
Albara melihat Khoiril berdiri hanya dalam jarak dua meter, dari tempat dia terkapar dalam keadaan sangat lemah. Albara pasrah tak mungkin lagi melarikan diri dari Khoiril, di simpannya panah api neraka di cincin pintak pinto lalu di kerahkannya tenaga dalamnya nekat untuk menerima pukulan Khoiril.
Albara kembali terbelalak saat pandangannya tertuju pada sosok lelaki setengah baya bergerak cepat dengan langkah ringan menuju Albara lalu berdiri di sisi yang berlawan menghadap Khoiril. Lelaki berbadan tegap mengenakan gamis berwarna hitam wajahnya tak dapat di lihat karena tertutup sapu tangan berwarna coklat.
"Tamatlah hidupku" pikir Albara saat menyadari klau lelaki setengah baya tersebut muncul dari arah di mana anak panahnya barusan di bidik kan.
Bulu roma Albara merinding dengan kehadiran lelaki tersebut yang terlihat melayang dengan tenang, tetapi tidak ada tanda tanda kalau dia sedang mengunakan tenaga sakti. Dalam pikiran Albara mempertanyakan bagaimana dia bisa terhindar dari panah api neraka yang di lepaskannya barusan. Albara melihat kalau lelaki itu menghilang saat di terjang panah api neraka, lalu tiba tiba muncul begitu saja, manusia atau hantu kah yang datang?, di pandanginya kaki lelaki setengah baya, yang berdiri setengah membelakanginya.
Albara agak lega setelah melihat kaki lelaki setengah baya tersebut menginjak lantai gedung.
"Dia manusia" guman Albara.
"Gelegarrrr... gelegarrrr" dua kali bunyi petir memecah suasana Ibukota, membuat kebisingan kota berhenti sejenak di kagetkan oleh suara petir yang keluar dari tangan Khoiril dan lelaki setengah baya di depan Albara.
"Duaar" dua kekuatan bertemu terjadi ledakan tak jauh dari Albara tergeletak.
Sekalipun Albara telah mengerahkan seluruh tenaga sakitnya melindungi tubuhnya tetap saja dia merasa kesetrum listrik tegangan tinggi, kali ini terasa lebih kuat dari semula. Kembali jantungnya berdetak kencang dadanya seperti mau meledak, dari berbagai titik di sekujur tubuhnya keluar percikan listrik berupa sinar kebiruan seperti kabel listrik yang sedang konslet.
"Kalian telah menarik perhatian semua orang dengan berkelahi di tengah kota. ayo kalian pada pulang, cari tempat yang sepi jangan pamer kekuatan di tengah kota" ujar lelaki setengah baya berdiri tenang berhadap hadapan dengan Khoiril.
"Kau telah membuat bayak kerusakan petir yang kau lepaskan telah menghantam beberapa gardu listrik, hingga lampu pada mati sepanjang jalan yang kalian lalui, belum lagi bayak gedung yang mengalami kerusakan karena hantaman petir yang kau lepaskan" lelaki setengah baya menuding Khoiril dengan telunjuknya.
Seperti Albara yang sangat cemas kalau lelaki setengah baya tersebut akan bertempur di pihak Khoiril. Sebaliknya Khoiril juga khawatir kalau lelaki setengah baya tersebut ada di pihak Albara. Dengan kekuatan penuh Khoiril menerjang kearah orang tua setengah baya dengan pukulan Guntur Petus Merobek Cakrawala.
"Orang tua enyahlah... jagan suka ikut campur urusan orang lain. Jangan cari perkara dengan Khoiril si pencuri sakti" teriak Khoiril
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain bagi laki laki setengah baya, selain kembali menerima pukulan Khoiril dengan jurus yang sama.
"Deeees, Deeess" terdengar desisaan nyaring seperti suara marcon terbang.
Detik berikutnya terdengar ledakan yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
"Duuaaaar" ledakan dahsyat, Khoiril terlempar hingga dua meter jatuh terduduk saat kedua tangan mereka saling beradu.
"Treet, treeeet, trrrret" terdengar seperti ada kondleting listrik, di sertai percikan sinar biru dari ubun ubun Khoiril.
Di sisi lain pria setengah baya masih berdiri dengan tenang tangannya kini bersedekap di depan dada.
