
Keberadaan putri Mulani sudah menjadi duri dalam daging bagi Albara dan Mulan. Bagi Albara dia tidak peduli jika dirinya yang menjadi target eksekusi ratu Ledisya dan sekutunya, tapi jika yang di targetkan mereka adalah Mulan dan keluarganya itu akan menjadi urusan baginya.
"Devina.... kakak sudah baca berita tentang kehebatan Devina, terima kasih telah membongkar kedok putri Mulani yang mebyerupakan diri sebagai Mulan" ucap Albara.
"Kakak minta tolong urus kepulangan Budiman sementara Doni dan Manto urus kak Riki, biar saya urus ratu Ledisya" kata Albara.
Devina memperhatikan Albara seperti meragukan kemampuan Albara menghadapi Ratu Ledisya, yang di bantu duta bangsa Jarjud.
"Kakak tidak mungkin pergi sendirian menghadapi ratu Ledisya yang di bantu duta bangsa Jarjud" ujar Devina.
"Mulan akan ikut kak Bara" ujar Mulan yang juga merasa terusik dengan keberadaan putri Mulani yang menerupai dirinya.
"Bukan Devina meragukan kemampuan kalian, tapi ingat ratu Ledisya adalah penguasa kerajaan Dwarfa. Mustahil bergerak tanpa bantuan mereka yang lebih tau tentang kerajaan Dwarfa, mangkanya kita harus membebaskan raja Dwarfa dulu untuk minta bantuan minimal pemandu jalan di kerajaan Dwarfa" ucap Devina.
"Devina mungkin bisa membebaskan kutukan yang menimpa raja Dwarfa, setelah itu kita rencanakan lagi bagaimana rencana selanjutnya" Saran Devina.
Albara menimbang nimbang saran devina, benar juga dengan membebaskan kutukan raja Dwarfa mereka tidak akan kesulitan memasuki kerajaan Dwarfa. Dengan raja Dwarfa juga memungkinkan mereka memperoleh sekutu melawan bala tentara ratu Dwarfa.
"Ok lah Dev.. besok pagi kita minta Katerin menyelesaikan peta perjalanan mereka ke pintu masuk tempat raja Dwarfa menjalani kutukannya" ujar Albara menyetujui usul Devina.
"Miss Katerin ... bagaimana kamu bisa kan?" tanya Devina.
"Kami bertiga baru sampai sore tadi, saya belum punya tempat tinggal belum ada fasilitas untuk bekerja" jawab Katerin.
"Bagaimana kalau Katerin tinggal di rumah kak Bara" usul Devina lagi.
"Bagaimana Katerin bisa tinggal di kebun?" tawar Albara.
"Iya bisa.. tapi Katerin perlu pssilitas dan akses yang lebih dekat dengan perkotaan, juga lebih dekat dengan Doni dan Manto yang juga menenani Katerin selama dalam perjalanan pulang" ucap Katerin.
"Bagaimana kalau Katerin tinggal di Albara II Hotel, kebetulan saya dan Doni akan nginap di Albara II hotel" usul Manto.
"Kalian kenapa ikut ikutan nginap di hotel?" tanya Albara.
__ADS_1
"Besok jadwal tes wawancara untuk karyawan baru, Laila dan Yuni juga sudah ada di hotel untuk persiapan wawancara besok" ungkap Manto.
"Iya Bar ... Doni dan Laila kan yang di tugaskan untuk mewawancarai mereka" Doni juga menguatkan argumen Manto.
Katerin tertarik dengan ungkapkan doni akan mewawancarai calon karyawan, berpikir selama menunggu temannya Alan dan Claira yang belum jelas nasibnya, dia akhirnya mengajukan diri ikut melamar pekerjaan.
"Kalian punya peluang pekerjaan, bolehkah Katerin juga ikut melamar?" tanya Katerin.
Mereka memperhatikan Katerin seperti kurang yakin dengan permintaan Katerin.
"Katerin yakin ingin bekerja di sini?" tanya Albara.
"Sangat yakin... setidaknya selama menunggu kepastian keberadaan Alan dan Claira" kata Katerin.
"Bagaimana Bara?" tanya Doni.
"Baiklah... jika Katerin bisa menyelesaikan petanya besok pagi, Doni harus terima Katerin bekerja, Doni juga yang atur posisi jabatan yang pas buat Katerin" ucap Albara.
"Ok Siiip" jawab doni.
