Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 132


__ADS_3

Seorang polisi menghentikan Doni, dan teman temannya di minta untuk tidak meninggalkan Universitas Kota Tapus lebeh dulu. Beberapa orang terlihat berlarian memasuki gerbang, napas mereka terengah engah dengan wajah pucat pasi mengexpresikan rasa takut yang luar biasa.


"Mas... Apa yang terjadi? kok pada ketakutan" tanya Aza pada salah seorang yang baru saja memasuki gerbang Universitas.


Dengan napas masih ngos ngosan, orang yang ditanya mencoba menenangkan diri.


"Ada polisi di terkam harimau saat mencoba memasuki hutan di samping Universitas Kota Tapus" jawab orang yang di tanya.


"Kapan kejadiannya bang?" tanya Manto juga penasaran.


"Baru saja, saat mereka mendengar ada lolongan dari dalam hutan, seperti lolongan binatang sedang di semblih, lolongan terdengar sangat dekat, lalu dua orang polisi mencoba memeriksa, malangnya saat memasuki hutan mereka kepergok dua ekor harimau sedang memangsa babi hutan, karena jarak mereka sangat dekat salah satu harimau yang merasa terganggu berbalik menyerang polisi terdekat" kata salah satu dari mereka yang baru saja datang.


"Melihat temannya di terkam polisi yang lainnya melepaskan tembakan, harimau langsung kabur tanpa melepaskan polisi dari gigitannya, melihat temannya di seret harimau makin jauh ke dalam hutan dan merasa tidak bisa mengejar karena terhalang semak belukar, si polisi kembali untuk minta bantuan"


"Sekarang petugas kepolisian dan tim BKSDA Kota Tapus sedang bersiap siap melakukan pencarian terhadap polisi yang baru saja di terkam harimau" salah satu dari mereka terus bercerita.


Semua orang berdatangan mengerumuninya ingin mendengar cerita tentang kejadian tersebut. Doni dan Manto saling pandang mereka seperti miliki perasaan yang sama, sama sama mencemaskan Albara dan Mulan yang juga memasuki Hutan di samping Universitas Kota Tapus.


"Laila, Aza dan Lena kalian segera aja kerumah pak sekda biar Doni dan Manto ikut dengan tim memasuki hutan" ucap Manto.


"Sampaikan juga pada buk Susanti kalau kami sedang mencoba mencari keberadaan Albara dan Mulan" sambung Doni.


Setelah mereka menemui petugas yang sedang melakukan pengamanan, Doni dan Manto di izinkan menyertai tim penyelamat memasuki hutan, sementara Aza, Laila dan Lena di bolehkan meninggalkan lokasi untuk melaporkan kejadian pada pak Sekda dan ibu Susanti di kediamanmya.


****

__ADS_1


Sehabis makan siang seorang penduduk desa di pinggir Kota Tapus terlihat menghampiri ketua tim BKSDA yang sedang berkemas untuk memasuki hutan, pemimpin tim penyelamat memperhatikan orang tua tersebut sepertinya ragu apakah orang tua tersebut juga akan menyertai tim mereka.


"Halo pak tua.. ada yang bisa saya bantu?" tanya ketua tim.


Orang tua yang sepertinya sudah memasuki usia renta, tak mungkin dapat di andalkan untuk mengikuti tim penyelamat. Seluruh orang termasuk Doni dan Manto juga meragukan kemampuan pak tua tersebut. Mendapat pertanyaan ketua tim orang tua tersebut berusaha tersenyum seperti mengerti akan apa yang di cemaskan ketua tim dan angggotanya terhadap dirinya.


"Saya yang tua bernama Bukhari, diminta pak Sekda menyertai tim penyelamat, khususnya mendampingi Doni dan Manto untuk mencari Mulan putrinya" ucap pak Bukhari singkat.


Ketua tim Penyelamat, Doni dan Manto agak kaget mendengar pengakuan pak Bukhari, tetapi karena yang mengutus pak tua tersebut adalah pak Sekda, maka keraguan di antara mereka hilang dan ketua tim pun mengizin pak Bukhari menyertai tim dan bergabung dengan Doni, Manto dan beberapa relawan lainnya.


"Pak tua saya Doni dan ini Manto, benarkah pak tua di utus Sekda Kota Tapus untuk mendampingi kami?" tanya Doni.


