Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 171


__ADS_3

Melihat beberapa tombak yang menancap di pohon besar melesat masuk hingga ke tangkainya, Sadarlah Albara kalau sebagian tombak tersebut di lepaskan oleh orang berilmu tinggi.


Mendengar suara gaduh pertempuran makin lama makin menjauh, membuat Albara tak peduli lagi dengan resiko yang menanti dalam goa. Apakah musuh yang selalu mengintai sekalipun dia akan tewas, dengan tekat yang kuat Albara kembali melangkah memasuki goa.


"Oooh gelap sekali, mungkin ini alasan Devina untuk melarangnya masuk" pikir Albara.


Albara mencoba menggunakan pendengaran dan naluri silatnya, terus memasuki goa yang gelap, tentu saja jalan Albara tidak seleluasa seperti di alam bebas, disamping itu dia juga harus berhati hati terhadap jebakan jebakan musuh.


Albara menghentikan langkahnya dalam keadaan siaga penuh, saat menangkap adanya gerakan ringan dan cepat di belakangnya.


"Anak muda ... berhenti dulu" ucap seseorang dengan suara berat.


Seorang laki kaki setengah baya telah berdiri di belakangnya. Dalam keadaan pencahayaan remang remang Albara melihat laki laki dengan tubuh tegap yang entah dari mana datangnya sudah berdiri tak jauh di belakang Albara.


"Siapa kah paman? kenapa menghentikan langkah ku?" tanya Albara.


Sikapnya yang familiar membuat Albara agak lega sekalipun demikian tetap saja dia berlaku waspada, terbersit dalam pikiran albara, bisa saja terkadang penjahat malah terlihat lebih sopan di banding ustadz.


"Anak muda... saya Velon Romir mengucapkan terima kasih telah membuka segel mantra kutukan yang telah mengurung saya di sini" ucap Velon Romir sambil berlutut.


"Tidak perlu sungkan paman... saya tidak merasa membuka segel kutukan yang berlaku pada paman" ucap Albara kikuk.


Velon Romir berdiri lebih mendekat ke arah Albara


"Anak muda ... Siapa namamu.?" tanya Velon Romir.


"Oooo ya... kenalkan nama saya Albara" jawab Albara singkat.


"Albara memang kamu tak akan merasa, tapi suara adzan mu tadi telah menghancurkan segel mantra bebatuan yang memenuhi mulut goa, dan menghancurkan segel matra yang mengendalikan telaga sakti di mulut goa" kata Velon Romir.

__ADS_1


"Paman sudah lima tahun menerima kutukan dari Verilinde seorang ahli sihir dari dunia Bunian, tertimbun batu batu di dalam goa yang di jaga telaga sakti yang akan mengusir siapa saja yang berusaha mendekat, kutukan itu hanya akan hilang saat seseorang mengumandangkan suara adzan di depan telaga sakti" ucap Velon Romir.


"Kau hendak kemanakah memasuki goa harimau?" tanya Velon Romir penasaran.


Melihat sikap Velon Romir yang bersahabat Albara pun berterus terang mengatakan maksudnya.


"Saya kehilangan teman saya.. tadi saya dengar suaranya dari dalam goa" ucap Albara jujur.


"Hmmmmm" Velon Romir mengangguk mengerti.


"Berbahaya sekali seorang manusia memasuki wilayah cindaku, apalagi dia seorang wanita, saya juga dengar suaranya sedang bertempur" ucap Velon Romir prihatin.


"Ayo ikuti saya" ucap Velon Romir mengambil jalan memasuki sebuah lorong goa di kiri mereka.


Goa yang mereka masuki terlihat kecil hanya bisa di masuki oleh orang dewasa dengan berjalan membungkukan badan. Akan tetapi di dalamnya lebar sekali membentuk sebuah terowongan yang menbus sebuah bukit dan keluar pada sisi bukit sebelahnya.


"Paman mereka bukan manusia" ucap Albara seperti ragu untuk mendekat.


"Meteka juga manusia, tapi mereka itu sebangsa Cindaku manusia setengah harimau, mereka tinggal dan menguasai wilayah ini semenjak ribuan tahun lalu" ucap Velon Romir


Paman Velon Romir terus membawa Albara mendekati arena pertempuran.


