
"Terima kasih Albara, nanti Laila pikirkan" ucap Laila singkat.
Budiman kembali muncul menghampiri Albara dengan langkah tergesa gesa.
"Kak Bara tante Vania mau pinjam Yaris kakak, ini kunci pajero tante Vania kalau kak Bara ada perlu gunakan aja kata tante Vania" ucap Budiman menyerahkan kunci mobil tante Vania.
"Om Lee Shu Wan sudah di bawakan sarapannya belum?" tanya Albara.
"Udah kak, tadi mbak Vania sudah bawakan" ucap Budiman.
"Lai ikut Bara ke tempat om Lee Shu Wan, ya" pinta Albara.
Albara berniat membawa Laila ke tempat prof Lee Shu Wan untuk mendapatkan pencerahan.
"hmmm uhhhh" Laila cuma mengangguk setuju.
"Doni, Manto kalian Albara tinggalkan sebentar ya, Albara dan Laila mau minta pencerahan prof Lee Shu Wan" kata Albara.
"Ok Siiiip" kata Doni yang sudah pernah ikut mendapat pencerahan dari prof Lee Shu Wan, ikut merasa senang jika Laila diberi kesempatan mendapatkan pencerahan prof Lee Shu Wan juga.
****
"Masuk nak Bara" kata prof Lee Shu Wan saat Albara dan Laila mengunjunginya.
"Dirumah aja om?" tanya Albara.
"Sekarang di teras" kata prof Lee Shu Wan.
"Maksud Albara, apa kami tidak mengganggu kegiatan om Lee Shu Wan?" tanya Albara.
"Tidak nak Bara, silahkan duduk" kata prof Lee Shu Wan.
__ADS_1
"eh kamu sudah punya pacar baru rupanya, siapa namanya, ada yang bisa om bantu? asal jangan di minta jadi pebghulu aja" tanya prof Lee Shu Wan.
"Ini teman kecil Albara om, namanya Laila" kata Albara lalu duduk di ikuti Laila.
"Ooo begitu" kata prof Lee Shu Wan.
"Laila baru saja kehilangan tunangannya tiga bulan yang lewat, jadi Albara ajak ketempat om untuk di beri pencerahan" pinta Albara lalu menceritakan masalah yang sedang di alami Laila.
Peof Lee Shu Wan memperhatikan Laila dengan seksama, seolah ingin mengetahui apa yang di rasakan oleh Laila.
"Masalah jodoh itu masalah takdir, tapi baiklah efek dari takdir sangat jelas berpengaruh terhadap kebatinan seseorang" prof Lee Shu Wan membuka pembicaraannya.
"Cinta dan cita cita merupakan kebutuhan batin seseorang, cinta dan cita cita juga yang membuat seseorang bahagia atau menderita" kata prof Lee Shu Wan.
"Kalau Cinta adalah rasa suka terhadap sesuatu, maka cita cita berhubungan dengan keinginan memiliki sesuatu yang dia sukai kan?" tanya prof Lee Shu Wan pada Laila.
"Ya om" jawab Laila singkat.
"Secara komplek bisa kira simpulkan kalau takdirlah yang jadi penyebab aktifitas hidup mahluk, atau mahluk lah yang menjadi objek dari takdir sebaliknya aktifitas mahluk hidup juga akan berperan sebagai subjek terhadap takdir berikutnya" ucap prof Lee shu Wan.
"Sekalipun aktifitas mahluk berperan dalam takdir, tapi dia tidak akan mampu mengendalikan takdir, contohnya dalam hal rezeki, jodoh dan kematian" ucap prof Lee Shu wan.
"Nah hubungannya dengan kalian sepertinya sedang di permainkan takdir, om mengerti bagaimana sulitnya menunggu hal yang tak pasti seperti yang nak Laila alami. Orang yang hilang di katakan masih hidup tak ada kabar berita, kalau sudah mati di mana kuburnya. Tentu harapan terkadang masih sering muncul kan?" tanya prof Lee Shu Wan.
"iya om" jawab Laila.
