Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 105


__ADS_3

Di wilayah barat laut Kota Tapus terdapat dataran yang sangat luas dan subur, dataran yang dulunya merupakan hutan lebat yang tak terjamah manusia, tapi semenjak lima belas tahun belakangan tepatnya semenjak jalur transportasi makin lancar ke Kota Tapus, dataran ini mulai di serbu masyarakat untuk di jadikan kebun.


Dataran ini dulunya di kenal dengan hutan yang sangat angker, sekarang berubah menjadi dataran yang indah. Sejauh mata memandang terlihat hamparan kebun yang sangat luas, daerah yang dulu sepi sekarang jadi salah satu tempat yang jadi target kunjungan wusatawan lokal maupun wisatawan luar kota tapus.


Warga yang berkebun di sini tidak saja berasal dari Kota Tapus dan sekitarnya, bahkan banyak penduduk dari luar daerah bahkan luar provinsi mengembangkan usahanya dengan membeli kebun di wilayah tersebut.


Di sebuah lembah perbukukitan yang di aliri anak sungai yang sangat bening terdapat sebuah perkebunan sawit. Sebuah perkebunan yang sangat terrawat terbentang di sepanjang lembah hingga ke puncak bukit. Sebuah jalan yang hanya di timbuni koral membentang membelah kebun mengikuti aliran sungai. Di puncak bukit terlihat beberapa pondok tempat tinggal pengurus kebun.


Di sinilah prof Lee Shu Wan tinggal menghabiskan waktu di masa tuanya, menghabiskan waktu di tempat sepi dan jauh dari keramaian. Pagi pagi sekali prof Lee shu Wan sudah bersiap siap beraktifitas ke kebunnya tiba tiba mengurungkan niatnya saat mendapat telepon dari Albara.


"ke sinilah nak Bara, om tunggu" kata prof Lee Shu Wan menjawab telepon Albara.


"ini sudah di jalan om" jawab albara di telepon.


"Posisi nak bara di mana sekarang?" tanya prof. Lee Shu Wan.


"Sudah mulai menuruni bukit, yang ada kebon kopi di kiri dan kebun kentang di kanan jalan" kata Albara.


"Udah dekat itu, nanti jika di lembah ada kebun kurma, kamu berhenti di situ aja dulu saat masuk kebun kurma nanti ada pondok sebelah kiri" prof Lee Shu Wan memberi petunjuk.


"Ok om" Albara menutup telepon.


Perjalanan sepuluh menit setelah menuruni lembah di kejauhan Albara melihat perkebunan kurma yang di katakan prof Lee Shu Wan. Albara memperlambat laju kenderaannya persis saat memasuki kebun kurma, di sebelah kiri jalan terlihat rumah dengan pekarangan yang cukup luas, rumah panggung terbuat dari kayu yang di tata dengan seni modern, dinding di lapis pelitur sehingga warna kayu tetlihat sangat hidup dan mengkilap.


Albara memarkir kendaraan di halaman rumah yang luas lalu turun, melihat keliling di sekitar rumah terlihat bersih dengan pohon kurma yang ditata membentuk taman. Di kiri rumah ada bangunan berfungsi sebagai gudang, di samping kanan ada bangunan seperti ruko tiga pintu dan di belakang rumah juga di tata seperti taman seluas satu hektar yang berakhir dengan telaga yang airnya sangat bening, dari telaga tersebut mengalirlah anak sungai yang membelah kebun karma.

__ADS_1


Saat Albara mendekati rumah sebuah pajero sport datang dari arah yang berlawanan, masuk dan parkir di samping mobil Albara. Seorang laki laki setengah baya turun di ikuti prof Lee Shu Wan dan seorang wanita setengah baya, mereka menghampiri Albara dan Budiman yang masih berdiri di depan rumah.


"Nak Bara kenalkan ini Pak Usman dan ibu Rini nyonya Usman pemilik rumah" prof Lee Shu Wan memperkenalkan tuan rumah.


"Ayo masuk dulu nak Bara" Ajak pak Usman.