"Iya nak.. Pak Sekda dapat laporan dari teman kalian kalau kalian juga ingin mencari anaknya Mulan dan Albara di hutan yang angker, karena kuatir dengan keselamatan kalian pak sekda minta bapak menyertai kalian" ucapnya.


"Saya lahir di desa di pinggir hutan ini di besarkan di sekitar sini, selama lebih dari tujuh puluh tahun menghabiskan waktu di sini" ucapnya meyakinkan rombongan.


"Dari dulu hutan ini sangat angker orang tua tua dulunya selalu melarang kami untuk memasuki hutan ini, jika penduduk punya keperluan di hutan ini mereka harus melakukan ritual bakar kemenyan, dan harus patuh pada pantang larang selama dalam hutan" ucap pak Bukhari mengingatkan.


Tim BKSDA mulai bergerak di ikuti anggota kepolisian lalu tim relawan di mana Doni, Manto, pak Bukhari dan relawan lainnya berada ikut memasuki hutan.


"Kenapa begitu kek?" tanya Manto setelah mereka mulai nenelusuri hutan.


"Menurut orang tua tua dulu, hutan ini berpebenghuni berbagai mahluk gaib, Ada sejenis makhluk Bunian, orang pandak (manusia kerdil), hantu kasar, siluman harimau dan lain lain" kata pak Bukhari.


"Dulu jika penduduk di sini ingin memasuki hutan ini mereka melakukan ritual memanggil roh nenek moyang, untuk di dampingi selama melakukan perjalanan" kakek Bukhari terus bercerita.

__ADS_1


Tim terus melakukan penelusuran mengikuti jejak darah yang berserakan, tim mulai berjalan hati hati seolah .harimau sudah ada di depan mereka. Ceceran darah makin banyak di temukan di tanah bahkan di dedaunan dan pohon pohon yang mereka lalui.


Tak lama kemudian mereka menemukan bangkai babi hutan yang sangat besar, tergeletak lemas tak bernyawa lagi.


"Tunggu ... " pak Bukhari berteriak saat tim BKSDA mulai bersiap memasang perangkap.


"Bangkai babinya jangan di langkahi" kata pak Bukhari.


"Aduh sudah terlanjur di langkahi, bagaimana pak tua?" kata salah seorang tim BKSDA yang harus melompati bangkai babi yang menghalangi jalannya.


"Ya percuma kalian bikin perangkap mengunakan bangkai babi ini, tapi kalau tidak percaya coba saja, sampai kapanpun harimau tak kan pernah memasuki perangkap kalian" ucap pak Bukhari.


Tapi tim BKSDA tidak begitu peduli dengan ucapan pak Bukhari terus dengan rencana mereka memasang perangkap mengunakan umpan bangkai babi bekas mangsa harimau yang baru saja mereka temukan.


Sebagian tim BKSDA mulai memasang perangkap, sebagian lainnya bersama tim meneruskan perjalanan menelusuri kemana jejak harimau pergi. Di tanah sudah tak terlihat ceceran darah tapi bekas sesuatu di seret terlihat jelas di atas tanah yang lembab.


Berjam jam mereka mengikuti jejak harimau terkadang menuruni bukit, melintasi sungai, hingga mereka menemukan sebuah pohon besar yang tumbang menghalangi jalan. Terlihat jejak harimau banyak sekali mencoba melewati pohon.


"Sebentar" kata pak Bukhari menghentikan langkah tim penyelamat.


Pak Bukhari melangkah menuju pohon roboh yang menghalangi jalan terlihat bekas harimau hilir mudik, hingga tanah bawah sudah berlumpur dan mulai tergenang air dari rembesan air dari tebing berbatu di dekatnya. Pak Bukhari mundur saat memperhatikan air menetes dari bekas jejak harimau di atas batang yang tumbang tersebut.


"Sepertinya harimau masih ada di balik pohon ini, tapi mangsanya tidak di bawa ke sebelah, mungkin terlalu berat untuk di bawa melewati pohon ini" kata pak Bukhari.


Pak Bukhari mengambil sebongkah batu sebesar betis orang dewasa lalu di lemparkan ke sebelah pohon tumbang menghalangi jalan tepat di mana jejak harimau terlihat baru saja melewati pohon.

__ADS_1


__ADS_2