"Nenek moyang mereka dulunya adakah sepasang Pendekar yang menguasai ilmu silat tinggi. Dengan melakukan ritual memakan hati harimau disertai melakukan pertapaan panjang sehingga membuat dirinya bisa merubah wujudnya menjadi siluman harimau, yang pasti dalam keahlian mereka lebih hebat dari manusia dan lebih unggul dari harimau" cerita paman Velon Romir.


Pelon Romir menarik napas dalam saat melanjutkan ceritanya.


"Dikisahkan kenapa mereka sampai tinggal di sini yaitu karena mereka melakukan kesalahan yang sangat patal. Juga dikisahkan pada waktu itu pendekar tersebut memiliki adik yang sedang hamil muda. Seorang wanita muda mungkin seumuran teman Albara itu" ucap Velon Romir menunjuk ke arah Devina.


"Satu-satunya adik yang dia sayangi sehingga setiap hari setiap bertemu adiknya dia memberi nasehat pada adiknya supaya tidak keluar saat senja hari. Tapi pada suatu hari sang adik memaksakan diri keluar untuk mengambil daun waru di pinggir Desa, yang akan di gunakan untuk membungkus bekal suaminya yang akan bepergian saat subuh nanti"

__ADS_1


"Demikian halnya dengan sepasang pendekar tersebut memiliki kebiasaan keluar dengan ujud harimau saat senja hari. Melihat adiknya sedang nemetik daun waru dalam pandangan mereka adalah seekor rusa gemuk yang sedang merumput, maka seperti berlomba si pendekar dan istrinya menerkam adik kesayangan nya hingga tewas di tempat. Masyarakat yang melihat kejadian sangat marah segera mengejar mereka lalu mengusir mereka dari desa mereka"


"Semenjak itu mereka mengasingkan diri menghuni goa harimau dan beranak pinak di sini. mereka bersumpah tidak akan mengganggu manusia, jika itu terjadi maka kutukan sumpah mereka akan menimpa mereka dan keturunan mereka" ucap paman Velon.


"Mereka yang mampu berubah menjadi harimau adalah mereka yang telah memiliki bakat spiritual dan berdarah murni, setiap anak mereka yang lahir akan di beri hati harimau pula"


Paman Velon membawa Albara lebih cepat, saat melihat Devina sudah kewalahan menghadapi puluhan harimau jadi jadian yang keahlian bela diri mereka sudah tak bisa di pandang enteng, jika menghadapi lima dari mereka mungkin Devina masih bisa menang tapi menghadapi puluhan bahkan ratusan harimau jejadian tentu saja devina jadi kewalahan.


"Kita harus membantu mereka" kata paman Velon menunjuk seorang lagi yang hanya bisa melolong mita tolong dalam ketakutan.


"Gubernur Sulaiman" ucap Albara saat melihat seseorang yang berteriak minta tolong.


Melihat Albara dan Velon Romir berlari mendekati mereka, maka salah satu manusia harimau melemparkan tubuh Gubernur Sulaiman pada temannya.


"Amankan tawanan hingga ratu Ledisya menemui kaisar, dia adalah jaminan supaya ratu Ledisya menepati janjinya" ucapnya.


Devina terus mengamuk sehingga sudah tidak terhitung jumlah dari cindaku yang terluka terkena pukulan dan cakaranya. Sekalipun demikian Devina juga tak luput dari cakaran cindaku, tubuhnya sudah terlihat lelah sekali.


"Kita Tak mungkin menang melawan mereka sebanyak ini, Albara bawa teman mu melarikan diri biar paman menghalangi mereka" ucap paman Velon.


Albara segera membantu devina yang sudah kelelahan, setiap yang mendekat pasti terpenting terkena pukulannya.


"Dev ayo kita mundur, kalau devina masih marah, maka marah lah pada kak Bara, kenapa harus bertempur dengan mereka" ucap Albara.


Devina yang sudah kewalahan melihat musuh tak habis habisnya menjadi jerih, sekalipun mereka bisa menang tatap saja akan banyak sekali korban jiwa. Jiwa Devina juga merasa tak tega membunuhi mereka, bagaimanapun dia merasa sama sama memiliki gen harimau jadi mereka seharusnya segolongan.


"Tapi Gubernur Sulaiman masih di tawan meteka kak" Devina ikut mundur sekalipun dengan berat hati.


Sementara itu para cendaku tidak akan begitu saja melepaskan Devina dan Albara pergi dari arena pertempuran.

__ADS_1


__ADS_2