamaan.
"Kami menemukan sesuatu, di dalam pilar" ujar Katerin.
Alan, Julian, Ardi dan Riki menghampiri pilar di mana Katerin dan Claira menunjukkan sesuatu.
"Sepertinya di sini di simpan alat alat penambangan, ada cangkul, belencong, linggis dan secop" ujar Claira mengeluarkan peralatan yang mulai berkarat.
Alat alat tersebut di bawa ke tempat di mana Riki menyalakan Api unggun, sementara Katerin masih memeriksa ruangan di bangunan pilar.
"Pilar ini dirancang untuk penyimpanan, semua dinding di lapisi bahan kedap air" ujar Katerin.
Setelah Katerin menyerahkan beberapa sampel pada Claira, mereka berkumpul mengelilingi api unggun, satu persatu mereka memeriksa peralatan yang mereka temukan di pilar tersebut.
Claira mengeluarkan sebuah alat detektor dari tasnya lalu mengarahkan sensor ke alat tersebut.
Di layar terlihat gambar alat alat tersebut dan muncul notifikasi.
"Nama alat cangkul, buatan Nedherland tahun tahun 1881"
"Sepertinya peralatan yang tersimpan di ruangan pilar merupakan produk Belanda zaman seratus empat puluh tahun silam" ucap Claira setelah memeriksa dengan sebuah alat.
"Untuk kepastian umurnya harus ada uji isotop"Lanjut Claira.
Setelah alat di deteksi semua sama menunjukan buatan Belanda di produksi seratus empat puluh tahun silam, kecuali sebuah palu. Di alat detektor Claira tertulis.
"Nama alat Hammer, made in china tahun 2012"
"Ohhh no, sepertinya Hammer ini adalah baru, ini buatan china 2012" kata Claira membaca detektor.
"Oooo saya menduga Hammer ini adalah alat yang di gunakan seseorang, untuk membobol bagian depan pilar, karena pada tahun 2012 banyak pencinta batu akik yang mencari batu hingga ke pedalaman hutan" kata pak Ardi.
"Iya benar pak Ardi, seingat saya tiap pemburu batu akik zaman tersebut selalu membawa hammer, mereka seperti gila memecahkan batu yang mereka curigai sebagai batu akik yang berharga" ujar Riki.
"Bisa jadi demikian, apa mungkin mereka menemukan sesuatu yang berharga dalam pilar hingga lupa membawa hammer nya?" tanya Alan.
"Semua hanya mungkin, termasuk maksud dari Belanda meletakkan peralatan ini, bisa jadi mereka sudah melakukan penambangan, saat mereka kembali ke Belanda sebagian dari hasil tambang yang tidak terbawa mereka kubur dalam pilar" Analisis julian cukup masuk akal.
__ADS_1
"Saya juga menduga demikian" ujar Katerin lalu kembali menyimpan semua peralatan di dalam pilar setelah di dokumentasi oleh Claira.
"Bisa pinjam alat detektor milik Claira?" tanya Ardi.
"Boleh kata Claira" menyerahkan alat detektornya.
"Wooow... ha ha ha ha" ketawa Ardi meledak, setelah mengarahkan alat ke Riki.
Dalam alat tertulis
"Jenis mahluk manusia modern"
"Tahun keluaran 1996"
"Kamu kelahiran tahun berapa ki?" tanya Ardi.
"Tahun 1996" kata Riki.
"Akurat" kata Ardi.
"Benar benar milinium trendi banyak sekali teknologi yang berkembang melampaui logika yang berlaku" guman pak Ardi.
"Waaah wah wah luar biasa" sambung pak Ardi lalu menyerahkan alat tersebut pada Claira.
*****
Malamnya mereka tertidur pulas, mereka sangat lelah setelah melakukukan perjalanan selama seharian. Claira dan Katerin tidur di satu tenda, sedangkan Ardi, Alan dan Julian di tenda lainnya. Riki memutuskan untuk bertahan di samping api unggun, karena kecapean Riki pun tertidur pulas.
Tengah malam Riki terbangun oleh lolongan anjing hutan bersahut sahutan, kedengaran sangat dekat. Riki menghampiri tenda untuk bergabung dengan Ardi dan yang lainya, tapi Riki kaget karena tenda terlihat sudah penuh.