"Untung nak Bara datangnya pagi, kalau siang pasti kita tidak ketemu" kata pak usman setelah mereka duduk.


"Om Lee Shu Wan pernah bilang kalau om usman mau jual kebun kurma nya. apa ya" tanya Albara langsung pada inti masalah.


"Benar Nak" kata pak usman.


"Nak Bara mau lihat dulu atau bagaimana?" tanya pak usman.


"Tidak usah saya sudah lihat dan sudah di kasih photo photonya oleh om Lee Shu Wan, kalau saya udah cocok tinggal yang punya kebun apa sudah benar benar rela melepas kebunnya" ucap Albara.


"ya om" kata Albara.


"Kalau deal dengan harga tawaran, kita bisa transaksi kapan saja" kata pak Usman.


"Ayo minum dan sarapan dulu" ibu Rini membawa kopi dan nasi goreng panas.


"Sekarang juga saya siap om" kata Albara.


"Ok mana ktp nak bara" pinta pak Usman lalu menyerahkan ktpnya pada bu Rini.

__ADS_1


"Ayo buatkan suratnya buk" pinta pak usman pada ibu Rini.


"Tulis di surat dijual 10 ha kebun kurma termasuk rumah serta dua mobil operasional sebuah hiluk dan satu L 300" kata pak usman.


Transfer pembayaran di lakukan lewat mobile banking, surat di tanda tangani pak usman dan Albara di setujui ibu Rini dua orang saksi prof Lee Shu Wan dan Budiman.


"Nak Bara kebun kurma saya jual" pak usman menjabat tangan Albara.


"Kebun kurma saya beli" kata Albara.


"Kami punya keperluan sangat penting di Jakarta, jadi hari ini juga kami akan berangkat ke Jakarta, sekarang rumah ini dan kebun kurma serta alat alat operasionalnya saya serahkan nak Bara" ucap pak usman menyerahkan kunci rumah, gudang, ruko dan kunci dua mobil yang terparkir di banngunan sebelah kiri rumah sekaligus sebagai gudang.


****


Tiga hari sudah Albara tinggal di kebunnya ditenani Budiman dia cukup terhibur hampir tiap malam mereka ke tempat prof Lee Shu Wan, mendapat wejangan yang terasa sangat pas dengan kondisi kejiwaan Albara yang sedang goncang saat di tinggalkan Mulan kekasihnya dan perlakuan masyarakat dan sanak familinya yang mengusirnya dari Kota Tapus.


Albara bisa merelakan Mulan asal Mulan menemukan orang yang bisa membahagiakannya, namun masalahnya perasaan Albara tentang Mulan sangat jauh dari kenyataan. Albara merasakan kalau Mulan sedang merindukannya, hampir nyata saat dia akan tidur bayangan Mulan memanggil manggil namanya.


Pagi ini Albara terlihat sangat sedih perasaannya seperti tidak berbohong kalau Mulan sedang membutuhkan Albara. Di temani budiman dia duduk di sebuah bangunan di sebelah kanan rumahnya yang sedang di bersihkan Budiman. Bangunan yang di rancang menyerupai Ruko tiga pintu untuk tempat penjualan kurma.


"Nanti budiman tinggal di bangunan ini aja bang" pinta Budiman.


"Terserah kamu aja, duduk sini bud abang mau tanya sesuatu. o ya apa yang terjadi dengan kakak Budiman dan Suaminya kayaknya no hp nya tidak aktif aktif?" tanya Albara saat Budiman duduk di sebelahnya.


"Kalau mereka mau mereka bisa kita ajak kesini" kata Albara

__ADS_1


Belum sempat budiman menjawab pertanyaan Albara, seorang ibu suku anak dalam beserta dua anaknya yang sebaya Budiman berdiri di depan mereka. Mereka membawa ember kecil meminta uang pada Albara. Ditangan Albara telah ada uang Rp 5.000. Kemudian di masukkan ke dalam ember yang dia bawa si ibu, dua anaknya juga mengacungkan embernya pada Akbara kembali Albara mengeluarkan uang lima ribu di masukkan ke masing masing ember kedua anak nya.


__ADS_2