Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)

Legenda Cincin Pintak Pinto (CINCIN PERBENDAHARAAN RAJA SULAIMAN)
Episode 93


__ADS_3

Puluhan pacat menyerbu kaki mereka saat menginjak tanah, mengerumuni sepatu sepatu mereka. Pacat yang sangat haus darah mencoba menaiki sepatu mencari celah mencapai kulit mereka.


"Aiiiiihhhhh geli" teriak Claira saat mencoba menyikirkan seekor pacat dari sepatunya, tapi bukannya terlempar dari sepatu Claira malah berbalik menempel pada jari telunjuk kirinya.


"Aaaaauuuu, Aaaaauuu, Aaaaaauuu" Claira berteriak sangat kencang, seluruh tubuhnya gemetar, bulu romanya pada berdiri saat dia mencoba menarik seekor pacat di telunjuk kirinya. Sang pacat yang elastis dan licin tetap menempel pada jarinya, Claira seperti menarik karet yang berlendir yang telah melekat menyatu dengan jari telunjuknya.


Mereka semua kaget, Riki yang berada di depan sebagai perintis jalan berbalik menghampiri Claira.


"Miss Claira kenapa?" tanya Riki.


"Claira tidak mampu membuang mahluk menjijikan dari jari Claira" ujar Claira memperlihatkan telunjuknya dimana seekor pacat (lintah) sebesar kelingking nempel.


"Sini saya buang" ujar Julian yang berdiri di samping Claira.


Julian mencoba menarik pacat di telunjuk Claira dengan sekuat tenaga, pacat terlihat memanjang hingga sejengkal lalu terlepas dari tangan julian tapi masih tetap nempel di telunjuk Claira.


"Aaaauuuu " Julian meraung kegelian bercampur takut.


"Mahluk yang sangat kanji, suka nempel" kata Katerin.


Riki mengeluarkan autan lotion lalu mengoleskan di bagian telunjuk Claira, yang di tempeli pacat. tidak butuh waktu lama sang pacat jatuh sendiri dari telunjuk Claira yang mengucurkan darah.


"Bekas gigitan pacat biasanya memiliki racun anti pembeku darah, kalau tidak di balut darah akan terus mengalir" riki mengeluarkan kain kasa dan kapas lalu membalut telunjuk Claira.


"Thanks you Riki, kamu benar benar lelaki yang bisa di andalkan" Claira memeluk dan mengecup kening Riki.


Perjalanan mereka lanjutkan Riki memilih rute aliran sungai, yang agak bebas dari duri dan onak yang merintangi. Mereka menuju hulu sungai tetap saja perjalanan dangat sulit harus menempuh bebatuan yang licin dan terjal. Riki mulai gelisah saat melihat banyak sekali jejak harimau, tapi karena tak ada jalan lain Riki tetap mengikuti jalur yang sepertinya jalan raya bagi semua binatang yang ada di hutan tersebut.


Saat tengah hari mereka sampai di sebuah tempat di pinggir sungai yang agak lebar di mana sisi seberang mereka terlihat pulau yang cukup lebar, hanya berisi pasir dan koral. Saat tengah hari cahaya matahari bisa menbus hutan menyinari pulau di pinggir sungai tersebut. Tempat yang enak untuk menikmati cahaya mata hari setelah dari pagi berada di bawah teduhnya hutan yang lembab.

__ADS_1


"Kita istirahat makan siang di sebrang sungai, kelihatannya sangat bagus untuk tempat istirahat" ujar Riki menunjukan tempat di sebrang mereka.


"Saya juga merasa lebih nyaman ke sisi sungai sebelah" jawab Ardi yang seperti ketakutan juga, lalu segera menyebrangi sungai di ikuti yang lainnya.


"Sepertinya di sini baru saja ada banyak orang habis istirahat, bekas jejak mereka ramai sekali" kata Alan menunjukkan jejak kaki yang masih basah di pasir dan bebatuan.


Saat yang lain merasa lega dengan adanya jejak manusia yang baru saja meninggalkan tempat tersebut, sebaliknya Riki semakin cemas di keluarkannya sebatang rokok lalu di nyalakan untuk mengusir rasa takutnya.


"Pak Ardi batu kumpulkan ranting kering untuk membuat api sebagai pemanas" pinta Riki.


Sambil menambah kayu bakar api mulai menyala menghembuskan asap yang di bawa angin ke mana mana.