"Satu, dua, tiga, empat" Riki menghitung.
"Ardi, Alan, Julian dan siapa yang satunya lagi" pikir Riki.
"Mungkin Claira atau Katerin" pikir Riki menghampiri tenda Katerin.
Di tenda terlihat dua orang yang sedang tertidur lelap, Riki di buat bingung kenapa ada tambahan anggota.
"Kresek kresek kresek kresek" ramai kedengeran bunyi daun kering di lewati sesuatu.
__ADS_1
Belum terjawab penomena aneh yang dilihatnya, Riki malah di kagetkan oleh bunyi langkah langkah sesuatu yang semakin mendekat kearahnya. Gerombolan serigala terlihat remang remang di balik cahanya api unngun. Mata mereka terlihat bercahaya saat di timpa sinar api unggun. Puluhan mata terlihat menatap riki, pandangan gerombolan serigala yang sangat ganas siap menerkam Riki yang berdiri di luar tenda.
"Kresek kresek kresek" kembali terdengar sara dedaunan di lewati sesuatu. Kali ini terdengar lebih nyaring dan berat.
"Auuuum auuuum" seekor harimau sangat besar terlihat mendekati api unggun, berusaha menerkam serigala terdekat.
Segerombolan serigala yang tadi bersiap menyerang Riki, kocar kacir saat menyadari kehadiran si raja hutan, semua berhamburan meninggalkan tempat tersebut. Harimau yang sangat besar, di perkirakan Riki panjangnya bisa jadi sekitar 2 meter.
"Grrrrrr grrrrrr grrrrrr" harimau mengerang menghampiri Riki.
"Tamat hidupku" pikir Riki sambil mundur menuju belakang tenda.
"Ya allah, ya allah, ya allah" Riki mengucap pasrah, saat harimau semakin mendekat siap menerkamnya.
"Hai apa itu" teriak seseorang yang baru keluar dari tenda.
"Grrrrrr grrrrrr grrrrr" setelah merasa cukup dekat harimau mengerang sambil melompat menerkam Riki.
Naluri silat Riki secara reflek bekerja di melompat ke kiri menghindari terkaman harimau, lalu memberikan tendangan dengan kaki kanannya.
"Buuk" Terdengar bunyi gedebuk saat kaki kanan Riki menghantam rusuk kanan harimau.
"Aiiiih" Riki menjerit kaget saat merasakan kerasnya kulit harimau kakinya terasa sakit, seperti ada tenaga dorongan dari tubuh harimau membuat Riki terbanting hingga dua langkah lalu jatuh dengan keras di tanah.
Belum sempat Riki bangun, masih dalam keadaan kaget dan takut, harimau sudah berbalik dengan kecepatan luar biasa kembali menerkam Riki. Untungnya naluri Riki bekerja dengan baik, dia bergulingan di tanah hingga sebuah cakaran harimau hanya lewat 2 centi meter di sampingnya.
Riki berusaha bergulingan menjauh lalu melompat berdiri ke arah api unggun berharap bisa mengambil parangnya yang tergeletak di dekat api unggun. Harimau berbalik menerkam seseorang yang baru saja keluar tenda.
"Ahhhhhh" terdengar rintih kesakitan.
Harimau berusaha menjauh menyeret seseorang di bawah perutnya. Samar samar riki melihat seseorang meronta ronta dari gigitan harimau yang terus menyeretnya ke arah lembah. Riki tidak bisa memastikan siapa yang di seret harimau, Ardi, Alan atau Julian.
"Aduhhh tolong" teriaknya.
"Dari logatnya dia seperti bukan orang asing berarti dia bukan Alan atau Julian" pikir Riki. Berpikir demikian habislah rasa takut Riki di ambilnya parang dan senter yang masih tergelerak di dekat api unggun.
"Ardi bertahanlah aku akan menolongmu" teriak Riki.
Bagai berlari Riki menyusul dengan pedang terhunus, dilihatnya beberapa pohon pohon kecil tercabut hingga ke akarnya, karena pegangan orang yang di mangsa harimau mencoba bertahan dari seretan harimau, sementara mulutnya tak henti minta pertolongan.
__ADS_1