"Ajian guntur petus merobek cakrawala, sungguh berbahaya sekali di tangan orang orang berwatak keji" kata lelaki setengah baya sambil mengatur napasnnya yang sesak.
"Namamu Khoiril ya berjuluk pencuri sakti!... hmmmm dari tadi saya perhatikan kamu memburu anak muda itu, pasti ada sesuatu yang ingin kau curi dari nya."
"Wah wah wah ini bukan pencurian tapi perampokan, tidak ada gunanya mencari sesuatu dengan menumpahkan darah orang apalagi menghilangkan nyawa orang lain, perbuatan seperti itu hanya akan mendatangkan murka Tuhan. Lebih baik mencari sesuatu dengan kucuran keringat sendiri kalau ada jodoh pasti akan datang sendiri" pria setengah baya tersebut menasehati Khoiril.
Khoiril masih duduk bersila di lantai puncak gedung, mencoba menyalurkan tenaga murninya untuk mengobati luka dalam akibat benturan dengan lelaki setengah baya barusan. Berlahan keadaannya normal kembali. Tapi akibat lain terasa di mana bahunya yang tergores anak panah api Neraka mulai panas menjalar kesekujur tubuhnya. Bagaimanapun dia berusaha menotok beberapa jalan darahnya tetap saja panas tak tertahankan menjalar ke sekujur tubuhnya.
"Kau terluka anak muda ... minumlah obat anti racun ini" orang tua setengah baya melemparkan sebuah pil ke arah Khoiril.
Tanpa pikir pikir Khoiril segera menerima dan menelannya. namun panas tubuhnya terasa seperti mendidihkan otaknya. Tak tahan lagi Khoiril segera melompat dari atas gedung.
"Albara urusan kita belum selesai, lain kali kita selesaikan" teriak Khoiril.
__ADS_1
"Biuuur" tubuh Khoiril jatuh di sebuah empang, air di sekitar luka Khoiril menggelegak mengepulkan uap panas. Khoiril seperti ikan klepek klepek terkadang menyelam mengusir hawa panas di bahunya, berenang kesana kemari akhirnya hilang dari penghlihatan dalam ke gelapan malam.
****
"Paman Adzriel " guman Albara lemah saat lelaki setengah baya berjongkok di depan Albara.
"Paman Adzriel..... " kembali Albara berucap, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak sanggup lagi melanjutkan kata katanya.
Pandangan Albara tiba tiba gelap jantungnya semakin berdebar kencang, Albara kembali terbaring tak sadarkan diri dari berbagai bagian tubuhnya seperti keluar percikan sinar biru di sertai suara letupan kecil.
Lelaki setengah baya yang di panggil Adzriel oleh Albara memeriksa beberapa titik di tubuh Albara.
"Hmmmmm semoga bisa di selamatkan" kata Adzriel pada dirinya sendiri saat merasakan denyut jantung Albara melemah.
Lelaki setengah baya terlihat mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ya lelaki ini memang Adzriel tukang obat keling yang sedang di cari Albara. Di tangannya terlihat sebutir pil berwarna coklat tua, lalu dimasukkan ke mulut Albara yang sudah terlihat susah bernafas.
"Albara ... Albara bangun sadarlah, telan mustika belut listrik ini" Adzriel terlihat panik.
Adzriel menekankan telunjuknya di beberapa titik memberikan kejutan listrik.
"Alhamdulillah" ucap Adzriel saat melihat Albara mengeliat lalu seperti menelan sesuatu.
"Engkau beruntung berjodoh dengan mustika belut listrik, mustika yang hanya ada di belut listrik yang berumur seribu tahun" gumannya seperti pada diri sendiri.
Tak berapa lama kemudian letupan listrik dari tubuh Albara mulai berkurang, dengan intensitas yang jauh berkurang. Epek obat terlihat sangat cepat, sesuai dengan fungsi mustika belut listrik adalah suatu yang bisa menetralkan arus listrik pada tubuh belut listrik, fungsi lainya adalah menyimpan tenaga listrik dalam jumlah dan tegangan yang sangat tinggi yang hanya ada pada belut listrik berumur lebih dari seribu tahun. Bahkan belut listrik yang sudah memiliki mustika ini akan mampu membunuh ikan hiu dan ikan paus yang memiliki berat puluhan ton.
__ADS_1