
Pak tua Adzriel terus berorasi, semua penonton makin kerasan mendengarkan nya.
"Rasa takut akan menurunkan imun tubuh menyebabkan ketegangan, darah tinggi dan struk"
"Ini zaman .... zaman corona bapak bapak... saudara saudara. Virus corona sangt berbahaya tapi rasa takutnya lebih berbahanya, karena rasa takut corona sanak famili jadi renggang bahkan ada suami istri yang bercerai"
"Coba saja bapak selpi dalam keramayan seperti ini lalu kirim ke istri anda, maka saat pulang siap siap di usir istri, dengan berbagai dalil"
"Silahkan bapak pergi dan jangan kembali, jika masih kasian anak dan istri. kata pak ustadz haram membahayakan anak dan istri"
"Itulah perlunya jati diri supaya tidak mudah di pengaruhi orang orang, dan tidak gampang di takut takuti keadaan"
"Jati diri yang bagaimana yang harus kita cari?"
"Ayah saya Selalu berpesan mempedomani jati diri yang benar, yang tak lapuk tertimpa hujan tak lekang di terpa panas, yang di asak mati jika dianggu layu itulah Adat bersandi sarak, sarak bersandi kitabullah itulah jati diri yang ber pedoman pada Alquran dan hadist."
"Hidup dalam Negeri harus pandai tapi jangan lah suka mengait untuk kepentingan pribadi hak orang jangan di ganggu".
"Hidup dalam Negeri harus lihai menguasai keahlian tapi jangan menyombongkan diri. Di mana orang berkerumun disitu bertepuk dada".
"Hidup dalam negeri juga harus punya senjata sakti tapi jangan mentang mentang, ke ulu atau ke ilir berkecak lengan, asal ke senggol, orang di tendang".
"Tapi jadilah orang pandai yang mempertahankan yang hak menegakkan kebenaran".
"Bapak bapak ... saudara saudara umur sepuluh tahun ayah saya meninggalkan saya setelah mengajarkan keahliannya meracik obat"
"Ini lah si raja obat memperbaiki organ yang rusak, darah tinggi dan struk, penawar berbagai jenis bisa dan racun"
"untuk yang belanja cukup dua puluh ribu perbutir." pak tua Adzriel berkeliling menawarkan obatnya.
Albara merasa mengenal keris si raja obat milik pak tua Adzriel. Ya keris yang dulu di berikan datuk Wirya pada Ratu Mas untuk di serahkan pada Depati Koto Tapus, Albara juga mengenal obat yang di jual pak tua Adzriel merupakan obat yang dulu pernah dia makan saat keracunan.
__ADS_1
Tidak salah lagi obat yang di jual pak tua Adzriel merupakan ramuan obat kono yang sangat mujarab. Merupakan ramuan dari tabib Ajaib dan di sempurakan oleh Ratu Mas pewaris ilmunya.
Beberapa orang mulai belanja, obat pazriel laris manis, hingga setelah hari hampir zuhur tak satupun lagi yang belanja. Pak tua Adzriel memandang para penonton yang masih tersisa.
"Ayo bapak saatnya obat saya lelang, cuma untuk yang merasa butuh tigal sebutkan angka yang anda rasa pantas dengan obat saya" pak tua Adzriel berkeliling menatap penonton sambil membawa toples penuh pil obat ajaib.
"Lima ribu"
"Sepuluh ribu"
Hanya ada dua penonton yang bicara, pak tua Adzriel memberikan pilnya pada dua penonton yang menawar masing masing satu butir.
"Ayo ... siapa lagi?" tanya pak tua Adzriel
"Seratus juta untuk semua isi toples" ucap Albara menawar.
Pak tua Adzriel mendekati Albara di ikuti semua mata penonton.
"Sangat yakin pak tua" kata Albara.
"Tapi saya hanya bisa memberikan maksimal lima puluh butir untuk satu pembeli" kata pak tua Adzriel.
"Ya seratus juta untuk lima puluh butir" jawab Albara.
Pak tua Azril mengemas lima puluh butir obat ajaib kedalam plastik lalu di serahkan pada Albara.
"Pak tua setelah solat zuhur nanti saya ingin bicara dengan pak tua" kata Albara sambil membayar seratus juta pada pak tua Adzriel.
"Ya untuk pelanggan terbaik, insyaallah saya akan menunggu" kata pak tua Adzriel.