"Oke malam ini kita semua nginap di Albara II hotel" ucap Albara.
Setelah minta izin pada pak Sekda dan ibu Susanti, Albara dan Mulan nyusul ke Albara II hotel. Di Albara II Hotel, Albara memiliki kamar khusus untuk keluarganya. Sebuah kamar dengan tipe kamar deluxe room dengan ukuran sekitar 40 meser persegi, di lengkapi fasilitas stadar untuk hotel berbintang.
Terletak di pinggiran kota tapi dirancang dengan kenyamanan dan keamanan para pengunjung, di belakang hotel terbentang taman hijau yang luas seperti tidak terbatas dengan perbukitan yang cukup tinggi, pemandangan yang bisa di lihat dari samping hotel, di depan terlihat pemandangan kota yang generlap di malam hari juga bisa di lihat dari kamar mereka. Pemandangan yang cukup romantis bagi pengantin baru seperti Albara dan Mulan.
"Kakak tidak lelah?" tanya Mulan saat melihat Albara seperti melamun.
"Kalau lelah kakak istirhat saja dulu, Mulan pengen rasanya mandi air hangat" ucap Mulan.
"Ehhhh" Albara cuma berdehem sebagai jawabannya.
Albara merasa canggung saat berduaan dengan Mulan di kamar, entah mengapa suara Mulan begitu merdu kedengeran di telinganya. Tapi suara Mulan membuatnya semakin canggung, Albara diam diam menghela napas panjang untuk mencairkan suasana hatinya.
__ADS_1
"Atau Mulan ambilkan minum dulu ya kak" ucap mulan setelah melihat Albara tak bergerak dari tempat duduknya.
"Ya ya" ucap Albara kepalanya mengangguk ikut nengiyakan.
"Ohhh tuhan.. benarkah ini istriku" batin Albara saat Mulan dengan hanya handuk melilit tubuhnya membawa minuman ke meja tempat dia duduk.
Setelah melepas hausnya Albara mberbaring di tempat tidur menunggu Mulan yang sedang mandi. Lamunan Albara seolah nembayangkan tubuh Mulan yang mandi, entah berapa lama dia berbaring hingga kantuknya mulai menghinggapi matanya. Hampir saja Albara terlelap kalau saja tidak mendengar suara Mulan yabg begitu dekat di kupingnya.
"Kak bara" panggil Mulan lembut.
Albara membuka matanya melihat Mulan yang sudah berbaring di sampingnya. Wajah Mulan sangat dekat hingga napasnya tersa berhembus di dada Albara.
"Kenapa?" tanya Albara.
"Di kamar tidak ada bantal guling ya kak?, Mulan biasanya sangat nyaman kalau tidur dengan memeluk bantal guling" tanya Mulan.
"Ya gak ada, Mulan peluk kakak aja deh" kata Albara asal.
"Benar ya kak" kata Mulan yang juga sudah sangat mengantuk.
Mulan memajukan badannya tagannya dilingkarkan di pinggang Albara, lalu matanya mulai mrnyipit dan akgirnya terpejam. Aktifitas seharian yang sangat menyibukkan memang menimbulkan rasa lelah yang sangat pada mereka. Mulan benar benar terlelap sambil memeluk Albara, sebaliknya Albara yang tadi terlelap sekarang terjaga dengan mata yang terlihat segar.
Dengan gerak yang terbatas Albara menatap Mulan yang sudah terlelap, dari wajahnya lalu turun ke belahan dadanya yang tertutup gaun tidur tipis. Di turunkanya tangan Mulan dan kaki Mulan yang memeluknya, namun tiba tiba Mulan membuka matanya.
"Kenapa kak?" tanya Mulan protes.
"Gak ... mulai malam ini Mulan tidak boleh tidur memeluk guling, atau memeluk apapun" ucap Albara.
"Tapi kak" ucap Mulan protes.
"Gak ada tapi tapian... mulai malam ini Mulan harus membiasakan tidur di pelukan kak Bara" ucap Albara.
Sekarang berbalik Albara yang memeluk Mulan, tubuh Mulan tenggelam dan berlahan menggeliat mencari tempat yang nyaman di pelukan Albara. Tangan Albara menggerayangi tubuh Mulan, bibirnya tak hentinya mengecup kening Mulan, tubuh mereka seperti menegang dalam kenikmatan, hingga tengah malam barulah mereka tertidur setelah semua hasrat dan kerinduan mereka tersalurkan.
__ADS_1
****