"Dalam kajian Ilmu ini dinamakan fitrah betupa harapan, perasaan senang atau susah, semua manusia mengalaminya bahkan orang suci dan para Nabi juga mengalaminya, di sinilah timbul berbagai ilmu terapan kebatinan" kata prof Lee Shu Wan.
"Umumnya yang banyak di anut dalam masalah ini adakah ilmu terapan yang bersumber dari agama, sehingga terkesan mistis. Agama menyatakan manusia tidak di balas karena fitrahnya tapi mereka di balas karena amal perbuatan nya" ujar prof Lee Shu Wan
"Om mencoba mengutip beberapa amalan kebatinan yang bersumber dari agama" prof Lee Shu Wan mengambil dua buah buku lalu di berikan pada Albara dan Laila.
__ADS_1
"Coba aja baca semoga ada yang cocok dengan kondisi kalian" kata prof Lee Shu Wan.
Laila membaca buku tersebut setelah membaca beberapa halaman dadanya mulai terasa lapang, mulai timbul keyakinan dan harapannya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. seluruh penderitaannya yang tadi terasa berat sekarang terasa enteng. Seolah olah Tuhan bersamanya, seolah olah tuhan akan membantu semua permasalahan hidupnya.
Laila berhenti membaca saat membaca sebuah kalimat "Untuk urusan yang sangat rumit dan urusan masa depan yang di luar logika maka gunakan lah keyakinan".
Kalimat berikutnya berbunyi "Yakinlah kalau manusia di ciptakan untuk sesuatu yang sangat mulia, tawakkallah pada yang menciptakan manusia, yakinlah kalau sang pencipta tidak akan membiarkan ciptaannya tanpa dia pelihara".
"Bagus bangat bukunya prof... Laila sangat membutuhkannya, berapa Laila harus bayar untuk sebuah buku?" tanya Laila.
"haa Haha ha" prof Lee Shu Wan tertawa kesenangan.
"Tidak usah bayar jika nak Laila membutuhkan bawa saja, dengan syarat jangan di pinjamkan, artinya jika ada yang perlu mereka harus photo copy, bagaimana?" tanya prof Lee Shu Wan.
"Baik prof Laila ingat saratnya, terima kasih banyak" Laila sudah mulai terlihat ceria, harapan hidup baru sudah terpancar dari wajahnya.
"Kamu bagaimana Bara, juga butuh?" tanya prof Lee Shu Wan.
"Sangat butuh om, tapi di kebon kan gak ada photo copy, jadi Albara pinjam satu he he?" kata Albara.
"Kalau untuk kondisi seperti itu boleh"
"om lihat kalian senasip, kalian saling peduli satu sama lain, kalau saran om jika kalian sepakat alangkah bagusnya persahabatan kalian di lanjutkan sebagai ikatan keluarga" kata prof Lee Shu Wan.
"Kalian terlihat serasi sekali, kalau masalah cinta kadang timbul sendiri seiring berjalannya waktu, yang penting kalian sudah saling bisa menyenangkan sekalipun sebagai teman. Jika kalian berkeluarga setidaknya kalian tidak akan saling benci" saran prof Lee Shu Wan.
"Terima kasih om, saran om akan kami coba pertimbangkan, ya kan Lai" ucap Albara.
Laila menatap Albara seperti ingin mempertanyakan maksud ucapan Albara, sementara Albara yang merasa di tatap menundukkan muka tak kuat melihat mata Laila yang seakan ingin menusuk jantungnya.
"Bolehlah kami pertimbangkan, terima kasih atas saran om Lee Shu Wan" kata Laila.
__ADS_1
"Om dan tante Vina juga sama seperti kalian, kami hanyalah sahabat sepermainan. Kami di jodohkan orang tua saat kami kuliah padahal saat itu tante Vina dan om sama sama punya pacar yang saling mencintai, awalnya memang terasa hampa berumah tangga tanpa cinta tapi kami selalu peduli satu sama lain. Akhirnya pelan pelan rasa cinta antara kami tumbuh sendirinya" ucap prof Lee Shu Wan.