****
__ADS_1
Habis sholat dzuhur Albara kembali ke tempat pak tua Adzriel berjualan, tapi alangkah kecewanya Albara saat melihat pak tua Adzriel tidak ada lagi di tempat. Menurut keterangan orang orang di tempat kejadian, mengatakan kalau pak tua Adzriel di bawa ke kantor polisi terdekat karena di anggap melanggar aturan, mengadakan kerumunan saat wabah corona.
Albara bergegas ke kantor polisi terdekat menanyakan keadaan pak tua Adzriel. Kembali Albara harus kecewa menurut pak polisi yang menangani kasusnya, pak tua Adzriel telah di bebaskan setelah membuat perjanjian tidak akan melakukan hal serupa lagi dan membayar denda lima juta rupiah.
Benar juga kata pak tua Adzriel corona tidak banyak mematikan tapi rasa takut akan corona biasa membuat pemerintah mematikan jalan hidup rakyatnya. Albara terus berkeliling menelusuri sudut kota bertanya tentang pak tua Adzriel, namun hingga malam hari Albara tidak mendengar kabar keberadaannya.
Hari makin larut tapi yang di cari Albara tak kunjung ketemu. Albara sangat penasaran mengenai siapa sebenarnya pak tua Adzriel, bagaimana hubungan sebenarnya dengan kakeknya sultan Murod?. Albara ingin sekali bicara dengan pak tua Adzriel menanyakan identitas sebenernya. Berpikir demikian Albara makin bertekad untuk menjumpai pak tua Adzriel.
Albara akhirnya menyerah dan kembali ke penginapan, karena sangat lelah Albara segera mandi dan istirahat. Besok pagi dia harus minta bantuan bang Rolan untuk mencari pak tua Adzriel pikirnya.
****
Pagi pagi sekali Albara sudah cek out dari penginapan untuk mencari keberadaan pak tua Adzriel. Albara segera menghubungi Rolan untuk minta bantuan, dengan melakukan panggilan wa handphone Albara tersambung dengan Rolan.
"Hallo dek Bara, bagaimana kabarnya?" tanya Rolan di telepon.
"Kabar baik bang, apa abang sudah di Jakarta?" tanya Albara.
"Sudah dek bara, kamu bagaimana apa masih di jakarta?" Rolan balik bertanya.
"Masih bang.. ni juga baru mau ketemu bang Rolan" kata Albara.
"lho kok baru nelpon sekarang, kenapa tidak dari kemaren, ayo share di mana lokasi dek Albara biar saya atur penjemputan" kata Rolan.
"Gak usah bang, saya juga sedang mencari seseorang jadi tolong abang aja yang share lokasi di mana saya harus bertemu abang Rolan." kata Albara.
Dengan menyewa taxi Albara segera menuju lokasi yang di berikan bang Rolan. tidak susah bagi sopir taxi menemukan tempat yang di tunjukan Albara. Untung bagi mereka saat betangkat, dimana hari masih terlalu pagi sehingga tidak terjebak kemacetan lalulintas, namun tetap saja mereka harus menempuh waktu lebih kurang satu jam.
Albara hampir tak berkedip menatap gedung 50 tingkat di depannya di atas gedung terdapat tulisan ALBARA GRUP, Sebuah gedung megah yang terletak di wilayah Jakarta Utara. Penampilan fisik gedung yang menawan ditata supaya mampu menjadi faktor penentu kesuksesan dan kebahagiaan para karyawan yang bekerja di sana. Pantas saja kalau orang tuanya di jululuki pemilik cincin pintak pinto guman Albara.
Tak hanya ditata dengan gaya modern yang apik, gedung perkantoran ini dirancang dengan konsep ramah lingkungan dan tematik. Fasilitas lengkap seperti ruang kerja terbuka, furnitur ergonomis, konektivitas internet supercepat, serta ketersediaan sarana relaksasi dalam gedung pun membawa atmosfir baru untuk mendukung budaya kerja yang sehat.
__ADS_1
Jakarta rupanya pusat segalanya dan sangat di minati sebagai lokasi perkantoran ideal bagi banyak perusahaan, baik lokal maupun internasional, yang ingin mengembangkan bisnisnya, termasuk ayah Albara Abu Daud telah membeli sebuah gedung 50 tingkat yang berfungsi sebagai perkantoran juga sebai gudang penyimpanan barang dari luar negri maupun barang yang akan di kirim ke luar negri.