"Kata orang tua tua kalau di hutan kita bakar sesuatu, maka asap akan membuat binatang pada menghindar" Riki kembali menghisap rokoknya.


"Mister Riki... saya cuman merasa aneh di sisi sungai sebelah kiri saya lihat banyak sekali jejak hewan buas, tetapi di sisi lainnya banyak jejak manusia bahkan tidak satupun jejak binatang buas terlihat" kini Alan yang membuka permasalahan.


"Iya benar jejak jejak manusia yang ada di sini sepertinya juga dari arah sisi sebelah" Pak Ardi ikut bicara.


"Yang jelas kita istirahat, makan yang mau sholat sholat dulu, sebelum melanjutkan perjalanan" ujar Riki.


Mereka makan dengan pikiran masing masing, hingga selesai makan mereka tak banyak bicara. Setelah cukup istirahat Katerin sebagai ketua tim sepertinya sudah sangat ingin meninggalkan, tempat tersebut.


"Riki are you ready?" tanya Katerin.


"Yes ready" ucap Riki.


"Ayo kita pergi, sepertinya titik koordinat yang kita tuju ada di puncak sebelah kiri sungai" kata Katerin.


Riki kembali memimpin rombongan menghulukan sungai jejak kaki masih terlihat di tanah yang lembab, setelah kira kira sepuluh menit berjalan jejak jejak kaki terlihat menyeberangi sungai, Riki kembali menyulut rokoknya ikut menyebrangi sungai. Kembali Riki kaget memperhatikan di disisi sungai sebelah jejak harimau yang masih basah pertanda mereka baru saja keluar dari sungai.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada jejak manusia? kemana mereka pergi padahal sangat jelas jejak mereka menuju ke sini" pikir Riki sambil menghembuskan asap rokoknya.


Riki kembali merinding ketakutan saat ingat sebuah cerita rakyat kalau dulu di hutan ini ada perkampungan manusia jadi jadian. Saat mereka menyeberangi sungai mereka akan berubah menjadi harimau, sebaliknya jika mereka kembali menyeberangi sungai kembali ujudnya berubah lagi jadi manusia. Segera saja Riki mengambil jalur yang berbeda dengan jalur yang tidak di lalui mereka.


"Kita akan langsung mendaki ke arah puncak bukit" Riki mengeluarkan parang nya metintis jalur baru bagi mereka.


"Lakukan yang terbaik menurut mister Riki" kata Katerin.


Perjalanan mereka menjadi lambat karena harus menyikirkan pohon pohon kecil, onak dan duri yang menghalangi. setelah dua jam perjalanan Claira yang agak gemuk mulai terlihat kesusahan mendaki bukit.


"Kamu lelah Claira?" tanya Julian yang selalu berjalan di dekat Claira.


"Ya saya sangat lelah, asal kalian tidak berlari, saya pasti tidak ketinggalan" ucap Claira.


Saat Claira semakin payah julian mengecup keningnya, berharap Claira bersemangat lagi. Walau dengan susah payah Claira masih bisa mengikuti rombongan. Jam empat sore mereka akhirnya berhasil menuju puncak, Katerin mengeluarkan jps satelit lalu memindai tempat yang mereka tuju.


"Sepertinya pilar pertama tidak terlalu jauh dari sini" ujar Katerin.


Benar Saja tak berapa jauh mereka berjalan menelusuri arah kompas yang di tunjukkan Katerin ke arah barat daya. mereka melihat tempat yang datar dan luas, sekalipun sudah berlumut tapi masih terlihat jelas kalau dataran tersebut di buat manusia.


"Yes kita berhasil" ujar Katerin kegiragan lalu medekati puing sebuah bangunan yang menempel di tebing.


Sebuah bangunan terbuat dari beton yang sangat kuat, berukuran Dua kali tiga meter dengan bagian belakang masuk dan menempel di tebing, di bagian depan terlihat tembok beton yang sudah bolong dengan puing puing berserakan di sekitarnya.


"Hmmm Tapi bangunan ini seperti bukan hancur karena lapuk, tapi di bongkar seseorang dengan paksa" kata Katerin memeriksa puing puing yang masih terlihat baru.


Mereka memutuskan bermalam di tempat tersebut, saat yang lain memasang tenda Riki mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun.


"Aaaaauuuuuu, Aaaaaauuuuu, Aaaaauuuu" Sayup kedengeran lolong serigala bersahut sahutan, membuat bulu kuduk Riki berdiri.

__ADS_1


__ADS_2